Di Koja, Isra Mi’raj Menjadi Ruang Harapan: Ketika Ibadah Menyatu dengan Kepedulian Sosial

Di Koja, Isra Mi’raj Menjadi Ruang Harapan: Ketika Ibadah Menyatu dengan Kepedulian Sosial

Spread the love

Di Koja, Isra Mi’raj Menjadi Ruang Harapan: Ketika Ibadah Menyatu dengan Kepedulian Sosial

Jakarta Utara,19 Januari 2026 Malam itu, Kamis (15/1/2026), suasana Madrasatul Quran Nur Hasanah di Kecamatan Koja, Jakarta Utara, terasa berbeda. Tidak hanya lantunan shalawat yang mengalun pelan, tetapi juga percakapan-percakapan kecil tentang kepedulian, keadilan, dan harapan akan masa depan bangsa yang lebih beradab.

Relawan Muslim dari berbagai latar belakang duduk berdampingan. Tidak ada sekat organisasi, tidak ada pembicaraan politik praktis. Yang hadir adalah kesadaran bersama bahwa agama harus lebih dari sekadar simbol—ia harus menjadi energi sosial.

Di sinilah Darul Furqan menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang perenungan tentang makna ibadah dalam kehidupan nyata.

Ketua Umum Darul Furqan, Furqan AMC, membuka acara dengan pesan yang sederhana namun menggugah. Ia tidak berbicara tentang jargon besar, melainkan tentang substansi.

“Isra Mi’raj mengajarkan kita bahwa perjalanan spiritual Rasulullah tidak berhenti di langit. Ia kembali ke bumi membawa amanah—shalat yang seharusnya mencegah kezaliman dan ketidakadilan,” ujarnya.

Bagi Furqan, shalat bukan hanya relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga komitmen horizontal kepada sesama manusia. Dari situlah Darul Furqan lahir dan bergerak—sebagai rumah relawan Muslim yang ingin menghadirkan agama dalam kerja-kerja sosial yang nyata.

Malam itu, Yenny Wahid hadir menyapa jamaah dengan gaya yang cair dan membumi. Putri mendiang Presiden Abdurrahman Wahid itu mengingatkan bahwa Islam Indonesia tumbuh dari tradisi welas asih dan keberanian moral.

“Agama jangan membuat kita sibuk menghakimi, tetapi mendorong kita untuk peduli. Ketika umat Islam hadir untuk membela yang lemah dan merawat keberagaman, di situlah ajaran agama menemukan maknanya,” tuturnya.

Beberapa relawan tampak mengangguk pelan. Ada yang mencatat, ada yang hanya diam merenung. Bagi sebagian dari mereka, pesan malam itu terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari—tentang kemiskinan, bencana, ketidakadilan, dan kegelisahan generasi muda.

Darul Furqan sendiri bukan organisasi besar dengan struktur kaku. Ia tumbuh sebagai ruang kebersamaan relawan Muslim progresif yang ingin membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang adil dan mana yang zalim—sebagaimana makna namanya, Furqan.

Ketua Dewan Pembina Darul Furqan, Gus Dhahir Farisi, menutup acara dengan shalawat. Suaranya mengalun tenang, mengikat suasana malam dengan rasa khidmat. Tidak ada tepuk tangan meriah, hanya keheningan yang penuh makna.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota dan kerasnya perdebatan di ruang publik, malam Isra Mi’raj di Koja itu seakan menjadi pengingat sederhana: bahwa iman tidak selalu harus berteriak. Kadang ia cukup hadir—mendengarkan, menguatkan, dan bergerak perlahan untuk sesama.

Bagi Darul Furqan, itulah esensi ibadah. Bukan hanya menghadap Tuhan, tetapi juga berani berdiri di tengah manusia.

Jurnalis: Romo Kefas