Bukan Sekadar Tradisi, Nuju Bulan di Lebak Jadi Cara Warga Menyambut Kehidupan dengan Doa
Lebak — Di tengah dunia yang serba cepat dan digital, masyarakat Sunda di Kabupaten Lebak punya satu cara sederhana tapi bermakna untuk “melambat”: berkumpul, berdoa, dan menjaga tradisi Nuju Bulan.
Tradisi ini kembali terlihat dalam prosesi Mitoni atau Tujuh Bulanan yang digelar di Pasir Kolecer, Kelurahan Cijoro Pasir, Kecamatan Rangkasbitung, Minggu (25/1/2026). Suasananya jauh dari hiruk-pikuk, tapi justru di situlah kekuatannya—hangat, khidmat, dan penuh kebersamaan.
Nuju Bulan dipercaya sebagai penanda penting usia kehamilan tujuh bulan. Bagi masyarakat Lebak, fase ini bukan sekadar hitungan waktu, melainkan momentum doa bagi keselamatan ibu dan calon bayi. Karena itulah, ritual ini masih dijaga dan dilakukan secara turun-temurun.
Sejak pagi, keluarga besar dan warga sekitar berdatangan. Anak-anak duduk bersila, para orang tua mengikuti doa dengan khusyuk. Tak ada sekat, semua menyatu dalam suasana kebatinan yang kuat.
Prosesi diawali dengan pembacaan doa dan berjanjen. Lantunan doa mengalir pelan, menciptakan suasana hening yang menyentuh. Doa-doa dipanjatkan agar kehamilan berjalan lancar, persalinan dimudahkan, dan bayi kelak tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan.
“Tradisi ini bukan soal ramai-ramai, tapi soal harapan,” ujar tokoh masyarakat setempat, H. Ahmad Opo.
“Doa itu yang utama. Semua kita serahkan kepada Allah.”
Ritual Mitoni juga sarat simbol. Tangga yang diletakkan di depan rumah melambangkan harapan agar proses kelahiran tidak menemui rintangan. Pemecahan kendi menjadi simbol pecahnya ketuban, sementara telur dimaknai sebagai awal kehidupan. Belut digunakan sebagai simbol kelancaran, sebagaimana geraknya yang licin tanpa hambatan.
Momen paling meriah datang saat uang logam ditebarkan. Anak-anak langsung berebut dengan tawa riang. Suasana yang tadinya khidmat berubah menjadi hangat dan penuh senyum—menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya soal sakral, tapi juga kebahagiaan bersama.
Setelah makan bersama, tampah dilemparkan ke udara. Jika jatuh dalam posisi terbuka, masyarakat percaya itu menjadi pertanda baik bagi keselamatan dan masa depan sang bayi.
Soal jenis kelamin, tak ada perdebatan.
“Laki-laki atau perempuan, itu rezeki dan amanah,” kata Ahmad.
“Yang penting sehat dan selamat.”
Di tengah gempuran budaya instan dan gaya hidup modern, Nuju Bulan menjadi pengingat bahwa setiap kehidupan layak disambut dengan doa dan kebersamaan. Tradisi ini mungkin sederhana, tapi nilainya besar—menjaga ikatan keluarga, memperkuat solidaritas warga, dan merawat kearifan lokal agar tetap hidup.
Penulis: Redaksi

