Jejak Pengabdian Raden Penewu Tunjung Anom: Maestro Karawitan Amerika hingga Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Jejak Pengabdian Raden Penewu Tunjung Anom: Maestro Karawitan Amerika hingga Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Spread the love

Jejak Pengabdian Raden Penewu Tunjung Anom: Maestro Karawitan Amerika hingga Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

YOGYAKARTA , 23/01/2026 – Di balik kesederhanaan pakaian “peranakan” lurik berwarna biru-hitam tanpa kancing yang dikenakan para Abdi Dalem Keraton Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat, tersimpan kisah-kisah luar biasa mengenai dedikasi dan kompetensi tingkat dunia. Salah satu sosok yang menjadi representasi nyata dari semangat tersebut adalah Raden Yohanes Suatmadi Hardjodipuro yang masih aktif meski usianya sudah hampir seabad.

Kasultanan Yogya yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tanggal 13 Maret 1755 (29 Jumadilawal 1680 Tahun Jawa) merupakan Kerajaan yang masih eksis sampai hari ini. Sejak 1945, Kasultanan – dan Kadipaten Pakualaman – bergabung dengan Republik Indonesia sehingga Yogyakarta menjadi Daerah Istimewa di dalam NKRI. Raja yang bertahta – sekarang Sultan HB X – otomatis ditetapkan menjadi Gubernur DIY.

Sebagai pemerintahan yang mandiri, Kasultanan Jogja mempunyai sistem aparatur pemerintahan. Jika aparatur militernya berupa Prajurit Keraton maka Abdi Dalem adalah aparatur sipilnya. Menurut situs kratonjogja.id disamping menjadi pegawai sipil Keraton setiap Abdi Dalem juga bertugas sebagai “Abdi Budaya” yang bukan hanya harus paham budaya Jogja tetapi menjadi pelaku dan teladan. Secara teknis ada dua jenis Abdi Dalem di Kasultanan. Pertama, Abdi Dalem Punakawan yang berasal dari kalangan masyarakat umum. Kedua, Abdi Dalem Kaprajan yang berasal dari kalangan TNI, POLRI, dan Pegawai Negeri Sipil. Para Abdi Dalem bekerja dengan semangat pengabdian kepada raja, keraton, dan kebudayaan, bukan dengan motivasi mencari penghasilan atau keuntungan.

Menjadi Abdi Dalem bukan hanya bermodal panggilan jiwa, tetapi juga kompetensi dan dedikasi yang terukur. Calon Abdi Dalem harus magang selama dua tahun dan jika memenuhi syarat maka akan diwisuda (dilantik secara resmi). Wisuda Abdi Dalem dilakukan dua kali pada bulan Bakda Mulud dan bulan Syawal. Prestasi pengabdian berimplikasi pada kenaikan pangkat yang berjenjang yaitu Jajar, Bekel Anom, Bekel Sepuh, Lurah, Penewu, Wedono, Riya Bupati, Bupati Anom, Bupati Sepuh, Bupati Kliwon, Bupati Nayoko, dan Pangeran Sentana. Kenaikan pangkat secara regular setiap 3 atau 4 tahun. Prestasi khusus bisa mempercepat kenaikan pangkat. Adapun kinerja buruk berimplikasi sanksi dan pemecatan sehingga ada istilah miji pocot yaitu Abdi Dalem yang diberhentikan dengan tidak hormat yang harus mengembalikan gelar yang diberikan oleh Sultan (asma paring dalem) dan dilarang masuk Keraton.

Raden Yohanes Suatmadi Hardjodipuro yang lahir pada 1 Mei 1929 baru mulai berkarir sebagai Abdi Dalem pada 2001 di usianya yang ke-72. Sekarang, 2026, di umurnya yang ke-97, Suatmadi telah berpangkat Panewu sehingga gelarnya menjadi Raden Panewu (RP). Gelar Raden ia dapatkan sejak lahir sebagai trah keturunan Panembahan Senapati (1537-1601) yang adalah raja Mataram pertama yang bertahta sejak 1586 hingga akhir hayatnya. Dari Sultan, Suatmadi dianugerahi pula sebuah nama (asma paringan dalem) baru yaitu Raden Penewu Tunjung Anom.

Suatmadi adalah sosok yang merepresentasikan figur Abdi Dalem sebagai “kader Keraton” dan “kader budaya” yang unggul. Ia menjadi Abdi Dalem bukan karena sudah pension sehingga tidak ada pekerjaan lain, atau mencari kesibukan di hari tua. Ia mendedikasikan kompetensi yang dimilikinya untuk mendukung kemajuan Kasultanan dan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Visi itu disharingkannya kepada cucunya, Rr. Esther Arum Galih Rahayu SPd yang kemudian diinformasikan kepada penulis.

Lahir di Desa Karangduren, Kelurahan Tanjung Tirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, DIY, Suatmadi sejak muda menekuni kesenian musik tradisional Jawa (karawitan) dan piawai memainkan hampir semua alat musik gamelan. Kompetensi itu mengantarkannya menjadi pendidik karawitan di sekolah pendidikan seni SMKI Yogyakarta. Karena keahliannya bermain dan mengajar karawitan semakin menonjol dan bahkan sudah menyusun buku pembelajaran yang menjadi acuan pada 1989, Kepala SMKI saat itu, Supardjan mempromosikan Suatmadi untuk mengajar karawitan di Amerika Serikat.

Kedutaan Besar RI di Washington D.C., saat itu sangat membutuhkan pendidik karawitan yang mumpuni. Mereka sudah memiliki fasilitas gamelan dan bahkan wayang, tetapi belum ada gurunya. Selain itu Kedubes RI berniat mempromosikan budaya Indonesia lebih intens karena minat orang AS terhadap gamelan dan karawitan cukup tinggi. Pada 1991 di usianya yang ke-61, Suatmadi berangkat ke AS dan menjadi pendidik karawitan di Kedubes RI di AS sampai 1994. Pada 1994 itu ia terpaksa kembali ke Indonesia karena harus menemani isterinya yang sakit. Sebenarnya ia masih sangat dibutuhkan dan diminta terus tinggal di AS, namun Suatmadi memilih pulang demi isteri tercinta.

Lima tahun setelah kembali ke Jogja, banyak pihak mendorongnya untuk mengabdi di Keraton. Maka di usianya yang sudah berkepala tujuh pada 2001 ia mulai menjadi Abdi Dalem sampai sekarang. Dalam tugas baru ini pun Suatmadi menorehkan banyak prestasi. Jika di pada 1980 saat baru berumur 51 tahun ia menjuarai lomba macapat (puisi, tembang Jawa) maka pada 2011 di usianya yang ke-82 ia meraih juara II lomba cipta gendhing yang diadakan Dinas Pariwisata DIY. Gendhing adalah komposisi musik gamelan, yaitu lagu yang dilmainkan dengan gamelan.

Suatmadi menjelaskan bahwa lagu ciptaannya yang menang pada 2011 itu bertema Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Rupanya ia tidak sekadar menggubah lagu itu demi meriah juara. Lagu itu ia ciptakan dalam rangka mendukung pengesahan Rancangan Undang-Undang Keistimewaan DIY (UUK) yang saat itu masih diperjuangkan dalam proses yang alot. Di masa remajanya, Suatmadi melihat dan merasakan sendiri bagaimana Jogja menjadi Ibu Kota RI (1946-1949). Pengalaman itu begitu membekas di sanubarinya sehingga sampai sekarang pun ia tetap bersemangat untuk mendukung Keistimewaan DIY karena begitu besar peran Jogja bagi perjuangan Republik Indonesia.

Sekarang sudah banyak juga Abdi Dalem berasal dari kalangan generasi muda. Karena kiprah dan karya mereka dalam memajukan Keraton, publik mulai mengenal nama-nama mereka seperti Nyi Mas Bekel Lalitamardowo, Satya Bilal, Inggar Bogos Wibisana, dan Erwita Danu. Kepada generasi muda, Raden Penewu Tunjung Anom berpesan supaya kita selalu mengasah ketrampilan dan berjiwa sabar serta narima sebab itulah kunci agar tetap sehat dan produktif sampai lanjut usia seperti dirinya.

Penulis: Haryadi Baskoro
Foto: Istimewa
Editor: SHN