Oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Aku jarang menyebut namamu, Ayah.
Bukan karena lupa,
tetapi karena setiap kali menyebutnya,
dadaku seperti rumah tua
yang pintunya terbuka sendiri.
Aku memanggilmu dalam banyak cara:
dalam kejujuran kecil yang kupilih,
dalam keputusan berat yang tak bisa kutunda,
dalam diam yang kupelajari
saat kata-kata hanya akan melukai.
Ayah,
kau tidak hadir sebagai cerita panjang,
kau hadir sebagai arah.
Seperti kompas yang tak pernah berkata apa-apa,
namun selalu menunjuk pulang.
Aku sering berdiri di persimpangan hidup
dan ingin bertanya:
kalau Ayah di sini,
langkah mana yang akan kau pilih?
Lalu aku terdiam—
karena jawabannya selalu sama:
yang paling sunyi,
yang paling jujur,
yang paling berat.
Ada hari-hari ketika rindu ini tidak menangis,
ia hanya duduk.
Menjadi bayangan di dinding,
menjadi kursi kosong yang tetap kutinggalkan
agar kau selalu punya tempat
jika suatu saat ingin kembali—
meski aku tahu,
kau tak perlu kembali
untuk tetap tinggal.
Kini aku mengerti, Ayah.
Engkau tidak pergi.
Engkau berpindah tempat:
dari sosok,
menjadi nilai.
Dari suara,
menjadi nurani.
Dan ketika aku gagal,
aku tahu—
yang paling kecewa bukan dunia,
tetapi namamu
yang kupanggul di belakang langkahku.
Jika kelak aku juga dipanggil pulang,
aku ingin pergi dengan cara sepertimu:
tanpa gaduh,
tanpa banyak pesan,
tetapi meninggalkan cukup cahaya
agar yang kutinggalkan
tidak berjalan dalam gelap.
Ayah,
aku tidak selalu berhasil menjadi sepertimu.
Tetapi setiap hari,
aku berusaha tidak mengkhianati
apa yang kau ajarkan
tanpa pernah mengajarkannya.
Dan mungkin,
itulah cinta paling dewasa
antara seorang anak
dan ayahnya:
tidak saling memanggil,
namun saling menjaga
dalam diam
sampai akhir.

