Natal BMPTKKI Bukan Sekadar Seremonial: Alarm Krisis Keluarga Dibunyikan dari Kampus Teologi

Natal BMPTKKI Bukan Sekadar Seremonial: Alarm Krisis Keluarga Dibunyikan dari Kampus Teologi

Spread the love

Natal BMPTKKI Bukan Sekadar Seremonial: Alarm Krisis Keluarga Dibunyikan dari Kampus Teologi

Jakarta, 17 Januari 2026 — Perayaan Natal yang digelar Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia (BMPTKKI) di Aula Sinode GBI, Jakarta, Sabtu (17/01/2026), tidak berhenti pada nyanyian, doa, dan liturgi. Dari ruang ibadah itu, sebuah pesan keras disuarakan: keluarga Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Natal BMPTKKI tahun ini tampil berbeda. Bukan sekadar perayaan rohani, melainkan ruang refleksi serius tentang krisis keluarga, krisis moral, dan peran dunia pendidikan Kristen dalam merawat masa depan generasi muda.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, Jeane Marie Tulung, yang hadir dalam ibadah tersebut, menyoroti fenomena fatherless dan runtuhnya nilai-nilai keluarga sebagai salah satu akar berbagai persoalan sosial yang kini merebak.

“Banyak kasus penyimpangan melibatkan figur yang seharusnya menjadi teladan: pemimpin agama dan pendidik. Anak-anak dan mahasiswa menjadi korban. Ini bukan masalah kecil, dan tidak bisa kita diamkan,” tegasnya.

Menariknya, kehadiran Dirjen Bimas Kristen dalam Natal BMPTKKI ini juga bertepatan dengan momentum pribadinya, beberapa hari setelah ulang tahunnya pada 15 Januari. Namun, alih-alih selebrasi, pesan yang dibawa justru penuh keprihatinan dan ajakan bertanggung jawab bersama.

Dalam pandangan Dirjen Bimas Kristen, Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen tidak boleh terjebak di menara gading akademik. Kampus harus “turun gunung” menjawab luka sosial yang nyata di tengah masyarakat.

“Perguruan tinggi Kristen harus hadir dengan program yang konkret—pendidikan karakter, pendampingan keluarga, riset yang membumi. Bukan hanya pintar di atas kertas,” ujarnya lugas.

Ia juga mengapresiasi capaian akademik BMPTKKI sepanjang 2025, mulai dari promosi profesor hingga ratusan lektor kepala. Namun ia mengingatkan, prestasi akademik harus sejalan dengan tanggung jawab moral.

Ketua Umum BMPTKKI, Pdt. Prof. Dr. Stevry I. Lumintang, menegaskan bahwa perayaan Natal ini dihadiri perwakilan 35 STT di wilayah Jabodetabek, sebagai tanda konsolidasi yang kian solid.

“Kami bersyukur, kualitas institusi membaik, akreditasi meningkat, dan suasana organisasi makin tenang. Bahtera BMPTKKI sedang berlayar dengan arah yang jelas,” ungkapnya.

Tak hanya soal keluarga manusia, Natal BMPTKKI juga mengangkat isu relasi manusia dengan alam. Dalam khotbah Natal, Pdt. Rubin Adi mengingatkan bahwa kasih Allah tidak berhenti pada manusia, tetapi mencakup seluruh ciptaan.

“Alam bukan objek eksploitasi, tetapi sesama ciptaan yang dikasihi Tuhan. Merusak alam berarti mengkhianati kasih itu sendiri,” katanya.

Suasana ibadah semakin hidup dengan paduan suara dari STT Amanat Agung dan STT Apolos. Dua puisi bertema ekoteologi yang dibawakan Sekretaris Umum BMPTKKI, Pdt. Dr. Nasokhili Giawa, menjadi penutup yang menggugah—mengingatkan bahwa iman, keluarga, dan alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Ketua Panitia Natal BMPTKKI, Pdt. Dr. Junior Natan Silalahi, menyebut Natal tahun ini sebagai Natal yang “mengajak berpikir, bukan sekadar terharu.”

Di tengah gemerlap perayaan Natal di berbagai tempat, Natal BMPTKKI justru memilih jalur sunyi: menyalakan alarm kesadaran. Bahwa jika keluarga runtuh, pendidikan rapuh, dan alam rusak, maka iman pun kehilangan maknanya.


Jurnalis: Romo Kefas