
Ketika Elusan Tidak Sekadar Merayakan: 103 Tahun GGP dan Sebuah Pesan yang Tidak Diucapkan, Tapi Terasa
Minahasa Selatan, Sulawesi Utara — 30 Maret 2026
Perayaan biasanya selesai ketika acara berakhir.
Namun di Elusan, ada sesuatu yang justru mulai setelah itu.
Minggu, 29 Maret 2026, Jemaat GGP Yerusalem Elusan memperingati HUT ke-103 Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) sekaligus 54 tahun perjalanan jemaat lokal. Tetapi suasana yang tercipta bukan hanya tentang sukacita—melainkan tentang kesadaran.
Kesadaran bahwa gereja bukan hanya berdiri.
Gereja harus terus dijaga, diteruskan, dan diarahkan.
Di bawah penggembalaan Pdt. Oktavianus Worung, ibadah terasa hidup—tidak hanya dalam liturgi, tetapi dalam makna. Setiap bagian seperti menyatu dalam satu pesan besar: gereja tidak boleh berhenti pada apa yang sudah ada.
Peresmian Pastori GGP Yerusalem Elusan menjadi simbol yang tidak perlu banyak penjelasan. Ia berdiri sebagai bukti bahwa iman yang sejati selalu melahirkan tindakan.
Peresmian dilakukan oleh Pdt. Donal Kapugu, S.Th, Ketua Departemen Pemuda Pusat GGP, mewakili Ketua Umum GGP Pdt. Dicky Suwarta, M.Th.
Dalam sambutannya, ia tidak berbicara panjang. Tetapi satu kalimatnya cukup menggambarkan semuanya:
“Apa yang dibangun dengan hati, akan bertahan. Apa yang tidak, hanya akan terlihat kuat—sementara.”
Ia kemudian menegaskan tiga dasar yang sederhana namun menentukan:
- Totalitas dalam bekerja
- Ketulusan dalam melayani
- Kebersamaan dalam berjalan
Karena baginya, kekuatan gereja bukan pada apa yang terlihat, tetapi pada apa yang menghidupi.
Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Holly Rombot, M.Th membawa suasana semakin dalam. Dengan tema “Tak Berkesudahan Kasih Setia Tuhan”, ia tidak hanya menguatkan, tetapi juga menantang.
“Kasih Tuhan tidak pernah habis. Tetapi apakah hidup kita sudah menjadi cerminan dari kasih itu?”
Ia mengajak jemaat untuk keluar dari iman yang pasif menuju iman yang hidup:
- Mengingat Tuhan dalam setiap keadaan
- Menjadi pribadi yang berdampak
- Hidup sebagai berkat
Kehadiran tokoh gereja dan pemerintah—Pdt. Dr. Melky Langi, Pdt. Jelini Watuseke, M.Pdk, serta jajaran Pemerintah Desa Elusan—menjadi tanda bahwa gereja tidak berjalan sendiri, tetapi bersama.
Hukum Tua Charles Turangan, SE menutup dengan kalimat yang sederhana namun kuat:
“Kalau kita bersama, kita tidak akan gagal.”
Namun di antara semua yang disampaikan, ada satu bagian yang terasa paling dalam—datang dari Pdt. Oktavianus Worung.
Ia tidak berbicara dengan tekanan. Tidak dengan nada tinggi.
Tetapi setiap kalimatnya seperti mengunci arah.
Ia menegaskan bahwa gereja harus tetap berdiri dalam tiga pilar:
- Marturia
- Koinonia
- Diakonia
Dan berjalan dalam satu visi melalui Threefold dan Exceed.
Namun yang paling terasa bukanlah struktur pesannya—melainkan makna di baliknya:
“Apa yang sudah Tuhan kerjakan, jangan dihentikan. Apa yang sudah berjalan, jangan dilepaskan.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi cukup untuk menjelaskan segalanya.
Ia menambahkan:
“Kita tidak dipanggil untuk memulai ulang, tetapi untuk melanjutkan dengan setia apa yang sudah ada.”
Tidak ada penekanan berlebihan. Tidak ada pernyataan frontal.
Namun arah yang disampaikan begitu jelas.
Dengan penuh keyakinan, ia menutup:
“Kiranya semua yang telah dikerjakan terus berlanjut dan semakin berdampak. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Salam Threefold.”
Dan dari Elusan, satu hal menjadi nyata:
gereja yang bertahan bukanlah gereja yang paling besar—tetapi gereja yang tahu apa yang harus dijaga, dan siapa yang mau melanjutkan.
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi



