Empat Rumah Nyaris Ambruk, Pemuda Lebak Bergerak Saat Anggaran Negara Tak Cukup
Lebak — Empat rumah warga di Kabupaten Lebak, Banten, berdiri di ambang kehancuran. Dinding bilik yang lapuk, atap bocor, dan fondasi yang kian rapuh menjadi ancaman nyata bagi keselamatan penghuninya, terutama saat hujan turun tanpa ampun.
Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah untuk penanganan rumah tidak layak huni, Karang Taruna Kabupaten Lebak bersama Karang Taruna Provinsi Banten memilih turun tangan. Tanpa menunggu, tanpa banyak janji, para pemuda ini menargetkan rehabilitasi empat unit rumah warga kurang mampu dalam kurun waktu satu tahun.
Ketua Karang Taruna Kabupaten Lebak, H. Kuncoro, menyebut langkah tersebut lahir dari keprihatinan melihat kondisi warga yang bertahun-tahun hidup dalam ketidaklayakan.
“Rumah-rumah ini bukan sekadar rusak, tapi sudah membahayakan. Kalau menunggu anggaran, mungkin warga keburu jadi korban. Karena itu kami bergerak semampu yang kami bisa,” ujarnya.
Menurutnya, jumlah rumah tidak layak huni di Lebak masih jauh lebih banyak dari kemampuan pemerintah untuk menanganinya setiap tahun. Kondisi itu menuntut keterlibatan berbagai pihak agar persoalan tidak terus berulang.
Karang Taruna, kata dia, tidak hanya menjalankan aksi sosial, tetapi juga membawa suara warga agar persoalan kemiskinan struktural, khususnya soal hunian layak, mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah hingga pusat.
Program rehabilitasi ini diharapkan menjadi titik awal kolaborasi antara pemuda, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas. Bagi warga penerima manfaat, program ini bukan sekadar perbaikan rumah, tetapi harapan untuk hidup lebih aman dan bermartabat.

