Perjalanan Iman Romo Kefas: Cerita Sederhana tentang Iman, Keluarga, dan Kesetiaan
Dituturkan langsung oleh narasumber kepada awak media Klikberita
Perjalanan iman tidak selalu dimulai dari tempat yang besar. Kadang ia lahir pelan-pelan, dari rumah sederhana, dari dapur kecil, dari meja makan yang apa adanya, dan dari seorang ibu yang memilih tetap percaya di saat hidup tidak memberi banyak pilihan. Itulah kisah yang disampaikan , yang kini dikenal dengan panggilan Romo Kefas.
Dengan tutur kata yang tenang, Romo Kefas membuka ceritanya. “Saya anak pertama dari tujuh bersaudara,” katanya. Sejak kecil, ia belajar bahwa menjadi anak sulung bukan soal lebih hebat, tetapi soal belajar bertanggung jawab lebih dulu—menjaga adik-adik dan tetap berdiri ketika keluarga diuji oleh keadaan.
Perubahan besar dalam hidupnya terjadi saat ayahnya, Yap Pin Fong (A. Devananda), meninggal dunia pada 14 Februari 1986. Duka itu datang terlalu cepat. Tidak lama setelah itu, ibunya, Tan Loen Tjie (Maria), membawa seluruh anak-anak pindah ke Bekasi.
“Kami pindah bukan dengan rencana besar,” kenangnya. “Kami pindah supaya bisa bertahan hidup dan tetap bersama.”
Sebagai anak sulung, Romo Kefas mengaku belajar dewasa lebih cepat. Bukan karena siap, melainkan karena keadaan menuntutnya untuk ikut menopang keluarga—menenangkan adik-adik dan menguatkan sang ibu.
Di tengah beratnya hidup sebagai orang tua tunggal, sang ibu lebih dulu mengenal Tuhan Yesus Kristus, bertobat, dan menjadi pengikut Kristus. Iman itu tidak hadir lewat kata-kata panjang, tetapi lewat sikap hidup.
“Doanya sederhana, tapi konsisten,” ujar Romo Kefas. “Dari situ saya melihat perubahan mama nyata. Ia lebih tenang, lebih kuat.”
Tanpa disadari, dari situlah benih iman mulai tumbuh dalam dirinya.
Untuk menghidupi tujuh anak, sang ibu berdagang nasi uduk di depan rumah. Setiap pagi ia memasak dan berharap dagangan habis. Namun sering kali, nasi uduk itu tidak habis terjual.
“Kalau tidak habis, itulah yang kami makan bersama,” katanya. Tidak ada keluhan. Hanya rasa syukur. Dari meja makan sederhana itu, ia belajar bahwa cukup bukan soal banyaknya, tetapi soal hati yang mau bersyukur.
Karena satu dan lain hal, ibunya kemudian beralih berdagang risol dan lupis. Ada hari-hari sepi, ada juga momen tertentu ketika pesanan datang cukup banyak. Saat itulah dapur rumah menjadi ramai.
Adik yang lebih besar membantu menyiapkan pesanan, yang lain ikut mengemas atau mengantar. Dari situlah mereka belajar bekerja bersama sebagai keluarga.
Romo Kefas menegaskan bahwa hingga kini, tujuh bersaudara itu masih terhubung erat. Menurutnya, itu bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena nilai yang ditanamkan sang ibu sejak kecil.
Adik-adiknya adalah:
- Yositha Devi Devananda,
- Yovitha Shatya Devananda,
- Yoriki Devananda,
- Yohanes,
- Yesica Natalia,
- dan Ricky Richardo Susanto.
“Kami berbeda-beda,” ujarnya, “tapi mama selalu mengajarkan satu hal: jangan pernah berhenti jadi keluarga.”
Melihat iman ibunya yang konsisten, Romo Kefas mulai bertanya tentang hidup dan maknanya. Di Bekasi, melalui persekutuan, pembacaan Alkitab, dan doa-doa sederhana, ia mengenal Tuhan Yesus Kristus secara pribadi.
“Saya tidak mencari agama baru,” katanya. “Saya mencari jawaban.”
Pencarian itu membawanya pada keputusan penting pada tahun 1991. Ia dibaptis dan menambahkan nama ‘Kefas’ di depan namanya—sebagai tanda komitmen iman dan arah hidup yang baru.
Seiring waktu, ia merasa perlu memperlengkapi diri. Ia kemudian menempuh pendidikan teologi, bukan demi gelar, tetapi demi tanggung jawab pelayanan:
- Sarjana Teologi (S.Th) pada 2009–2012
- Magister Pendidikan Kristen (M.Pd.K) pada 2014–2016
“Belajar itu bagian dari ketaatan,” ujarnya singkat.
Kini, Tuhan mempercayakan kepadanya sebuah keluarga kecil: istri, Tri Satini, dan anak mereka, Vicken Highlanders. Bagi Romo Kefas, keluarga bukan sekadar pendamping pelayanan, melainkan tempat iman dijalani setiap hari.
Ketika ibunya dipanggil Tuhan pada 10 Januari 2023, duka itu terasa dalam. Namun nilai-nilai yang ia tanamkan—iman, kerja keras, dan persaudaraan—tetap hidup dan dijaga oleh ketujuh anaknya.
Menutup ceritanya, Romo Kefas berkata dengan sederhana:
“Saya belajar satu hal: Tuhan setia, bahkan dalam hidup yang kelihatannya biasa.”
Ia lalu mengutip firman yang menjadi pegangan hidupnya:
“Tetapi TUHAN adalah setia, Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu.”
(2 Tesalonika 3:3)
Bagi Romo Kefas, perjalanan iman bukan tentang hal besar yang terlihat,
melainkan tentang kesetiaan Tuhan yang bekerja pelan-pelan melalui kehidupan yang sederhana.

