Jokowi Akan Jamu Presiden Korsel, Isu Korut Jadi Bahasan Utama?

Presiden Joko Widodo memaparkan sejumlah pencapaian dan rencana program kerja saat wawancara khusus dengan LKBN Antara jelang Peringatan Hari Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/8). Presiden juga memaparkan sejumlah permasalahan antara lain bidang ekonomi, sosial, politik, pembangunan, pendidikan, daerah perbatasan hingga kemaritiman. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/Spt/15

KLIKBERITA.NET -Presiden Indonesia Joko Widodo akan menyambut kedatangan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada 8 – 10 November mendatang. Kedua pemimpin negara tersebut akan membahas sejumlah isu penting, mulai dari bilateral, kerja sama ekonomi, dan tak lupa soal Korea Utara.

Menurut Kementerian Luar Negeri RI, pertemuan itu juga merupakan bentuk upaya Presiden Korsel yang hendak mendulang dukungan dari pemerintah Indonesia dalam sejumlah isu politik dan regional di Asia, termasuk salah satunya Korea Utara.

“Isu Semenanjung Korea dan Korea Utara merupakan salah satu isu yang akan dibahas dan itu sudah terkonfirmasi, mengingat isu itu sangat penting bagi Korea Selatan dan juga Indonesia,” jelas Direktur Asia Timur dan Pasifik Kemlu RI, Edi Yusup di Jakarta, Kamis (2/11/2017).

Menurut Edi, Presiden Korsel mungkin akan memaparkan kepada pemerintah Indonesia tentang langkah, sikap, dan kebijakannya yang baru dalam meghadapi isu Korea Utara.

“Presiden Moon berkomitmen untuk menangani isu Korut lewat mekanisme penjatuhan sanksi, dialog, dan bantuan kemanusiaan. Mungkin itu yang akan ditekankan dan disampaikan ke Jokowi nanti,” tambahnya.

Selain itu, Edi memaparkan bahwa pertemuan bilateral antara Jokowi dan Moon Jae-in akan menghasilkan sebuah joint statement yang merangkum kerja sama dan komitmen bilateral serta ekonomi kedua negara. Tak luput salah satunya, penanganan isu Korea Utara.

“Ya nanti akan ada joint statement, dan isu Korut itu akan jadi salah satu poin kesepakatan bersama RI – Korsel tersebut. Tidak banyak satu alinea mungkin,” papar Edi. “Tentang detailnya, itu masih dalam tahap pembahasan.”

Sang Direktur Asia Timur-Pasifik itu turut memprediksi, ada potensi bahwa Indonesia dapat menjadi juru damai soal konflik di Semenanjung Korea.

“Saya kira Indonesia senantiasa terus membuka diri guna menjadi mediator. Apalagi mengingat kontribusi serta peran Indonesia dalam sejumlah isu regional terkini, di ASEAN, dan Asia Regional Forum,” kata Edi.

“Ditambah lagi, kita (RI) punya hubungan historis kan dengan Korut. Namun, mungkin pembahasan nanti belum banyak menuju ke sana,” tambahnya.

Akan Teken 3 Memorandum

Direktur Asia Timur dan Pasifik Edi Yusup melanjutkan, pertemuan bilateral Jokowi – Moon Jae-in akan menghasilkan sejumlah kerja sama dalam berbagai bidang.

“Rencananya ada tiga memorandum yang mudah-mudahan akan ditandatangani, yakni soal industri, perhubungan, dan kesehatan. Saat ini memorandum itu masih dalam tahap finalisasi. Pekan ini akan bisa disepakati. Mudah-mudahan pada pertemuan akan bisa ditandatangani,” papar Edi.

Rencananya, memorandum dalam bidang industri akan menjajaki upaya Korsel yang ingin membantu proses percepatan industrialisasi Indonesia.

“Jadi akan ada dialog dalam bidang industri baja, industri petrokimia, dan otomotif. Pertemuan bilateral Jokowi – Moon Jae-in akan jadi langkah awal guna dialog yang lebih intensif antara RI – Korsel terhadap ketiga bidang tersebut,” papar Edi.

Sementara itu, memorandum dalam bidang perhubungan akan menjajaki rencana Korsel untuk membantu pengembangan transportasi kedua negara serta berbagai kebijakan dan kesepakatan teknis. Penjajakan itu termasuk tentang rencana penerbangan langsung dari Seoul ke Manado dan Lombok guna meningkatkan angka turis Negeri Ginseng ke Tanah Air

Adapun, memorandum dalam bidang kesehatan akan menjajaki rencana kerja sama Negeri Ginseng dan Tanah Air dalam pertukaran teknologi, fasilitas, dan pelatihan aspek medis serta obat-obatan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*