Menanam Pohon atau Menyelamatkan Masa Depan? Suara Kenabian di Tengah Kota Beton
Penulis adalah salah Seorang Pengurus PGLII Kota Bekasi Bidang Hukum dan HAM
Bekasi – Di sepanjang sejarah Alkitab, para nabi tidak hanya berbicara tentang dosa manusia kepada Tuhan, tetapi juga menegur manusia yang merusak kehidupan, menindas sesama, dan mengabaikan tanggung jawab terhadap ciptaan. Nabi Yesaya, Yeremia, hingga Amos berdiri bukan sekadar menyampaikan pesan surgawi, tetapi juga menjadi suara peringatan ketika manusia mulai kehilangan keseimbangan antara iman dan tanggung jawab sosial.
Gerakan penanaman pohon yang dilakukan Pemerintah Kota Bekasi dalam rangka Bulan K3 Nasional 2026, yang digagas oleh Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, patut dilihat bukan hanya sebagai kegiatan seremonial lingkungan. Lebih dari itu, gerakan ini dapat dimaknai sebagai seruan moral dan spiritual bagi masyarakat untuk kembali menyadari panggilan ilahi sebagai penjaga bumi.
Alkitab sejak awal telah menegaskan mandat manusia terhadap alam. Dalam Kejadian 2:15 tertulis, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Ayat ini bukan sekadar narasi penciptaan, melainkan mandat budaya—sebuah panggilan teologis bahwa manusia diciptakan bukan sebagai penguasa yang merusak, tetapi sebagai penatalayan yang menjaga keseimbangan kehidupan.
Ketika Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menggagas konsep “sedekah udara” melalui penanaman pohon, gagasan ini memiliki resonansi moral yang sangat kuat. Dalam perspektif iman, sedekah udara bukan hanya soal oksigen dan penghijauan, tetapi menyentuh dimensi spiritual: memberikan kehidupan bagi sesama, termasuk generasi yang belum lahir.
Namun suara kenabian tidak hanya memuji. Ia juga mengingatkan. Kita hidup di tengah realitas kota modern yang sering kali mengorbankan ruang hijau demi pertumbuhan ekonomi. Beton menjulang, tetapi ruang hidup semakin menyempit. Jalan diperlebar, tetapi kualitas udara semakin menurun. Dalam konteks inilah, gerakan penanaman pohon menjadi simbol perlawanan moral terhadap budaya pembangunan yang melupakan keseimbangan ciptaan.
Nabi Amos pernah menyampaikan teguran keras terhadap masyarakat yang terlihat religius tetapi mengabaikan keadilan dan kehidupan. Dalam Amos 5:24 tertulis, “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” Jika diterjemahkan dalam konteks lingkungan, keadilan bukan hanya soal manusia, tetapi juga keadilan terhadap alam yang menopang kehidupan manusia itu sendiri.
Kerusakan lingkungan pada akhirnya selalu menjadi bentuk ketidakadilan sosial. Masyarakat kecil biasanya menjadi kelompok pertama yang merasakan dampak polusi, banjir, atau krisis udara bersih. Oleh karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya tindakan ekologis, melainkan juga tindakan keadilan sosial.
Gerakan sedekah udara yang digaungkan Pemerintah Kota Bekasi melalui kepemimpinan Tri Adhianto sesungguhnya membuka ruang refleksi bagi gereja dan komunitas Kristen untuk mengambil peran profetik. Iman Kristen tidak boleh berhenti pada liturgi dan ritual ibadah, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata yang memulihkan kehidupan.
Mazmur 24:1 mengingatkan, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya.” Jika bumi adalah milik Tuhan, maka merusaknya bukan sekadar kesalahan ekologis, melainkan juga pelanggaran spiritual. Sebaliknya, menjaga dan merawatnya merupakan bentuk ibadah yang hidup.
Gerakan menanam pohon harus dipahami sebagai awal, bukan akhir. Tantangan terbesar bukan pada seremoni penanaman, tetapi pada komitmen merawat, menjaga, dan menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat. Tanpa kesadaran moral bersama, pohon-pohon yang ditanam hanya akan menjadi simbol tanpa makna.
Sejarah para nabi menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari suara kecil yang berani menegur, mengingatkan, dan mengajak kembali kepada kebenaran. Dalam konteks hari ini, suara itu dapat diwujudkan melalui gerakan menjaga lingkungan, menanam pohon, dan membangun kesadaran bahwa merawat bumi adalah bagian dari panggilan iman.
Sedekah udara bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah panggilan moral, spiritual, dan profetik bagi seluruh masyarakat. Ketika manusia kembali menanam kehidupan, sesungguhnya manusia sedang memulihkan hubungan dengan Sang Pencipta.
Karena pada akhirnya, menjaga bumi bukan hanya soal keberlanjutan lingkungan, tetapi juga kesetiaan manusia terhadap mandat Tuhan sejak awal penciptaan.

