Cimahi – Loka Karya 2 bertema “Semakin Jelas (Jejak Pelayanan Perintis GGP)” di Cimahi tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga momentum strategis bagi arah perjalanan Gereja Gerakan Pentakosta (GGP). Dalam arahannya, Ketua Umum GGP, Pdt. Dicky Suwarta, M.Th, menyampaikan pesan yang kuat dan visioner terkait pentingnya integritas sejarah bagi masa depan gereja.

Ia menegaskan bahwa Loka Karya 2 bukan sekadar diskusi, melainkan proses pengumpulan data secara terbuka dan bertanggung jawab.

“LK 2 ini adalah ruang pengumpulan data secara terbuka. Tiga narasumber, para penanggap, dan seluruh insan GGP berkontribusi. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua kita letakkan di meja bersama untuk diuji, dikaji, dan diluruskan,” ujarnya di hadapan peserta.

Menurutnya, sejarah yang kokoh hanya dapat dibangun melalui transparansi, keberanian membuka arsip, dan kerendahan hati untuk menerima koreksi. Ia menekankan bahwa perbedaan perspektif dalam forum bukan ancaman, melainkan kekuatan untuk memperkaya pemahaman kolektif.
Ketua Umum juga menyoroti pentingnya kehadiran unsur struktural dalam Loka Karya 2. Hadir dalam forum tersebut Ketua DP Pdt. Cornelius Edy, M.Th; Sekretaris Mada Jawa Barat Pdt. Hendra Russo, S.Th; Ketua Mawil Pdt. Elfira Wowiling; serta sejumlah pimpinan daerah lainnya.

“Kehadiran para pimpinan daerah dan wilayah menunjukkan bahwa ini bukan agenda pribadi atau kelompok tertentu. Ini adalah kepentingan bersama seluruh struktur GGP. Sejarah kita adalah milik bersama,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan kerinduannya agar rangkaian Loka Karya 1 dan 2 tidak berhenti sebagai catatan diskusi, tetapi melahirkan karya nyata.

“Saya rindu LK 1 dan LK 2 ini menjadi dasar penyusunan satu buku sejarah GGP yang lebih mendekati kebenaran. Bukan sekadar cerita, tetapi hasil riset, verifikasi, dan kesepakatan bersama,” katanya.
Ia menilai, buku sejarah resmi akan menjadi warisan penting bagi generasi penerus—bukan hanya sebagai dokumentasi masa lalu, tetapi sebagai pijakan visi ke depan.

Dalam penutup arahannya, Ketua Umum menegaskan bahwa sejarah bukan untuk diperdebatkan tanpa arah, melainkan untuk dimurnikan demi masa depan yang lebih kuat.
“Kalau fondasi kita jelas, langkah kita akan kokoh. Kalau sejarah kita terang, arah kita tidak akan goyah,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu penekanan utama dalam Loka Karya 2, yang hingga akhir sesi menunjukkan dinamika diskusi yang sehat dan berorientasi pada penguatan identitas serta masa depan GGP.
Jurnalis Romo Kefas

