Dari Cileungsi, Natal Dayak Menggema: Pdt. Leo Fransisco Serukan Persaudaraan di Tanah Rantau

Dari Cileungsi, Natal Dayak Menggema: Pdt. Leo Fransisco Serukan Persaudaraan di Tanah Rantau

Spread the love

Dari Cileungsi, Natal Dayak Menggema: Pdt. Leo Fransisco Serukan Persaudaraan di Tanah Rantau

Bogor,24 Januari 2026  — Di tengah kesibukan hidup kota dan jarak yang memisahkan dari tanah leluhur, ratusan warga Dayak di wilayah Bogor dan sekitarnya memilih berkumpul untuk satu hal yang esensial: merawat persaudaraan. Perayaan Natal Bersama Forum Dayak Kalimantan Jakarta (FDKJ) yang digelar Sabtu, 24 Januari 2026, di Cileungsi menjadi simbol kuat bahwa identitas, iman, dan kebersamaan tidak pernah benar-benar hilang di tanah perantauan.

Natal ini tidak hanya menghadirkan ibadah, tetapi juga menghadirkan rasa pulang. Pulang ke nilai-nilai keluarga, ke akar budaya, dan ke semangat saling menjaga di tengah kerasnya kehidupan urban.

Menyikapi kegiatan tersebut, Pdt. Dr. Leo Fransisco, M.Pd, Ketua PGLII Kota Bogor yang juga merupakan putra Dayak dan gembala jemaat di Bogor, menyampaikan pesan reflektif yang menyentuh banyak peserta.

“Di perantauan, kita bisa kehilangan banyak hal—waktu, energi, bahkan kehangatan keluarga. Natal hadir untuk mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan keluarga yang mau menjaga kasih dan persaudaraan,” ungkapnya.

Ia menilai tema Natal FDKJ tahun ini, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24), menjadi pengingat penting di tengah realitas sosial saat ini, ketika banyak keluarga tergerus oleh tekanan ekonomi dan dinamika kehidupan kota.

Menurutnya, iman Kristen harus hadir secara nyata dalam relasi keluarga dan kehidupan sosial, bukan berhenti pada ritual keagamaan semata.

“Natal bukan soal panggung atau perayaan besar. Natal adalah tentang bagaimana kita pulang ke rumah dengan hati yang lebih lembut dan relasi yang dipulihkan,” tegasnya.

Pdt. Leo juga mengapresiasi peran FDKJ sebagai ruang kebersamaan masyarakat Dayak lintas daerah—Bogor, Kota Bogor, Cianjur, hingga Sukabumi—yang mampu menjaga harmoni antara iman, budaya, dan semangat kebangsaan.

Perayaan ini menjadi bukti bahwa di tengah keberagaman Indonesia, komunitas lokal mampu menjadi penjaga nilai toleransi, persaudaraan, dan solidaritas sosial.

“Selama kita menjaga keluarga dan persaudaraan, kita tidak pernah benar-benar menjadi orang asing di mana pun kita tinggal,” tutupnya.

Jurnalis: Romo Kefas