Dari “Jejak yang Hilang” ke Lompatan Threefold: GGP Target 1.500 Jemaat di Abad Kedua

Dari “Jejak yang Hilang” ke Lompatan Threefold: GGP Target 1.500 Jemaat di Abad Kedua

Spread the love

Dari “Jejak yang Hilang” ke Lompatan Threefold: GGP Target 1.500 Jemaat di Abad Kedua

Bogor – Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) tidak hanya menggali sejarah, tetapi juga menyiapkan lompatan besar menuju masa depan. Dalam dua hari Lokakarya Nasional di GGP Immanuel Bogor, sejarah pelayanan Rev. Johannes Gerhard Thiessen atau Papa Thiessen dipetakan ulang secara komprehensif—sekaligus ditegaskan visi besar GGP: Threefold, bertumbuh tiga kali lipat menjadi 1.500 jemaat di seluruh Indonesia.

Lokakarya I bertema “Jejak Yang Hilang” digelar Jumat (27/9/2024) dan dilanjutkan dengan Lokakarya II pada Sabtu yang memfokuskan pada pengumpulan serta sinkronisasi data sejarah. Forum ini juga memperkuat dokumentasi resmi 100 Tahun GGP dalam buku Benih Yang Tumbuh (1923–2023) .


Dihadiri Pimpinan Sinode dan Unsur Pemerintah

Lokakarya dibuka dengan doa oleh Pdt. Robertus Sela, M.Th selaku Sekretaris Umum GGP. Ketua Umum GGP Pdt. Dicky Suwarta, M.Th hadir dan memberikan sambutan bersama Sekretaris II Majelis Pusat Pdt. Dr. Edmon Pakasi, M.Th.

Turut hadir dan menyampaikan sambutan Pdt. Dr. Harapan Nainggolan, M.Min., M.Th selaku Pembimas Kristen Kanwil Jawa Barat, yang juga menyerahkan dua buku sejarah terkait Pekantan dan Ende Thiessen sebagai penguatan dokumentasi arsip gereja .

Sebagai narasumber, hadir Pdt. Dr. Harapan Nainggolan yang memaparkan sejarah pelayanan awal Papa Thiessen, Pdt. Dr. Sonny Suryawan, M.Th sebagai pemerhati pelayanan Papa Thiessen, serta Pdt. Dr. Frans Setiady yang mengulas penelusuran historis lintas referensi Eropa dan Indonesia .


Sejarah Kini Semakin Jelas

Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa gambaran sejarah kini “semakin jelas”. Arsip kolonial, referensi teologis Eropa, dokumen gereja, serta kajian akademik dinilai saling melengkapi sehingga potret pelayanan Papa Thiessen tidak lagi parsial.

Sejarah GGP dipetakan dalam tiga fase besar:

  1. 1887–1921 – Masa panggilan dan pelayanan awal Papa Thiessen, termasuk misi di Pekantan, Mandailing Selatan.
  2. 1921–1960 – Fase perintisan GGP, peristiwa kebangunan rohani 29 Maret 1923 di Cepu, serta dinamika legalitas kolonial.
  3. 1960–2026 – Perkembangan GGP modern, konsolidasi organisasi, ekspansi nasional, hingga tantangan era digital .

Peristiwa Cepu 1923 sendiri dipandang sebagai tonggak lahirnya Pinksterbeweging, cikal bakal Gereja Gerakan Pentakosta di Indonesia.


Threefold: Fondasi Pergerakan Abad Kedua

Dari fondasi sejarah itulah Sinode GGP menegaskan visi besar Threefold. Visi ini bukan sekadar pertumbuhan angka, melainkan gerakan menyeluruh di semua lini pelayanan dengan target 1.500 jemaat di seluruh Indonesia.

Tekad seluruh insan GGP adalah menjadikan visi Threefold sebagai pondasi pergerakan abad kedua melalui perintisan jemaat baru, penguatan kepemimpinan di pusat dan daerah, pemberdayaan generasi muda, serta penguatan prinsip warisan Papa Thiessen: Swa Dana, Swa Daya, dan Swa Praja .

Ketua Umum GGP menegaskan bahwa pelurusan sejarah menjadi dasar penting agar generasi berikut memahami akar gerakan secara utuh dan melanjutkan estafet pelayanan dengan arah yang jelas.

Dari hutan Pekantan hingga Pasar Sore Cepu, dari persekutuan kecil hingga jaringan pelayanan nasional, benih yang ditanam pada 1923 kini memasuki abad kedua dengan visi yang lebih besar dan strategi yang lebih terarah.


Oleh: Romo Kefas
Sumber: Sinode Gereja Gerakan Pentakosta (GGP)