Percaya atau Mati di Dalam Dosa

Percaya atau Mati di Dalam Dosa

Spread the love

Percaya atau Mati di Dalam Dosa

Yohanes 8:21–29

Yesus tidak pernah menawar kebenaran. Ia tidak menenangkan hati yang keras, tidak memanjakan iman yang dangkal, dan tidak menyesuaikan firman agar cocok dengan logika manusia. Dalam Yohanes 8, Yesus berbicara dengan nada yang tajam, tegas, dan menghakimi—bukan karena Ia kejam, tetapi karena kebenaran tidak bisa dinegosiasikan.

“Jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.”

Ini bukan ancaman emosional. Ini vonis rohani.

Para pemuka Yahudi bukan orang ateis. Mereka religius, berkitab, rajin ibadah, dan memiliki struktur keagamaan yang mapan. Namun justru kepada merekalah Yesus berkata: kamu akan mati dalam dosamu. Mengapa? Karena iman mereka berhenti pada sistem, bukan pada Pribadi. Mereka mengenal Taurat, tetapi menolak Sang Firman yang hidup.

Di sinilah iman banyak orang percaya hari ini diuji. Kita fasih berbicara tentang Yesus, tetapi tidak tunduk kepada Yesus. Kita membela doktrin, tetapi tidak mau disalibkan bersama Kristus. Kita rajin ritual, namun alergi pada ketaatan radikal.

Yesus tidak bertanya, “Apakah kamu beragama?”
Ia bertanya, “Apakah kamu percaya bahwa Akulah Dia?”

Bayangkan sebuah kota yang dikepung kegelapan. Di gerbang kota berdiri dua penjaga.

Penjaga pertama membawa obor, tetapi menolak api. Ia memegang kayu obor dengan bangga, membanggakan bentuk dan ukirannya, namun menolak menyalakannya karena takut panas. Ia berkata, “Yang penting aku punya obor.”

Penjaga kedua menyalakan apinya. Tangannya terbakar, matanya silau, tetapi terang itu menyelamatkan seluruh kota.

Kristus bukan sekadar obor yang kita pegang sebagai simbol iman. Ia adalah api yang harus kita izinkan membakar ego, logika, dan kenyamanan rohani kita. Iman yang tidak membakar dosa hanyalah simbol kosong—sepuhan emas rohani.

Yesus berkata, “Apabila kamu meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia.” Ironisnya, banyak orang baru “mengenal” Kristus ketika sudah terlambat—ketika kebenaran berdiri sebagai Hakim, bukan lagi sebagai Juruselamat.

Salib adalah wahyu tertinggi kasih Allah, tetapi juga cermin paling jujur dari pemberontakan manusia. Di sana tidak ada ruang netral. Salib memaksa kita memilih: tunduk atau menolak, hidup atau mati.

Iman yang dewasa bukan iman yang nyaman. Iman dewasa adalah iman yang berani dikonfrontasi oleh firman, ditegur oleh Roh Kudus, dan dibongkar dari kepalsuan rohani. Iman dewasa tidak bertanya, “Apa yang masih boleh aku lakukan?” tetapi “Apa yang harus aku tinggalkan demi Kristus?”

Kita tidak diselamatkan oleh ritual, jabatan rohani, atau reputasi pelayanan. Kita diselamatkan oleh iman yang hidup—iman yang taat, setia, dan rela mati bersama Kristus agar hidup bersama Dia.

Hari ini Yesus masih berkata:

“Aku pergi, dan kamu akan mencari Aku…”

Pertanyaannya bukan apakah kita mencari Yesus, tetapi Yesus yang mana yang kita cari:
Yesus yang kita bentuk sesuai keinginan kita, atau Yesus yang menuntut penyerahan total?

Karena iman yang menolak tunduk kepada Kristus sejatinya bukan iman—melainkan pemberontakan yang dibungkus agama.

“Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (Amsal 27:19)

Kiranya Roh Kudus menelanjangi iman kita, memurnikannya, dan membawa kita kepada percaya yang sejati—bukan sekadar percaya dengan bibir, tetapi percaya sampai mati atas diri sendiri.

Ev. Kefas Hervin Devananda, S.Th., M.Pd.K