Imas Jamilah
Dalam senyap cahaya yang jatuh perlahan,
wajahmu hadir seperti pagi
yang memilih lembut daripada terang.
Ada tenang di matamu,
seakan dunia belajar berhenti
agar bisa memandang lebih lama.
Rambutmu adalah malam
yang bersedia dipeluk angin,
mengalir tanpa ingin menguasai,
hanya ingin menemani.
Senyummu tidak meminta—
ia memberi.
Imas Jamilah,
kecantikanmu tidak berdiri di garis wajah,
ia berdiam di cara kamu menenangkan ruang.
Di lekuk waktu yang sederhana,
kau mengajarkan bahwa anggun
tak perlu suara keras.
Ada kehangatan yang tinggal
di setiap diam yang kau pilih,
seperti doa yang tahu
kapan harus dipanjatkan
dan kapan cukup dirasakan.
Jika cinta adalah bahasa,
maka hadirmu adalah maknanya:
tenang, utuh,
dan membuat siapa pun yang memandang
ingin pulang—
bukan untuk memiliki,
melainkan untuk mengagumi.

