KlikberitaNews Ada saat-saat ketika hidup tidak memberi kita pilihan selain berhenti.
Bukan karena kita ingin, tetapi karena duka memaksa kita diam.
Seseorang yang kemarin masih kita kenal, masih kita sapa, masih menjadi bagian dari keseharian—hari ini telah tiada.
Di titik inilah kita menyadari bahwa hidup tidak pernah benar-benar kita kendalikan.
Firman Tuhan berkata:
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
(Mazmur 90:12)
Duka membuka mata kita terhadap kenyataan yang sering kita sangkal:
hidup ini singkat, rapuh, dan tidak bisa ditunda.
Apa yang kita anggap “nanti”, bisa jadi tidak pernah datang.
“Karena apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”
(Yakobus 4:14)
Namun ironisnya, justru karena merasa hidup masih panjang, kita sering lalai.
Lalai menyapa.
Lalai berdamai.
Lalai menjaga tali silaturahmi.
Kita menunda permintaan maaf.
Menunda kepedulian.
Menunda kasih.
Kita berkata dalam hati, “Masih ada waktu.”
Padahal duka mengajarkan satu kebenaran pahit: tidak semua hubungan diberi kesempatan kedua.
Karena itu firman Tuhan mengingatkan dengan tegas:
“Selagi ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang.”
(Galatia 6:10)
Menghargai kehidupan bukan hanya soal menjaga napas sendiri, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain selama mereka masih ada.
Tentang hadir dengan sungguh-sungguh.
Tentang mendengar dengan hati.
Tentang mengasihi tanpa menunggu sempurna.
Yesus tidak berkata, kasihilah jika ada waktu.
Ia berkata:
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”
(Yohanes 15:12)
Kasih tidak menunda.
Kasih tidak menunggu kondisi ideal.
Kasih bekerja sekarang.
Duka juga menegur kita secara pribadi.
Bahwa tubuh dan jiwa kita bukan mesin yang bisa dipaksa terus berjalan.
Bahwa melayani, bekerja, dan berjuang tanpa henti tetapi melupakan diri sendiri, perlahan-lahan akan mengosongkan kita.
Tuhan tidak memanggil kita untuk habis, tetapi untuk setia.
“Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
(Matius 11:28)
Berhenti sejenak bukan tanda menyerah.
Beristirahat bukan bentuk ketidaksetiaan.
Itu justru cara Tuhan menjaga kita agar tetap utuh—agar kita masih mampu mengasihi, mengampuni, dan menjalin silaturahmi dengan tulus.
Menjaga silaturahmi adalah wujud iman yang nyata.
Bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam sikap hidup.
“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”
(Roma 12:10)
Suatu hari nanti, ketika hidup sampai pada akhirnya,
yang kita rindukan bukanlah kesibukan, jabatan, atau pencapaian.
Yang tertinggal adalah:
apakah kita pernah hadir?
apakah kita pernah mengasihi?
apakah kita pernah menjaga hubungan dengan sungguh?
Karena kasihlah yang tinggal.
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”
(1 Korintus 13:13)
Kiranya setiap duka tidak hanya menghadirkan air mata,
tetapi melahirkan kesadaran baru:
untuk lebih menghargai hidup,
lebih menjaga tali silaturahmi,
dan lebih berani mengasihi—sekarang, sebelum terlambat.
Oleh Kefas Hervin Devananda

