Romo Kefas Menggugat: Analisis Ilmiah Gelombang Protes Sebagai Barometer Kesehatan Demokrasi Indonesia

Romo Kefas Menggugat: Analisis Ilmiah Gelombang Protes Sebagai Barometer Kesehatan Demokrasi Indonesia

Spread the love

Jakarta – Gelombang demonstrasi yang melanda Jakarta dan berbagai kota di Indonesia memicu keprihatinan sekaligus refleksi mendalam. Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pewarna Indonesia, melalui Direkturnya, Romo Kefas Hervin Devananda, tampil sebagai suara penyejuk yang mengajak semua pihak untuk memahami demonstrasi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai manifestasi kegelisahan dan harapan yang terpendam.

Opini ini akan mengupas pernyataan Romo Kefas dari perspektif kajian ilmiah, khususnya ilmu politik, sosiologi, dan psikologi sosial. Romo Kefas secara tepat menggambarkan demonstrasi sebagai “cermin kegelisahan”. Dalam ilmu politik, demonstrasi adalah salah satu bentuk partisipasi politik non-konvensional yang muncul ketika saluran-saluran partisipasi formal (seperti pemilihan umum atau lobi politik) dianggap tidak efektif atau tidak responsif.

Teori Deprivasi Relatif (Relative Deprivation Theory) menjelaskan bahwa demonstrasi seringkali dipicu oleh kesenjangan antara harapan masyarakat dan realitas yang mereka alami. Ketika masyarakat merasa hak-hak mereka diabaikan atau aspirasi mereka tidak didengar, demonstrasi menjadi opsi terakhir untuk menyuarakan ketidakpuasan.

Kritik Romo Kefas terhadap penanganan demonstrasi yang represif oleh aparat keamanan sangat relevan. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kekerasan yang berlebihan oleh aparat justru dapat meningkatkan eskalasi konflik dan mengurangi kepercayaan publik terhadap institusi negara. Teori Kontrol Sosial (Social Control Theory) menjelaskan bahwa legitimasi negara bergantung pada kemampuan negara untuk menegakkan hukum secara adil dan proporsional.

Romo Kefas secara cerdas mengaitkan seruannya dengan nilai-nilai kearifan lokal seperti “Nrimo ing Pandum”, “Dhamma”, “Tri Hita Karana”, dan “Ubuntu”. Pendekatan ini sangat penting karena dapat menjembatani perbedaan ideologi dan membangun dialog yang konstruktif. Dalam psikologi sosial, konsep identitas sosial (Social Identity Theory) menjelaskan bahwa individu cenderung lebih mudah menerima pesan yang disampaikan oleh orang yang dianggap sebagai bagian dari kelompok mereka.

Peringatan Romo Kefas kepada para politisi untuk tidak mempolitisasi kemarahan rakyat sangat relevan dalam konteks polarisasi politik yang semakin meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa politisasi isu-isu sensitif dapat memperdalam perpecahan sosial dan menghambat upaya rekonsiliasi. Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory) menjelaskan bahwa politisi cenderung bertindak untuk memaksimalkan kepentingan mereka sendiri. Namun, Romo Kefas mengingatkan bahwa kepentingan jangka panjang bangsa harus diutamakan di atas kepentingan politik sesaat.

Seruan Romo Kefas untuk membangun bangsa dengan refleksi, keberanian berubah, dan mendengarkan suara rakyat adalah pesan yang sangat penting dalam konteks Indonesia saat ini. Dengan menggabungkan perspektif ilmiah dan nilai-nilai kearifan lokal, Romo Kefas menawarkan solusi yang komprehensif untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi bangsa. Demonstrasi bukanlah ancaman, melainkan sinyal yang harus ditanggapi dengan serius. Dengan empati, akal sehat, dan komitmen untuk keadilan sosial, Indonesia dapat keluar dari krisis ini dengan lebih kuat dan bersatu.

Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ.,C.BJ. Ketua Pewarna Indonesia Propinsi Jakarta

error: Content is protected !!