Anak-Anak yang Kini Menjadi Orang Tua

Anak-Anak yang Kini Menjadi Orang Tua

Spread the love

Anak-Anak yang Kini Menjadi Orang Tua

Dulu kami adalah anak-anak yang berlindung di balik doa Mama.

Kami tidak terlalu memikirkan masa depan. Tidak terlalu memahami beratnya tanggung jawab. Kami hanya tahu bahwa ada seseorang yang selalu bangun lebih pagi untuk kami, yang selalu mengalah untuk kami, yang selalu menyebut nama kami dalam doa tanpa pernah lelah.

Hari ini, tanpa terasa, kami berdiri di posisi yang berbeda.

Kami bukan lagi hanya anak-anak.
Kami adalah orang tua.

Kami yang dulu digenggam, kini menggenggam.
Kami yang dulu dilindungi, kini melindungi.
Kami yang dulu didoakan, kini menyebut nama anak-anak kami satu per satu di hadapan Tuhan.

Dan di situlah kami mulai benar-benar mengerti Mama.

Kami mulai mengerti mengapa ia sering terlihat lelah tetapi tetap tersenyum.
Mengapa ia bisa tegas tetapi penuh kasih.
Mengapa ia lebih sering mengalah daripada menang.

Dulu kami mungkin mengira itu hal biasa.
Sekarang kami tahu—itu pengorbanan.

Menjadi orang tua membuat kami melihat hidup dari sisi yang berbeda. Kami mulai merasakan kecemasan yang dulu Mama rasakan. Kami mulai memahami doa-doa yang dulu terdengar sederhana, tetapi ternyata penuh air mata.

Kami sadar, membesarkan anak bukan hanya soal memberi makan dan pendidikan. Itu tentang membentuk hati. Tentang menjaga arah. Tentang menanam nilai yang mungkin baru dipahami puluhan tahun kemudian.

Dan ketika kami memeluk anak-anak kami hari ini, ada satu perasaan yang sering muncul:
beginilah dulu Mama memeluk kami.

Kami kini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Warisan yang Mama tanamkan kini berada di tangan kami.

Pertanyaannya sederhana, tetapi berat:
apakah kami akan meneruskannya?

Karena menjadi orang tua bukan sekadar perubahan peran. Itu adalah tanggung jawab untuk tidak memutus rantai kasih yang sudah dibangun dengan air mata dan doa.

Kami mungkin tidak sempurna. Kami masih belajar. Kami masih salah. Tetapi satu hal yang kami tahu: nilai yang Mama tanamkan tidak boleh berhenti pada generasi kami.

Hari ini kami bukan lagi hanya anak-anak.
Kami adalah orang tua.

Dan dalam setiap keputusan yang kami ambil untuk anak-anak kami,
ada bayangan Mama yang masih membimbing kami—diam-diam, tetapi nyata.

Karena anak-anak yang dulu dilindungi,
kini harus belajar menjadi pelindung.

Dan itulah lingkaran kasih yang tidak pernah berakhir.