Aku Memilih Lurus, Agar Anakku Tidak Belajar Bengkok

Aku Memilih Lurus, Agar Anakku Tidak Belajar Bengkok

Spread the love

Aku Memilih Lurus, Agar Anakku Tidak Belajar Bengkok

Aku adalah seorang jurnalis independen.
Setiap hari aku berhadapan dengan kata-kata—dan aku tahu, kata-kata bisa menjadi terang, tetapi juga bisa menjadi topeng.

Aku hidup di dunia di mana kebohongan sering dibungkus rapi. Di mana janji diucapkan dengan lantang, tetapi kebenaran disimpan pelan-pelan. Di mana orang bisa terlihat benar tanpa benar-benar hidup dalam kebenaran.

Dan aku punya satu anak.

Satu-satunya.

Ia kini mahasiswa semester enam di Bandung. Ia sedang belajar banyak hal—tentang teori, tentang masa depan, tentang dunia yang tidak selalu ideal. Tetapi ada satu hal yang paling kutakutkan: bukan ia gagal, bukan ia jatuh, melainkan ia terbiasa melihat kebohongan sebagai sesuatu yang wajar.

Karena anak tidak belajar dari nasihat panjang.
Anak belajar dari contoh yang konsisten.

Jika aku berbohong kecil di rumah, ia akan menganggap kebohongan itu biasa.
Jika aku berjanji tanpa menepati, ia akan belajar bahwa kata-kata tidak perlu dipertanggungjawabkan.
Jika aku kompromi demi kenyamanan, ia akan menyerap bahwa prinsip bisa dinegosiasikan.

Itulah sebabnya aku memilih lurus.

Bukan karena aku selalu benar.
Tetapi karena aku ingin ia tahu bahwa kebenaran tidak butuh janji besar untuk dibuktikan.

Kebenaran cukup dijalani.

Aku tidak ingin anakku berani berkata benar hanya ketika aman.
Aku ingin ia berani berkata benar bahkan ketika tidak populer.
Dan keberanian itu tidak lahir dari pidato—ia lahir dari teladan.

Alkitab berkata:

“Hendaklah ‘ya’-mu adalah ‘ya’, dan ‘tidak’-mu adalah ‘tidak’.”
(Matius 5:37)

Ayat itu sederhana, tetapi tajam. Artinya jelas: jangan jadikan hidupmu penuh sumpah untuk meyakinkan orang. Jadikan hidupmu cukup jujur sehingga orang percaya tanpa perlu kau bersumpah.

Aku tidak ingin anakku tumbuh menjadi pribadi yang pandai berjanji.
Aku ingin ia menjadi pribadi yang kata-katanya dipercaya.

Sebagai ayah, aku sadar—warisan terbesar bukan harta. Bukan jabatan. Bukan nama. Warisan terbesar adalah integritas yang bisa diwariskan tanpa harus diucapkan.

Ketika ia melihat aku memilih jujur meski rugi,
ketika ia melihat aku menolak jalan pintas,
ketika ia melihat aku meminta maaf tanpa gengsi—

di situlah ia belajar.

Aku mungkin hanya seorang jurnalis independen dari Bogor.
Tetapi di rumah ini, aku adalah kurikulum pertama bagi hidupnya.

Dan aku tidak ingin ia belajar kebohongan dari ayahnya sendiri.

Karena dunia mungkin sudah cukup bising dengan janji.
Yang dibutuhkan generasi ini bukan lebih banyak kata—
melainkan lebih banyak keteladanan.

Aku memilih hidup yang bisa dipercaya.
Agar anakku tidak perlu bersumpah untuk mengatakan yang benar.

Cukup berkata “ya” ketika itu ya.
Cukup berkata “tidak” ketika itu tidak.

Dan berdiri dengan hati yang bersih.