KPN PGLII 2026 Awali Sesi dengan Penekanan Pelayanan Holistik bagi Jemaat
Bandung – Konferensi Penginjil Nasional (KPN) PGLII 2026 memulai rangkaian acaranya dengan sesi workshop yang menitikberatkan pada penguatan pelayanan gereja melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. Materi bertajuk Christian Entrepreneurship: Pemberdayaan Ekonomi Jemaat yang disampaikan Veronica Colondam, M.Sc., berlangsung pada Rabu (11/2/2026) pukul 10.20–12.00 WIB dan diikuti lebih dari 300 hamba Tuhan dari berbagai daerah di Indonesia.
Sesi pembuka ini menjadi bagian dari agenda strategis konferensi untuk memperluas wawasan para pelayan Tuhan dalam menghadapi dinamika pelayanan di tengah perubahan sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam pemaparannya, Veronica menjelaskan bahwa pelayanan gereja masa kini membutuhkan pendekatan yang integratif, tidak hanya membangun aspek spiritual, tetapi juga memperhatikan dimensi sosial dan ekonomi jemaat.
Ia menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi bukanlah pergeseran fokus pelayanan, melainkan penguatan terhadap misi gereja agar semakin relevan dengan kebutuhan umat. Menurutnya, jemaat yang memiliki ketahanan ekonomi cenderung lebih stabil dalam kehidupan keluarga serta memiliki kapasitas lebih besar untuk terlibat aktif dalam pelayanan dan kegiatan sosial.
Pengalaman panjang Veronica dalam bidang pemberdayaan masyarakat melalui Yayasan YCAB menjadi referensi dalam menyampaikan materi. Ia memaparkan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan umumnya dibangun melalui kombinasi pembinaan karakter, pendidikan, serta pengembangan keterampilan usaha yang dikelola secara terarah dan konsisten.
Di sela-sela kegiatan, sejumlah peserta yang ditemui awak media memberikan tanggapan terhadap materi yang disampaikan.
Pdt. Djajang Buntoro, Ketua PGLII Kota Bekasi sekaligus Gembala Sidang GBI Hope Grand Galaxy Kota Bekasi, menilai bahwa materi tersebut memberikan sudut pandang yang memperkaya arah pelayanan gereja.
“Pelayanan gereja perlu melihat kebutuhan jemaat secara menyeluruh. Ketika kesejahteraan keluarga terjaga, pelayanan rohani pun dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Sementara itu, Pdt. Dicky Suwarta, M.Th, Ketua Umum Gereja Gerakan Pentakosta yang juga Bendahara Panitia Pelaksana KPN 2026, menyampaikan bahwa konferensi ini merupakan momentum konsolidasi pelayanan penginjilan di lingkungan gereja-gereja yang tergabung dalam PGLII.
“KPN 2026 menjadi wadah untuk memperkuat sinergi pelayanan. Gereja perlu memiliki kesiapan dalam menghadapi percepatan perubahan dunia, sehingga pelayanan tetap relevan dan berkelanjutan,” katanya.
Peserta dari kalangan generasi muda, Aris Tanto asal Bandung, juga menyampaikan bahwa materi tersebut memberikan perspektif baru mengenai bentuk keterlibatan anak muda dalam pelayanan.
“Pelayanan tidak terbatas pada satu bentuk saja. Ada banyak cara untuk berkontribusi, termasuk melalui pengembangan usaha yang berdampak sosial,” ungkapnya.
Secara umum, materi pembuka KPN PGLII 2026 menjadi bagian penting dalam memperkaya pemahaman pelayanan yang adaptif dan kontekstual. Pendekatan yang mengintegrasikan nilai spiritual dengan pemberdayaan sosial ekonomi dinilai mampu memperluas kontribusi gereja dalam membangun masyarakat yang berdaya dan memiliki ketahanan hidup yang lebih baik.
Konferensi ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran dan penguatan komitmen bagi para pelayan Tuhan untuk terus mengembangkan pelayanan yang relevan dengan kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan esensi utama penginjilan.

