
Dari Pujian Menjadi Kepedulian: HKBP Jabartengdiy Bangun Harapan bagi Korban Bencana Tapanuli
Bandung, 2 Februari 2026 — Saat banyak orang memilih menonton dari kejauhan, HKBP Distrik XVIII Jabartengdiy memilih untuk hadir. Melalui kegiatan Pujian dan Doa Pemulihan untuk Tapanuli, gereja menjadikan doa dan pujian sebagai bahasa kepedulian, menyatukan iman dan empati bagi para korban bencana alam di Tapanuli.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Prof. Dr. P. A. Surjadi, M.A., Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Sabtu (31/1/2026), ini diikuti ratusan jemaat dari berbagai gereja HKBP di Bandung dan Cimahi. Sejak sore hingga malam hari, ruang ibadah berubah menjadi ruang perjumpaan batin—tempat duka dirasakan bersama dan harapan diteguhkan.
Ketua Umum Ormas Parkindo, Lukman Doloksaribu, menilai kegiatan tersebut sebagai contoh nyata bagaimana gereja merespons krisis kemanusiaan dengan cara yang bermakna.
“Di sini kita melihat iman yang hidup. Doa dan pujian tidak berhenti di altar, tetapi menjelma menjadi empati yang dirasakan bersama,” ujar Lukman.

Menurutnya, kekuatan acara ini terletak pada kebersamaan. Ketika ratusan orang berdoa dan bernyanyi dalam satu hati, pesan penguatan yang sampai kepada para korban menjadi jauh lebih kuat daripada sekadar pernyataan simpati.
“Gereja tidak sedang berteori tentang kasih. Gereja sedang mempraktikkannya,” katanya.
Iman yang Menggerakkan
Rangkaian acara diawali ibadah kebaktian pukul 16.00 WIB. Liturgi dipimpin oleh Pdt. Agus Victor Sidauruk, khotbah disampaikan oleh Pdt. Mangido Tua Pandiangan, dan doa syafaat dibawakan oleh Pdt. Henry H. P. Butar-butar.
Dalam khotbah yang berangkat dari Matius 25:40 dan 45, jemaat diajak memahami bahwa tindakan kasih kepada mereka yang menderita merupakan inti dari iman itu sendiri. Pesan tersebut menjadi benang merah seluruh rangkaian kegiatan.
Setelah ibadah, pujian dilantunkan oleh berbagai paduan suara dan solois lintas jemaat. Harmoni yang tercipta bukan sekadar musikal, tetapi menjadi doa kolektif yang menguatkan. Lagu penutup Kau Takkan Sendiri yang dibawakan koor gabungan menegaskan pesan utama acara: para korban bencana tidak ditinggalkan.
Kepemimpinan yang Hadir
Dalam kesempatan itu, Lukman juga menyampaikan apresiasi kepada Praeses HKBP Distrik XVIII Jabartengdiy, Pdt. Nekson Simanjuntak, S.Th., M.Th., atas keterlibatan langsungnya dalam kegiatan tersebut.
“Kehadiran Praeses sejak awal hingga menutup acara dengan doa menunjukkan kepemimpinan yang hadir bersama umat. Ini bukan sekadar jabatan, tetapi panggilan pelayanan,” ujarnya.
Menurut Lukman, kepemimpinan seperti inilah yang membuat gereja tetap relevan di tengah persoalan bangsa—pemimpin yang tidak berjarak, tetapi berjalan bersama umat dalam doa dan kepedulian.
Acara yang berlangsung hampir lima jam ini dipandu oleh MC Thomson Hutajulu dan Nara br Nababan, serta ditutup dengan doa oleh Praeses HKBP Distrik XVIII Jabartengdiy.
Reporter: Kefas Hervin



