Menjelang Satu Abad GKII: Dari Ladang Misi Hingga Menjadi Pilar Pelayanan Injili Indonesia
Bekasi – Tidak semua gereja mampu menapaki perjalanan panjang lintas generasi. Namun Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) membuktikan bahwa pelayanan yang berakar pada panggilan Kristus mampu bertahan bahkan terus bertumbuh. Pada 10 Februari 2026, GKII memasuki usia ke-98 tahun, sebuah perjalanan iman yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga harapan besar menuju satu abad pelayanan.
Perjalanan hampir satu abad GKII mendapat apresiasi dari berbagai kalangan gereja Injili. Ketua Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Kota Bekasi, Pdt. Djajang Buntoro, menyebut usia GKII sebagai simbol keteguhan gereja dalam menghadapi dinamika zaman.
Menurutnya, GKII bukan hanya sekadar organisasi gereja, tetapi merupakan gerakan pelayanan Injil yang telah menyentuh banyak kehidupan.
“GKII adalah bukti bahwa gereja yang berdiri di atas panggilan Kristus tidak akan pernah kehilangan arah. Perjalanan panjang ini menunjukkan bagaimana Tuhan memelihara gereja-Nya melalui berbagai tantangan, perubahan zaman, bahkan pergumulan pelayanan,” ungkap Pdt. Djajang.
Ia menilai GKII telah menorehkan jejak pelayanan yang konsisten, mulai dari pemberitaan Injil, pembinaan rohani jemaat, hingga pelayanan sosial yang menyentuh masyarakat luas.
Dalam pandangannya, kekuatan GKII bukan hanya pada jumlah jemaat atau pertumbuhan organisasi, tetapi pada kesetiaan menjaga nilai Injili dan komitmen pelayanan yang terus hidup.
“Pelayanan gereja tidak boleh berhenti pada rutinitas. GKII menunjukkan bahwa pelayanan harus menjadi gerakan iman yang hidup, membawa dampak nyata, serta menjangkau banyak jiwa. Itulah kekuatan gereja yang sesungguhnya,” tegasnya.
Momentum HUT ke-98 GKII juga dipandang sebagai titik refleksi sekaligus persiapan menuju tonggak sejarah baru, yakni satu abad pelayanan Injil.
Pdt. Djajang menegaskan bahwa gereja di era modern dituntut untuk tetap relevan tanpa kehilangan identitas spiritualnya.
“GKII harus terus melahirkan generasi pelayan Tuhan yang berani, visioner, dan tetap setia pada kebenaran firman Tuhan. Tantangan zaman semakin kompleks, tetapi panggilan gereja tetap sama, yaitu menjadi terang dan garam bagi dunia,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris PGLII Kota Bekasi, Pdt. N. Priskila Paksoal, yang juga melayani sebagai gembala GKII Rehobot Bekasi, menilai perjalanan GKII sebagai warisan rohani yang harus dijaga dan dikembangkan.
Menurutnya, GKII telah menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan iman umat dan memperkuat kesatuan gereja Injili di Indonesia.
“HUT GKII bukan sekadar perayaan sejarah, tetapi panggilan untuk memperbaharui komitmen pelayanan. Gereja harus terus hadir membawa kabar keselamatan dan menjadi jawaban bagi kebutuhan rohani masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa GKII memiliki fondasi spiritual yang kuat, sebagaimana digambarkan dalam Amsal 4:18, di mana perjalanan iman orang benar diibaratkan seperti cahaya fajar yang semakin terang hingga siang hari.
“Perjalanan GKII mencerminkan proses pertumbuhan iman yang terus berkembang. Kami percaya GKII akan terus menjadi berkat bagi gereja dan bangsa Indonesia,” tambahnya.
Bagi PGLII Kota Bekasi, sinergi antar gereja Injili menjadi kunci dalam memperkuat pelayanan di tengah perubahan sosial yang cepat. Kolaborasi pelayanan diyakini mampu memperluas dampak pemberitaan Injil sekaligus mempererat kesatuan tubuh Kristus.
Pdt. Djajang menutup pernyataannya dengan harapan besar bagi masa depan GKII.
“Perjalanan menuju satu abad GKII harus menjadi momentum kebangunan rohani yang semakin menyala. GKII telah membuktikan bahwa terang Kristus tidak pernah padam, dan kami percaya GKII akan terus menjadi saksi kasih Tuhan bagi Indonesia,” tutupnya.
Perayaan HUT ke-98 GKII diharapkan tidak hanya menjadi peringatan sejarah pelayanan, tetapi juga tonggak penguatan visi gereja dalam menjawab tantangan zaman dan memperluas misi Injil bagi generasi mendatang.
Jurnalis Romo Kefas

