MENCINTAIMU DALAM DIAM

MENCINTAIMU DALAM DIAM

Spread the love

EPISODE TIGA

Klikberita.net

Hari masih subuh, kalau saja hati mau jujur sudah mau jelang pagi. Lampu-lampu disebagian ruang sudah dipadamkan, tanda pagi sudah tiba kini. Terburu-buru aku kembali bergeser menuju kamar mandi berusaha sebagai orang pertama yang mandi di pagi ini. Maklumlah kamar mandi bagian bawah jadi favorit anak-anak kos, ruangnya yang luas dan airnya yang berlimpah. Disaat-saat sibuk seperti ini ruang cuci tubuh ini jadi rebutan siapa saja yang duluan bangun dan berbenah dan seterusnya lari ke kamar mandi. Siapa duluan dapat menikmati keleluasaan ruang, waktu dan air sebanyak-banyaknya.

Karena memang terburu-buru maklumlah jiwa anak muda yang kelebihan tenaga akibat minum OXY yang diresepkan secara terpaksa, aku terus berjalan tergesa tak lagi lihat-lihat. Saat masuk kamar mandi sepertinya terlihat pintu sudah terbuka. Begitu tergesanya dan tak ingin ada yang mendahului, aku melangkahkan kaki lebih cepat dari biasanya. Waktu adalah air, itulah semboyan anak kos di pagi hari dan semboyan yang juga aku aminin kebenarannya.

Plakkk, aku merasakan benturan keras ketika masuk pada pintu yang saya anggap sudah terbuka. Benturan tubuhku dengan tubuh seseorang yang secara tak sengaja juga berusaha ke luar dari kamar mandi yang sama. Kepalaku membentur tubuh orang yang mau ke luar. Tidak lama kemudian, tak sampai sepersekian detik berikutnya, pecahlah teriakan histeris dari seorang perempuan karena kaget pada situasi yang sama sekali tak diduganya.

Mbak Rina baru saja selesai mandi, membuka pintu mau ke luar dari kamar mandi. Ia terdorong kembali ke dalam kamar mandi itu karena berbenturan denganku. Dan karena tabrakan itu demikian kencangnya, Mbak Rina terhempas dan terhuyung-huyung membentur tembok dan hampir saja jatuh. Akibatnya handuk yang tadinya dililitkan ditubuhnya terlepas begitu saja dan jatuh ke lantai kamar mandi.

Belum juga subuh berlalu, aku sudah mengalami kejutan yang sungguh mengagetkan. Bukan kejutan biasa, tetapi kejutan yang menggetarkan hatiku. Di pagi itu dalam kamar mandi yang pintunya setengah terbuka tanpa segaja di depanku tersuguhkan pemandangan yang mampuh hentikan sekejab perjalanan darah mudaku. Aku tak lagi bisa berfikir normal pada situasi demikian. Aku berada pada suatu keadaan sangat terpesona dan membuat aku tidak bisa bernafas normal.

Berdiri terpana bagai orang bego, tak mampu berbuat apa-apa. Mulut terbuka, mata bulat besar menatap tanpa kedip sedikitpun. Mematung tak berani berpaling, tidak berani berkata termasuk menyampaikan kata permohonan maaf. Diam dan diam, itu saja yang dapat kulakukan saat itu sekalipun gemuruh dadaku bergetar hebat. Gemetar seluruh tubuh pada situasi yang sungguh benar-benar di luar dugaanku.

Hari sudah mau masuk jelang pagi dan situasiku seperti orang yang benar-benar tak bisa berfikir normal. Kebingungan, kaget, terkejut, itulah kata yang paling tepat mengggambarkan keadaan diriku. Situasi itu terus berlanjut beberapa detik lamanya tanpa bila aku kendalikan.

Plakkk, sebuah tamparan ringan dari telapak tangan mungil Mbak Rina mendarat begitu saja dipipiku mengakhiri keterpanaanku pada peristiwa dasyat itu. Sekalipun tamparan itu ringan saja, tetapi terasa sakit menusuk hatiku. Mbak Rina demikian kesalnya melihatku hanya berdiri bengong tak melakukan sesuatu pada situasi yang tak kami sengaja itu. Tamparan ringan itu diikuti dengan satu kata setengah membentak memerintah; “Ambil handuknya Rio, cepat!”

Suara Mbak Rina demikian tegas menggelegar bergetar pada pendengaranku. Aku kaget dengar suara demikian kerasnya, tidak pernah sebelumnya mendengar nada suara demikian darinya. Itu malah membuat aku makin tidak berdaya, tak bergerak pada tempatku berdiri, tidak mampuh berbuat apa-apa kecuali tetap diam.

Aku tersadar, berikutnya perintah itu mengharuskan berjongkok menundukkan kepala mengambil handuk yang jatuh. Aku membungkuk dan sungguh malah memberiku anugrah baru, mendekatkan pada sesuatu yang tak bisa dilukiskan dalam kata-kata. Hanya beberapa inci saja jauhnya tepat dihadapanku pemandangan keindahan keagungan seorang wanita terpampang jelas di depan mataku.

Pikiranku melayang mengembara, jantungku berdebar seakan meledak. Subuh sudah mau segera berakhir, tinggal menunggu waktu. Kejadian ini tak pernah terbayangkan sepanjang hidupku. Di luar terdengar kicauan burung murai yang riuh bersahut-sahutan tepat di balik kamar mandi. Adakah mereka merasakan kejadian aneh yang kualami saat ini? Entahlah, aku sendiri tidak mau tahu.

Subuh sudah berlalu, kejadian ini di luar kendaliku dan sejujurnya aku tidak menyadari apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Aku ak bisa lagi mengendalikan tindakanku. Bukannya mengambil handuk malah bengong menatap keindahan lekuk tubuh Mbak Rina dan tanpa sadar malah kini semakin terpana kagum dalam memandang. Dasar laki-laki, terkadang indahnya pesona perempuan membuat semua dapat kehilangan akal sehat.

Aku rasakan dengan kasar Mbak Rina menarik begitu saja handuk yang kukalungkan di leherku. Ia dengan cepat melilitkan di tubuhnya tanpa kata apapun dan meninggalkanku begitu saja di dalam kamar mandi. Ia juga tak peduli pada handuknya yang masih tergelak di lantai. Ia berlalu begitu saja dan membiarkan handuknya tertinggal dihadapanku. Aku tersadar ketika mendengar suara pintu kamar mandi dibantingkan demikian kerasnya tepat di belakangnya sambil berlalu dengan langkah kaki yang panjang-pangang dan demikian cepat.

Mbak Rina tak pernah kulihat semarah ini sebelumnya sepanjang aku mengenalnya dan tinggal di rumah kos-kosan ini. Wajahnya merah seperti terbakar dan sorot matanya begitu marah. Rahangnya beradu seakan menahan gejolak kemarahan yang dalam di hatinya. Langkah kakinya yang panjang-panjang ketika meninggalkan kamar mandi dan cara ia menghempaskan daun pintu cukuplah sudah bagiku untuk gambarkan bagaimana perasaannya saat itu. Aku tahu pasti kegeraman hatinya yang ia tujukan padaku. Itu pasti. *****

PENULIS: EGA MAWARDIN

——————————————————————————–

Mencintaimu Dalam Diam, terdiri dari tujuh belas episode, ditulis disela-sela kesibukan kegiatan Penelitian Desa Terpadu Perikanan di Malangrapat, Kabupaten Bintan, Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau tahun 2015.

Ega Mawardin lahir di Nias, tinggal di Jakarta adalah dosen Ilmu Komunikasi di beberapa perguruan tinggi swasta sampai tahun 2010, aktif di organisasi sosial kemasyarakatan sampai tahun 2021, dan saat ini melayani sebagai pendeta di Kota Gunungsitoli, Pulau Nias sejak tahun 2022.

error: Content is protected !!