Menelusuri Jejak Pelayanan Pdt. Josaphat Darmohatmodjo: Sosok Pendeta gereja lokal yang sangat menjunjung tinggi kesatuan Tubuh Kristus

Menelusuri Jejak Pelayanan Pdt. Josaphat Darmohatmodjo: Sosok Pendeta gereja lokal yang sangat menjunjung tinggi kesatuan Tubuh Kristus

Spread the love

YOGYAKARTA, 04/01/2026 – Keluarga besar serta trah keturunan Pendeta Josaphat Darmohatmodjo terus menjaga tradisi mulia untuk merawat memori kolektif dan semangat pelayanan sang tokoh gereja. Setiap momen peringatan Natal dan Tahun Baru, seluruh anak, cucu, hingga cicit berkumpul dalam ikatan silaturahmi yang hangat demi mengobarkan kembali warisan spiritual Pdt. Josaphat, yang merupakan salah satu pendeta mula-mula di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sawokembar, Gondokusuman, Yogyakarta. Sosok yang lahir di Purworejo pada 2 Mei 1899 dan berpulang di Yogyakarta pada 8 Mei 1984 ini dikenal bukan sekadar sebagai pemimpin jemaat, melainkan juga figur yang memiliki dedikasi tinggi bagi masyarakat dan pendidikan di masa perjuangan.

Jejak ketokohan Pdt. Josaphat Darmohatmodjo telah diabadikan dalam sebuah buku biografi karya Pdt. Edi Trimodoroempoko, M.Div yang diterbitkan oleh Lembaga Studi dan Pengembangan Gereja-gereja Kristen Jawa pada tahun 2010. Berdasarkan catatan literatur tersebut, diketahui bahwa perjalanan hidup Josaphat sangatlah berwarna karena ia pernah berkecimpung di dunia politik dan pendidikan sebelum sepenuhnya terjun ke dalam pelayanan gerejawi. Beliau tercatat pernah menjadi anggota Provinciale Raad van Midden Java atau setara dengan DPRD Provinsi Jawa Tengah pada era penjajahan Belanda, serta mengabdi sebagai Kepala Sekolah Christelijke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) met Nederlands bernama “Ngesti Wijoto” di Purworejo, Jawa Tengah.

Panggilan pelayanannya sebagai penggembala jemaat dimulai saat putra ketiga dari Sahat Singorejo ini menjabat sebagai Pendeta Pasamuwan Kristen Djawi Gereformeed Purworejo. Dedikasinya kemudian membawa Josaphat mengemban tugas sebagai Pendeta Utusan Gereformeed Belanda yang ditempatkan di Makassar, Sulawesi Selatan. Sekembalinya dari Makassar, ia melanjutkan pengabdiannya di Yogyakarta sebagai Pendeta Pasamuwan Kristen Djawi Gondokusuman, yang kini kita kenal sebagai GKJ Sawokembar Gondokusuman. Penahbisannya sebagai pendeta di gereja tersebut dilaksanakan dalam kebaktian Minggu pada 10 Agustus 1941, di mana ia menyampaikan khotbah perdana yang diambil dari kitab Kisah Para Rasul 2:17-21 mengenai pencurahan Roh Kudus dan kebangunan rohani di akhir zaman.

Salah satu warisan paling berharga dari Pdt. Josaphat adalah komitmennya yang kuat terhadap kesatuan gereja tanpa memandang sekat organisasi, sehingga beliau dikenal sebagai sosok pendeta gereja lokal yang sangat menjunjung tinggi kesatuan Tubuh Kristus. Dalam buku biografinya, terekam jelas bagaimana Pdt. Josaphat sering mengunjungi rekan-rekan sejawat dari berbagai denominasi lain demi menjalin silaturahmi dan kerja sama, termasuk dengan pendeta dari gereja Pentakosta serta Adven. Tak hanya itu, ia juga sangat mendukung perkembangan pendidikan teologi dengan memberikan sokongan bagi para dosen di theologische opleidingsschool atau sekolah teologia yang ada di Yogyakarta pada masa itu.

Penulis: Haryadi Baskoro
Foto: Istimewa
Editor: SHN

Catatan : Penulis adalah cucu dari Pdt. Josaphat Darmohatmodjo, dikenal sebagai Pakar Keistimewaan DIY.

error: Content is protected !!