HADAPI KENYATAAN: Ketika Ketamakan Disamarkan sebagai Mimpi
Kita sering tidak kehilangan berkat—kita merusaknya sendiri.
Kita hidup di zaman di mana manusia bisa memiliki banyak hal, namun tetap merasa miskin di dalam batin. Rumah ada, pekerjaan ada, keluarga ada, bahkan nama Tuhan masih disebut dalam doa. Namun yang tidak pernah cukup adalah keinginan. Kita menyebutnya mimpi, visi, atau target hidup, padahal sering kali itu hanyalah ketidakpuasan yang diberi legitimasi rohani.
Tidak sedikit orang beriman yang rajin berdoa, tetapi sesungguhnya sedang bernegosiasi dengan Tuhan. Mulut memuji, hati membandingkan. Bibir mengucap syukur, tetapi pikiran sibuk menghitung apa yang dimiliki orang lain. Kita lupa satu kebenaran pahit: ketidakpuasan adalah pintu pertama kehancuran karakter.
“Jangan merusak apa yang kamu miliki dengan menginginkan apa yang tidak kamu miliki; namun ingatlah bahwa apa yang kamu miliki saat ini dulunya adalah salah satu hal yang hanya kamu harapkan.”
— Romo Sunto Tanuwijaya
Firman Tuhan jauh lebih keras daripada sekadar nasihat bijak:
“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.”
(Pengkhotbah 5:9)
Masalahnya bukan pada mimpi, tetapi pada hati yang tidak pernah selesai bersyukur. Kita merusak hari ini demi mengejar esok, lalu kehilangan keduanya. Kita lupa bahwa Tuhan bekerja melalui realitas, bukan ilusi.
Yesus tidak pernah mengajarkan umat-Nya hidup dalam lamunan rohani. Ia justru menegaskan:
“Setiap orang yang setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
(Lukas 16:10)
Namun sering kali, kita ingin perkara besar tanpa kesetiaan kecil. Kita ingin dihormati tanpa memberi. Kita ingin dipuji tanpa melayani. Kita ingin berkat tanpa tanggung jawab.
Di sinilah kata-kata Calvin Coolidge menampar kesadaran kita:
“Tidak ada orang yang pernah dihormati untuk apa yang dia terima. Kehormatan adalah imbalan atas apa yang dia berikan.”
Alkitab menggemakan prinsip yang sama:
“Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”
(Kisah Para Rasul 20:35)
Ironisnya, banyak orang Kristen mengukur hidup dari apa yang berhasil mereka kumpulkan, bukan dari apa yang berhasil mereka persembahkan. Kita lupa bahwa hidup ini bukan tentang apa yang kita pegang, melainkan apa yang kita lepaskan demi kehendak Tuhan.
Yesus mengingatkan dengan sangat tegas:
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
(Matius 6:21)
Jika hati kita selalu gelisah, iri, dan tidak pernah puas, mungkin bukan karena Tuhan kurang memberi—tetapi karena kita menolak menghadapi kenyataan bahwa Tuhan sudah cukup.
Menghadapi kenyataan bukan berarti menyerah. Menghadapi kenyataan berarti jujur: jujur pada diri sendiri, jujur pada Tuhan, dan berhenti menyalahkan keadaan. Paulus menulis dengan sangat realistis:
“Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”
(Filipi 4:11)
Kecukupan bukan hasil dari banyaknya milik, tetapi dari kedewasaan iman. Orang yang dewasa rohani tahu: apa yang ada di tangannya hari ini adalah amanah, bukan hak mutlak.
Karena itu, Firman Tuhan menutup dengan peringatan sekaligus pengharapan:
“Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”
(1 Timotius 6:8)
Hari ini Tuhan tidak sedang menuntut kita bermimpi lebih tinggi, tetapi hidup lebih benar. Tidak sedang menantang kita memiliki lebih banyak, tetapi menjadi lebih setia.
Hadapi kenyataan.
Rawat apa yang Tuhan percayakan.
Karena berkat terbesar bukan pada apa yang akan datang—
melainkan pada kesetiaan menjaga apa yang sudah ada.
Ditulis oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K

