Dipanggil untuk Menulis Kebenaran: Panggilan Tuhan bagi Jurnalis Kristen
Ditulis oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Bogor – Di ruang redaksi yang bising, di lapangan yang penuh tekanan, dan di balik tenggat waktu yang tidak pernah menunggu, panggilan Tuhan bagi jurnalis Kristen sering kali hadir dalam kesunyian. Ia tidak selalu datang dalam bentuk penghargaan atau sorotan publik, melainkan sebagai dorongan batin untuk setia pada kebenaran, sekalipun kesetiaan itu menuntut harga yang mahal.
“Siapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
(Lukas 16:10)
Menjadi jurnalis Kristen bukan sekadar memilih pekerjaan, melainkan menjawab panggilan. Tuhan memanggil sebagian orang untuk menjadi saksi melalui pena dan kata—menulis dengan jujur, meliput dengan adil, dan menyunting dengan hati nurani. Di saat fakta berhadapan dengan kepentingan, panggilan ini menuntut keberanian untuk tetap berdiri di pihak kebenaran.
“Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
(Yohanes 8:32)
Tidak ada panggilan tanpa proses. Berita yang ditolak, liputan yang dipotong, narasumber yang menutup diri, hingga kritik publik—semuanya menjadi alat Tuhan untuk membentuk ketekunan, kesabaran, dan kerendahan hati. Tuhan jarang memanggil orang yang sudah siap; Ia memanggil, lalu memprosesnya.
“Ujian terhadap imanmu menghasilkan ketekunan.”
(Yakobus 1:3)
Dunia jurnalistik penuh dengan godaan: sensasi demi klik, judul bombastis, atau tekanan dari kekuasaan dan modal. Di titik inilah panggilan Tuhan diuji. Jurnalis Kristen dipanggil untuk menyangkal diri, memilih integritas daripada popularitas, dan kebenaran daripada keuntungan sesaat.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya.”
(Lukas 9:23)
Tulisan jurnalis Kristen dipanggil untuk menerangi, bukan membakar; mengoreksi, bukan menghakimi; membela yang lemah, bukan memperkuat yang menindas. Ketika berita ditulis dengan kebenaran dan kasih, tulisan itu menjadi kesaksian yang hidup di tengah masyarakat.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang.”
(Matius 5:16)
Panggilan Tuhan bagi jurnalis Kristen mungkin tidak selalu tampak heroik. Namun dalam setiap verifikasi yang jujur, setiap kalimat yang ditulis dengan tanggung jawab, dan setiap keputusan etis yang diambil, Tuhan sedang bekerja. Pena yang taat di tangan-Nya dapat menjadi alat pemulihan bagi banyak orang.
Tetaplah meliput dengan iman, menulis dengan hikmat, dan berdiri teguh dalam kebenaran.
Tuhan yang memanggil, Ia juga yang akan memampukan.
— Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

