SUMENEP – Panggung sandiwara dugaan penyalahgunaan solar bersubsidi di Sumenep memasuki babak yang membuat geram. Lebih dari sepekan berlalu sejak dua mobil pick up berisi jeriken ‘haram’ diamankan di Jalan Arya Wiraraja (6/11/2025), Polres Sumenep justru memilih peran sebagai penonton setia. Aksi ‘bisu’ ini bukan hanya mengusik rasa keadilan, tapi juga memicu gelombang protes dari masyarakat yang merasa dipermainkan.
Alih-alih mengungkap tabir gelap mafia solar, Polres Sumenep justru menciptakan aura misteri yang menyesakkan. Publik bertanya-tanya, mengapa kasus yang jelas-jelas merugikan negara dan rakyat ini justru dibiarkan mengambang? Apakah ada ‘dalang’ yang lebih kuat dari hukum, yang mampu membungkam aparat kepolisian?
“Masyarakat mendengar ada kemungkinan intervensi dari oknum tertentu. Jika benar ada hal seperti itu, tentu bisa berdampak pada proses penegakan hukum,” ujar seorang warga dengan nada sinis, mencerminkan kekecewaan yang mendalam.
Seorang tokoh masyarakat bahkan menuding adanya ‘pemain-pemain siluman’ yang terlibat dalam jaringan haram ini. “Mereka sering terlihat di lokasi distribusi. Siapa mereka? Apa hubungannya dengan para pejabat?” tanyanya dengan nada menantang.
Ketidakmampuan Polres Sumenep dalam mengusut tuntas kasus ini telah meruntuhkan kepercayaan publik. Masyarakat merasa dikhianati oleh aparat yang seharusnya menjadi benteng keadilan. Muncul spekulasi liar bahwa Sumenep telah menjadi ‘surga’ bagi para mafia yang kebal hukum.
Tokoh pemuda Pragaan dengan nada geram menyatakan, “Jika polisi tidak mampu mengungkap kasus ini, biarkan kami yang turun tangan! Kami tidak akan membiarkan Sumenep dikuasai oleh para perampok!”
Para aktivis bahkan mengancam akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran jika Polres Sumenep terus bersembunyi di balik alasan klise. Mereka menuntut transparansi, akuntabilitas, dan tindakan nyata untuk memberantas mafia solar hingga ke akar-akarnya.
“Ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, tapi ujian bagi integritas aparat penegak hukum. Jangan sampai kepercayaan masyarakat hilang karena ulah segelintir oknum yang serakah,” tegas seorang aktivis lingkungan.
Hingga berita ini diturunkan, Polres Sumenep masih enggan memberikan komentar. Sikap bungkam ini justru semakin memicu amarah masyarakat. Sumenep kini berada di ambang revolusi. Jika polisi terus menjadi penonton, bukan tidak mungkin masyarakat akan turun ke jalan dan mengambil alih peran sebagai ‘sutradara’ dalam drama keadilan ini.
YS

