Isra Mi’raj 2026: Momentum Merawat Demokrasi dan Persaudaraan di Tengah Perbedaan
Bogor, 16 Januari 2026 – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah / 2026 M tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa spiritual, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya merawat demokrasi dan persaudaraan di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Romo Kefas, sapaan bagi Ev. Kefas Hervin Devananda, S.Th., M.Pd.K, mantan calon legislatif DPRD Provinsi Jawa Barat Daerah Pemilihan 8, dalam refleksi kebangsaannya menyambut peringatan Isra Mi’raj tahun ini.
Menurut Romo Kefas, nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa Isra Mi’raj memiliki relevansi kuat dengan kehidupan demokrasi, terutama dalam hal kejujuran, tanggung jawab moral, serta sikap adil dalam memperlakukan sesama warga bangsa.
“Demokrasi yang sehat lahir dari moral yang kuat. Isra Mi’raj mengajarkan kedisiplinan, integritas, dan kesadaran etis, nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berdemokrasi hari ini,” ujar Romo Kefas, Jumat (16/1/2026).
Ia menilai bahwa demokrasi Indonesia hanya akan tumbuh kokoh jika dibangun di atas semangat kebhinekaan, saling menghormati perbedaan, serta menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Menurutnya, perbedaan pandangan politik, keyakinan, maupun latar belakang sosial seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling meniadakan.
Romo Kefas juga menyoroti pentingnya peran masyarakat dalam menjaga iklim demokrasi yang sehat, damai, dan inklusif, terutama di tengah derasnya polarisasi dan politik identitas yang kerap memecah belah.
“Demokrasi bukan soal menang atau kalah semata, tetapi soal bagaimana kita tetap saling menghargai sebagai sesama anak bangsa. Spirit keagamaan seharusnya memperhalus cara kita berbeda, bukan mempertajam konflik,” tegasnya.
Ia mengajak generasi muda untuk menjadikan momentum Isra Mi’raj sebagai ruang refleksi bersama, bahwa kebebasan berpendapat harus dibarengi dengan etika, empati, dan tanggung jawab sosial demi masa depan demokrasi Indonesia.
Menutup pernyataannya, Romo Kefas berharap peringatan Isra Mi’raj 2026 mampu menjadi pengingat kolektif bahwa demokrasi yang berkeadaban hanya bisa tumbuh jika dirawat dengan nilai spiritual, kemanusiaan, dan semangat persatuan.
“Perbedaan adalah keniscayaan, persaudaraan adalah pilihan. Dari nilai-nilai itulah demokrasi Indonesia seharusnya dibangun,” pungkasnya.

