Ketika Politik Kehilangan Nurani, Kesetiaan dan Amanah Kembali Dipertanyakan

Ketika Politik Kehilangan Nurani, Kesetiaan dan Amanah Kembali Dipertanyakan

Spread the love

Ketika Politik Kehilangan Nurani, Kesetiaan dan Amanah Kembali Dipertanyakan

JAWA BARAT – Dinamika politik nasional belakangan ini kerap diwarnai hiruk-pikuk pernyataan, manuver kekuasaan, dan persaingan kepentingan. Namun di balik keramaian tersebut, muncul kegelisahan publik yang kian menguat: politik dinilai semakin kehilangan keteladanan dan nurani.

Janji politik yang berulang, slogan yang silih berganti, serta perebutan kekuasaan yang cepat sering kali tidak berbanding lurus dengan hadirnya keadilan dan keberpihakan nyata kepada rakyat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar, apakah politik masih dapat dijalani sebagai ruang amanah dan pelayanan, bukan semata arena kekuasaan.

Dalam perspektif iman, politik dipandang tidak pernah netral secara moral. Ia merupakan ruang amanah tempat keputusan publik berdampak langsung pada kehidupan banyak orang. Prinsip ini sejalan dengan Firman Tuhan, “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar” (Lukas 16:10). Amanah publik, sekecil apa pun, pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.

Namun, jalan politik yang berlandaskan nilai dinilai bukan jalan yang mudah. Komitmen pada kejujuran, keadilan, dan integritas menuntut ketekunan panjang, bahkan ketika hasil belum terlihat. Dalam konteks ini, Firman Tuhan mengingatkan, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai” (Galatia 6:9).

Sejarah menunjukkan bahwa keberlanjutan kepemimpinan tidak selalu ditentukan oleh kecepatan atau popularitas, melainkan oleh konsistensi dan kesetiaan. Kesetiaan dipahami bukan sebagai sikap pasif, melainkan keputusan aktif untuk tetap memegang prinsip di tengah tekanan kekuasaan. Hal ini selaras dengan peringatan, “Hendaklah engkau setia sampai mati” (Wahyu 2:10).

Di sisi lain, kesetiaan pada nilai tidak bertentangan dengan semangat kebhinekaan. Politik yang berangkat dari iman dan etika justru diharapkan melahirkan sikap inklusif dan menjunjung martabat manusia. Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran kasih, “Kasihilah sesamumu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39).

Di tengah kebisingan politik nasional, sejumlah kalangan menilai masih ada aktor-aktor yang memilih berjalan tenang dan konsisten, tanpa sensasi berlebihan. Pendekatan ini menekankan pelayanan, kesetaraan, dan keberpihakan pada nilai-nilai keadilan sosial. “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan” (Kolose 3:23) kerap dijadikan rujukan etis dalam menjalankan amanah publik.

Meski jalan tersebut kerap sepi dan jarang menjadi sorotan, pendekatan berbasis nilai diyakini memiliki daya tahan lebih panjang dibandingkan politik berbasis ambisi sesaat. Yesus sendiri mengingatkan pentingnya fondasi yang kokoh: “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya… ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Matius 7:24).

Pengamat menilai, tantangan terbesar politik Indonesia hari ini bukan pada kekurangan figur atau program, melainkan minimnya kehadiran nurani dalam proses pengambilan keputusan. Firman Tuhan menegaskan tuntutan etis tersebut, “Berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu” (Mikha 6:8).

Pada akhirnya, politik yang sehat diyakini tidak lahir dari pencitraan sempurna, melainkan dari kesetiaan yang terus diuji oleh waktu. Kesetiaan pada amanah publik, keberanian menolak penyalahgunaan kekuasaan, serta komitmen untuk tetap berpihak pada keadilan menjadi kunci membangun kepercayaan masyarakat. “Hendaklah kita berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita” (Ibrani 10:23).

Perubahan besar, menurut sejumlah kalangan, sering kali dimulai bukan dari gebrakan besar, melainkan dari ketekunan aktor-aktor politik yang memilih untuk tetap berbuat benar, meski berjalan di jalur yang tidak selalu ramai.


Catatan Penulis

Artikel ini ditulis oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas), Jurnalis Senior Pewarna Indonesia. Saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo) Periode 2021–2026 serta Koordinator Nasional LSM GERAK. Dan tercatat sebagai salah Seorang Rohaniawan Di Gereja Pentakosta Isa Al-Masih Indonesia. Sebelumnya pernah menjabat Wakil Sekretaris PDS Jawa Barat (2006–2008) dan Wakil Ketua Bapilu PSI Jawa Barat (2021–2023).


error: Content is protected !!