Air Naik, Wali Kota Turun: Tri Adhianto Dengarkan Langsung Jeritan Warga Gang Mawar Bekasi
KOTA BEKASI — Saat banjir kembali merendam permukiman warga di Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto memilih tidak hanya memantau dari balik meja. Jumat (30/1/2026), ia turun langsung ke lokasi, menyusuri genangan, menyapa warga, dan mendengar sendiri keluhan mereka.
Banjir yang merendam kawasan padat penduduk ini dipicu tingginya debit air kiriman dari hulu, terutama dari pertemuan Kali Cileungsi dan Kali Cikeas. Saat muka air di titik P2C melewati angka kritis, air tak lagi terbendung dan meluber ke rumah-rumah warga.
“Kalau sudah tembus 500, air pasti naik. Bahkan di kondisi ekstrem, pernah sampai 750 hingga 850. Itu yang membuat dampaknya bisa meluas,” ujar Tri Adhianto di tengah warga.
Saat ini, sekitar 80 rumah terdampak banjir, mayoritas berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Selain faktor alam, keberadaan bangunan di sempadan sungai juga disebut memperparah situasi.
Tri Adhianto menegaskan, penanganan tidak bisa setengah-setengah. Ia menyebut telah ada kesepakatan bersama warga untuk melakukan pembongkaran bangunan di bantaran sungai secara mandiri agar proses normalisasi bisa segera dilakukan.
“BBWS baru bisa masuk kalau lahannya clean and clear. Ini sudah kita sepakati bersama warga dan Pak RW,” katanya.
Kabar baiknya, anggaran penanganan Kali Bekasi dari pemerintah pusat masih tersedia. Ke depan, pengamanan sungai akan menggunakan metode sheet pile yang dinilai lebih kuat dan tahan terhadap tekanan air tinggi dibanding bronjong.
Tak hanya itu, Pemerintah Kota Bekasi juga tetap mengoperasikan ratusan pompa air. Sekitar 300 unit disiagakan, termasuk pompa mobile milik BBWS untuk membackup pompa yang sempat mengalami gangguan.
“Total kapasitas pompa yang bekerja saat ini mencapai 18 ribu meter kubik per detik,” jelasnya.
Upaya lain yang terus dikembangkan adalah pembangunan sumur resapan dalam hingga kedalaman 60 meter, yang telah diuji coba di Jatiasih dan Bekasi Jaya dengan hasil cukup efektif.
“Ke depan, kita akan mulai dari sekolah-sekolah,” ungkap Tri Adhianto.
Ia juga menegaskan keberadaan polder tetap berperan penting dalam mengurangi dampak banjir, meski belum sepenuhnya mampu menahan debit ekstrem akibat hujan berjam-jam tanpa henti.
“Kalau tidak ada polder, airnya bisa ke mana-mana. Ini soal anomali cuaca yang memang luar biasa,” tegasnya.
Ke depan, pembangunan polder baru diprioritaskan di kawasan Unisma. Selain sebagai pengendali banjir, polder juga dirancang multifungsi sebagai cadangan air, ruang terbuka hijau, hingga ruang publik warga.
“Manfaatnya bukan cuma soal banjir, tapi juga kualitas hidup warga,” pungkas Tri Adhianto.

