Riset Doktor Ini Bikin Dunia Usaha Tersentak: Peduli Lingkungan = Nilai Perusahaan Naik

Riset Doktor Ini Bikin Dunia Usaha Tersentak: Peduli Lingkungan = Nilai Perusahaan Naik

Spread the love

Riset Doktor Ini Bikin Dunia Usaha Tersentak: Peduli Lingkungan = Nilai Perusahaan Naik

MEDAN — Selama ini banyak pelaku usaha masih menganggap isu lingkungan dan keberlanjutan cuma beban tambahan. Tapi sebuah riset doktor di Universitas Sumatera Utara (USU) justru membalik cara pandang itu. Perusahaan yang serius menjaga keberlanjutan ternyata lebih bernilai dan lebih dipercaya pasar.

Temuan tersebut disampaikan Marinus Gea saat menjalani sidang promosi doktor Ilmu Manajemen di USU, Kamis, 8 Januari 2026. Lewat risetnya, Marinus menegaskan bahwa ESG bukan tren sesaat, melainkan penentu nilai perusahaan masa kini dan masa depan.


Investor Sekarang Lebih Cerdas

Menurut Marinus, zaman sudah berubah. Investor tidak lagi hanya bertanya soal laba dan dividen, tetapi juga soal jejak lingkungan dan tanggung jawab sosial perusahaan.

“Perusahaan yang merusak lingkungan sekarang cepat ketahuan. Dampaknya bukan cuma protes publik, tapi juga penurunan nilai perusahaan,” katanya.

Ia menyebut banyak kasus di mana perusahaan kehilangan kepercayaan pasar gara-gara persoalan lingkungan, meski secara keuangan masih terlihat sehat.


Masih Banyak yang Salah Paham Soal ESG

Meski istilah ESG makin sering terdengar, Marinus menilai penerapannya di Indonesia masih setengah hati. Banyak perusahaan fokus ke laporan, tapi lupa ke substansi.

“ESG sering dianggap ribet dan mahal. Padahal, justru perusahaan yang mengabaikannya menanggung risiko lebih besar,” ujarnya.

Pasar modal Indonesia, menurutnya, masih terlalu terobsesi pada keuntungan cepat, sehingga manfaat ESG jangka panjang sering diremehkan.


Temuan Paling Kuat: Komitmen Itu Kunci

Dari hasil penelitiannya di perusahaan-perusahaan Bursa Efek Indonesia, Marinus menemukan satu hal paling menentukan: komitmen keberlanjutan.

Bukan sekadar aturan, bukan sekadar laporan, tapi niat dan konsistensi perusahaan menjalankan praktik berkelanjutan yang paling berpengaruh pada nilai perusahaan.

“Komitmen yang nyata itu yang paling dihargai pasar,” tegasnya.


Kalau Lingkungan Rusak, Bisnis Ikut Rugi

Marinus juga menyinggung dampak eksploitasi alam yang berlebihan. Banjir, kerusakan hutan, dan konflik lingkungan bukan cuma soal alam, tapi juga soal biaya besar bagi dunia usaha.

“Kerusakan lingkungan ujungnya selalu mahal. Reputasi jatuh, izin bermasalah, operasional terganggu,” katanya.


Aturan Sudah Ada, Pola Pikir yang Perlu Dikejar

Saat ini, regulasi soal keberlanjutan di Indonesia sebenarnya sudah cukup kuat. Banyak perusahaan juga mulai rutin menerbitkan laporan keberlanjutan.

Namun, Marinus menilai tantangan terbesarnya adalah mengubah mindset: dari sekadar patuh aturan menjadi menjadikan keberlanjutan sebagai strategi bisnis.


Pesan Simpel tapi Kena

Di akhir pemaparannya, Marinus menyampaikan pesan yang mudah dicerna pelaku usaha:

“Kalau mau bisnis bertahan lama, jangan bermusuhan dengan lingkungan.”

Menurutnya, perusahaan yang ingin tetap relevan di masa depan tidak punya pilihan selain berdamai dengan isu lingkungan dan sosial.


Editor: Romo Kefas