Ketika Balai Kota Bicara Budaya: Jakarta, Rumah Bersama dari Banyak Akar

Ketika Balai Kota Bicara Budaya: Jakarta, Rumah Bersama dari Banyak Akar

Spread the love

Ketika Balai Kota Bicara Budaya: Jakarta, Rumah Bersama dari Banyak Akar

Jakarta bukan sekadar pusat kekuasaan dan ekonomi. Ia adalah ruang hidup yang dibentuk oleh perjumpaan panjang beragam identitas. Namun di balik kemajemukan itu, Jakarta memiliki fondasi yang tak boleh dilupakan: budaya Betawi sebagai basis kulturalnya. Dari nilai Betawi yang terbuka, egaliter, dan ramah sebagai tuan rumah, Jakarta belajar menerima perbedaan tanpa kehilangan wajahnya sendiri.

Pelantikan DPW ICDN DKI Jakarta di Balai Kota menjadi momen yang patut dibaca melampaui seremoni. Kehadiran pejabat tinggi—khususnya Wakil Gubernur DKI Jakarta—mengirimkan pesan simbolik yang kuat: negara hadir di ruang budaya, bukan untuk menyeragamkan, melainkan untuk merangkul. Balai Kota hari itu berbicara tentang budaya—tentang bagaimana identitas dirawat sebagai fondasi kohesi sosial.

Sebagai wartawan yang menyaksikan denyut ibu kota dari dekat, saya melihat Jakarta hidup dari kemajemukan. Di jalan, pasar, kantor, dan rumah ibadah, identitas bertemu setiap hari. Namun kemajemukan tidak cukup ditopang oleh slogan toleransi; ia membutuhkan etika hidup bersama. Di sinilah budaya Betawi berperan sebagai akar: menumbuhkan sikap menerima, menyapa, dan memberi ruang bagi siapa pun yang datang dan menetap.

Dalam ruang yang sama, nilai budaya Dayak hadir sebagai kepingan mozaik yang memperkaya. Filosofi huma betang—rumah panjang yang menampung banyak keluarga dalam satu atap nilai—mengajarkan kebersamaan, musyawarah, dan tanggung jawab kolektif. Nilai ini menemukan relevansinya di Jakarta, kota yang hanya bisa bertahan jika perbedaan dirawat, bukan dipertentangkan.

Pertemuan akar Betawi dan kearifan Dayak di Balai Kota bukanlah kebetulan. Ia menggambarkan wajah ideal Jakarta: kota dengan identitas dasar yang kuat, namun tidak menutup diri. Betawi menyediakan fondasi sebagai tuan rumah; budaya-budaya Nusantara lainnya memberi warna, makna, dan energi. Inilah esensi mozaik—setiap kepingan berbeda, tetapi saling menguatkan.

Kehadiran negara dalam pelantikan organisasi berbasis budaya seperti ICDN menegaskan bahwa budaya tidak dipandang sebagai ornamen seremoni. Ia diakui sebagai fondasi—penjaga harmoni di tengah tantangan urban seperti individualisme, polarisasi, dan ketercerabutan identitas. Pembangunan kota tidak hanya soal beton dan statistik, tetapi juga tentang nilai yang dihidupi.

Pelantikan DPW ICDN DKI Jakarta akhirnya menjadi cermin bagi ibu kota. Jakarta akan tetap kokoh bukan hanya karena gedung-gedung tinggi, melainkan karena kemampuannya merawat akar Betawi dan merangkai keberagaman sebagai kekuatan bersama.

Di Balai Kota, hari itu, tersampaikan pesan filosofis yang jernih: Jakarta adalah rumah bersama dari banyak akar. Dan rumah hanya akan bertahan jika akar dijaga, perbedaan dirawat, dan budaya ditempatkan sebagai nilai hidup—bukan sekadar simbol.


Penulis:
Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Jurnalis Senior Pewarna Indonesia
Pemimpin Redaksi Pelitanusantara.com


error: Content is protected !!