
Anggaran Terserap 95 Persen, DPRD Kota Bogor Justru Bertanya: Hasilnya di Mana?
Kota Bogor – Tingginya serapan anggaran Pemerintah Kota Bogor tahun 2025 tidak serta-merta membuat DPRD puas. Dalam pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ), Panitia Khusus (Pansus) justru mengajukan pertanyaan mendasar: apakah belanja besar itu sudah benar-benar dirasakan masyarakat?
Rapat kerja bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Denny Mulyadi, Selasa (7/4/2026), menjadi titik awal evaluasi serius terhadap kinerja pemerintah daerah.
Dipimpin Ketua Pansus Ahmad Aswandi, forum tersebut berlangsung dinamis dengan sejumlah kritik yang langsung menyasar efektivitas program.
Kinerja Naik, Tapi Belum Menjawab Semua
Dalam laporan yang disampaikan, Pemerintah Kota Bogor mencatat sejumlah capaian:
- Pertumbuhan ekonomi: 5,45 persen
- IPM: 79,75
- Kemiskinan dan pengangguran menurun
Namun, DPRD menilai capaian tersebut belum cukup menjawab berbagai persoalan yang masih dirasakan masyarakat.
“Kalau indikator naik, tapi keluhan publik masih sama, berarti ada yang belum tepat,” menjadi salah satu sorotan dalam rapat.
Masalah Lama Masih Bertahan
Pansus menilai, hingga saat ini sejumlah persoalan klasik belum menunjukkan perubahan signifikan, di antaranya:
- Kemacetan di sejumlah titik strategis
- Layanan kesehatan yang belum merata
- Infrastruktur yang belum optimal
Hal ini menjadi dasar DPRD untuk mempertanyakan arah kebijakan dan prioritas pembangunan.
Serapan Tinggi Bukan Jaminan Berhasil
Realisasi anggaran yang menembus lebih dari 95 persen justru dianggap belum cukup jika tidak diiringi dampak nyata.
DPRD menegaskan, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa besar anggaran terserap, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Jangan sampai angka serapan tinggi hanya jadi kebanggaan, tapi tidak berbanding lurus dengan perubahan di lapangan,” tegas anggota Pansus.
DPRD Siapkan Evaluasi ‘Keras’
Pembahasan ini menjadi tahap awal sebelum DPRD Kota Bogor mengeluarkan rekomendasi resmi terhadap LKPJ 2025.
Pansus memastikan evaluasi yang disusun akan lebih tajam dan fokus pada perbaikan nyata, bukan sekadar formalitas tahunan.
Jurnalis: Atma
Editor: Romo
Publisher: Tim Redaksi



