YOGYAKARTA, 13/01/2025 – Perkembangan kekristenan di Jawa Tengah tak lepas dari nama besar Kyai Sadrakh (1835-1924) yang memiliki guru bernama Kyai Tunggul Wulung (1800-1885). Mereka adalah para penginjil pribumi Jawa yang memenangkan banyak jiwa bagi Kristus. Salah satu pengikut Kyai Sadrah adalah seorang petani sekaligus tukang kayu berbakat bernama Sahat Salmon Singoredjo dan isterinya, Priskilah Wagiyem. Setelah Kyai Sadrah wafat pada 1924, Sahat aktif dan melayani di Pasamoean Kristen Djawi yang sekarang disebut Gereja Kristen Jawa di Purworejo, Jawa Tengah.
Awalnya, Sahat Singoredjo adalah jemaat asuhan Kyai Sadrach yang terkenal dengan sebutan “Golongane Wong Kristen Kang Mardika”. Sahat dan isterinya dibaptis di Karangjoso, tempat tinggal Kyai Sadrach pada 1878. Pembaptisan itu dilayani oleh Zendeling (misionaris) Phillippus Bieger yang adalah zendeling dari Nederlandse Gereformeerde Zendingsvereniging (NGZV) yang membantu Kyai Sadarah membaptis para pengikutnya. Sahat selalu mengikuti ibadah raya (kumpulan gedhe) yang dipimpin Kyai Sadrach di Karangjoso.
Sahat Singoredjo sangat terinspirasi oleh pesan Kyai Sadrach tentang “Kesatuan Tubuh Kristus”. Waktu itu Kyai Sadrach membagikan lidi-lidi kepada setiap anggota jemaat sebagai ilustrasi bahwa jika lidi-lidi itu disatukan akan menjadi kuat dan berdampak seperti sebuah sapu lidi. Pesan itu mendorong Sahat untuk bergerak membangun jemaat baru yang bertumbuh.
Setelah Kyai Sadrah wafat pada 1924, Sahat Singoredjo bergabung dengan Gereja Kristen Jawa Purworejo yang kala itu bernama Pasamoean Kristen Djawi Gereformeerde ing Purworejo sejak 1934. Sahat Singoredjo kemudian secara proaktif membentuk kelompok Geeformeerde di daerah Jambean. Sahat menyediakan rumahnya sebagai tempat ibadah. Orang-orang yang pertama-tama bergabung dengan Geeformeerde adalah Sahat Singorejo, Partoredjo, Kerto Taruna, Pawiroredjo, dan Elio. Pada waktu itu, ibadah diadakan di rumah Sahat Singoredjo dan juga berpindah-pindah di rumah tokoh-tokoh awal itu. Pada masa awal itu penggembalaan ditangani oleh guru-guru Injil bernama R. Moeljono, Siswowiroyo, Prawiroharjo, Dwidjosewojo, Djasmin, dan Soedibjowaloejo. Sepeninggal Sahat Singorejo, sebidang tanah yang diwariskannya kepada anaknya – Josaphat Darmohatmojo – dihibahkan kepada jemaat Jambean untuk dipergunakan sebagai gedung gereja dan pastori.
Pengaruh Sahat Singoredjo bagi pertumbuhan Gereja Kristen Jawa tak berhenti sampai di situ tetapi berlanjut lintas generasi. Ia mendorong anak-anaknya untuk maju dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan. Salah seorang anaknya, Josaphat Darmohatmodjo (1899-1984) yang sempat menjadi anggota Provinciale Raad van Midden Java (DPRD Provinsi Jawa Tengah di era penjajahan Belanda) akhirnya menjadi Pendeta Pasamoean Kristen Djawi Purworejo dan kemudian menggembalakan Gereja Kristen Jawa di Yogyakarta. Kemudian seorang cucu Sahat yaitu Pdt. Edi Trimodoroempoko, M.Div (alm) menjadi tokoh Gereja Kristen Jawa di Surakarta. Salah seorang menantu dari Pdt. Josaphat Darmohatmodjo, yaitu Pdt Soegiarso Hadiprasetyo (alm) menggembalakan GKJ Jatimulyo di Yogyakarta.
Penulis: Haryadi Baskoro
Foto: sumber @gkj_sidorejo
Keterangan: penulis adalah cicit dari Sahat Singoredjo.

