Hidup Ini Singkat, Jangan Habiskan untuk Hal yang Tidak Kekal
Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi satu kenyataan ini:
hidup bisa berakhir kapan saja.
Kita sering menunda hal-hal penting—meminta maaf nanti, berubah nanti, melayani Tuhan nanti—seolah waktu selalu ada di pihak kita. Kita sibuk mengejar yang sementara, tetapi lupa menyiapkan yang kekal. Kita pandai merencanakan masa depan, namun jarang merenungkan akhirnya.
Padahal setiap hari yang kita jalani adalah hari yang tidak akan pernah terulang.
Dan hidup yang singkat ini terlalu berharga jika dihabiskan tanpa arah.
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
90:12
Alkitab tidak menutup mata terhadap kenyataan hidup yang fana. Justru di sanalah Tuhan mengajar kita untuk hidup dengan kesadaran, makna, dan tujuan yang benar.
Bayangkan dua orang yang melakukan perjalanan jauh.
Orang pertama membawa dompet besar, penuh uang dan barang berharga. Sepanjang perjalanan ia sibuk menjaga miliknya, takut berbagi, takut kehilangan. Namun saat tiba di tujuan, ia baru sadar: semua isi dompet itu harus ditinggalkan.
Orang kedua membawa dompet sederhana. Ia menggunakannya untuk menolong orang di jalan, membeli yang diperlukan, dan berbagi saat ada kesempatan. Ketika tiba di tujuan, ia melangkah ringan—karena yang dibawanya bukan harta, melainkan jejak kebaikan.
Demikianlah hidup manusia.
Kita semua sedang menuju satu tujuan yang sama.
Yang membedakan bukan apa yang kita kumpulkan, tetapi bagaimana kita menggunakan hidup yang Tuhan percayakan

Yesus mengingatkan dengan sangat tajam:
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?”
8:36
Jika hari ini kita masih bernapas, masih bekerja, masih menikmati hidup—itu bukan kebetulan. Itu tanda bahwa Tuhan masih memberi kesempatan. Kesempatan untuk hidup benar. Kesempatan untuk bertobat. Kesempatan untuk melayani dan bersaksi.
“Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”
5:16
Hidup bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.
Melayani Tuhan bukan soal mimbar atau jabatan rohani. Pelayanan sejati terlihat dari cara kita hidup ketika tidak ada yang menonton—cara bekerja, cara memperlakukan orang lain, cara tetap jujur saat ada peluang berbuat curang.
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan.”
3:23
Kesetiaan dalam hal kecil adalah bentuk ibadah yang paling nyata.
Di dunia yang akrab dengan kompromi, kejujuran sering dianggap mahal. Namun dalam iman Kristen, kejujuran adalah kesaksian. Tidak berkhianat, tidak memutar kebenaran, tidak menjual nurani—itulah iman yang hidup.
“Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
16:10
Mulut kita pun dipanggil untuk menjadi saluran terang.
“Perkataanmu hendaklah senantiasa penuh kasih.”
4:6
Kadang kesaksian paling kuat bukan khotbah panjang, tetapi hidup yang selaras dengan kata-kata.
Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani tanpa arah. Firman Tuhan adalah kompas yang tidak pernah rusak—menuntun langkah agar tetap benar, meski jalannya sempit.
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
119:105
Firman tidak selalu membuat hidup mudah, tetapi selalu membuat hidup bermakna.
Hidup ini singkat.
Kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Dan kekekalan tidak ditentukan oleh apa yang kita simpan, tetapi oleh bagaimana kita hidup hari ini.
Selagi Tuhan masih memberi napas:
layani Dia dengan hidupmu
hiduplah jujur dan setia
gunakan mulutmu untuk membangun
berjalanlah seturut Firman-Nya
Karena pada akhirnya, hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan tidak pernah sia-sia.
“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan.”
1:7

