Klikberita.net Di tengah budaya instan yang mengagungkan hasil cepat dan pencapaian kasat mata, iman orang percaya sedang diuji secara serius. Banyak orang menginginkan berkat, pertolongan, dan mujizat Tuhan, tetapi menolak proses pembentukan yang Tuhan tetapkan. Kekristenan pun perlahan terancam direduksi menjadi sekadar spiritualitas pragmatis: doa dipakai sebagai alat, iman dijadikan sarana, dan Tuhan diposisikan sebagai pemberi hasil instan.
Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan iman tanpa proses.
“Karena TUHAN menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
(Ibrani 12:6)
Ayat ini menampar keras teologi kenyamanan yang berkembang di banyak mimbar dan ruang rohani hari ini. Tuhan bukan sekadar Allah yang memberi, Ia adalah Allah yang membentuk.
Sejak awal, kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang berproses. Abraham harus menunggu puluhan tahun untuk janji itu digenapi. Yusuf harus melewati lubang sumur dan penjara sebelum istana. Musa harus ditempa di padang gurun sebelum memimpin umat. Bahkan Yesus sendiri “belajar taat dari apa yang diderita-Nya” (Ibrani 5:8).
Jika Sang Anak Allah tidak dibebaskan dari proses, mengapa gereja hari ini ingin melompati proses?
“Ujian imanmu itu menghasilkan ketekunan.”
(Yakobus 1:3)
Ketekunan bukan lahir dari kenyamanan, tetapi dari kesetiaan berjalan bersama Tuhan saat jawaban belum datang.
Dunia bertanya: apa yang kamu dapat?
Tuhan bertanya: apakah engkau setia?
Banyak orang ingin dipakai Tuhan secara besar, tetapi gagal setia dalam perkara kecil. Banyak yang ingin berdiri di panggung, tetapi enggan dibentuk di ruang sunyi. Padahal prinsip Kerajaan Allah selalu konsisten:
“Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
(Lukas 16:10)
Kesetiaan dalam proses adalah mata uang Kerajaan Allah. Tanpa itu, berkat justru bisa menjadi jerat.
Sejarah gereja dan pelayanan membuktikan satu hal: berkat yang datang lebih cepat dari karakter sering berakhir pada kejatuhan. Ketika iman tidak matang, berkat berubah menjadi beban; ketika karakter rapuh, mujizat tidak menyelamatkan.
Karena itu Tuhan sering menunda bukan karena Ia tidak mampu, tetapi karena Ia mengasihi.
“Sebab semua janji Allah adalah ‘Ya’ dan ‘Amin’ di dalam Kristus.”
(2 Korintus 1:20)
Janji Tuhan pasti digenapi, tetapi selalu melalui proses yang memurnikan hati dan motivasi.
Gereja dipanggil bukan untuk menjual harapan palsu, melainkan untuk membentuk murid yang tahan uji. Iman sejati bukan iman yang hanya kuat saat diberkati, tetapi iman yang tetap berdiri saat diuji.
“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan.”
(Yakobus 1:12)
Di tengah dunia yang ingin cepat sampai, gereja harus berani mengajarkan iman yang mau berjalan jauh.
Jika hari ini proses terasa berat, doa terasa sunyi, dan jalan terasa panjang—itu bukan tanda Tuhan meninggalkan. Bisa jadi itu tanda Tuhan sedang bekerja paling dalam.
Iman sejati tidak dibuktikan oleh seberapa cepat kita menerima, tetapi oleh seberapa setia kita berjalan.
Tuhan tidak pernah mengecewakan umat-Nya.
Yang sering gagal adalah manusia yang ingin berkat tanpa mau dibentuk.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.Th., M.Pd.K

