Terang yang Dipersoalkan, Iman yang Diuji

Terang yang Dipersoalkan, Iman yang Diuji

Spread the love

Terang yang Dipersoalkan, Iman yang Diuji

Yohanes 8:12–20

Ada masa ketika iman tidak diuji oleh penderitaan, melainkan oleh keraguan yang tampak masuk akal. Keraguan yang dibungkus logika, data, dan pembuktian rasional. Inilah tantangan iman orang percaya di zaman modern: bukan sekadar percaya atau tidak percaya, tetapi percaya hanya jika bisa dibuktikan.

Ketika Yesus berkata, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12), pernyataan itu bukan hanya klaim rohani, melainkan deklarasi eksklusif. Ia tidak berkata, “Aku salah satu terang,” melainkan satu-satunya terang. Bagi orang Farisi, pernyataan ini terlalu berani, terlalu absolut, dan terlalu mengancam sistem berpikir mereka.

Mereka tidak langsung menolak Yesus dengan kekerasan, tetapi dengan skeptisisme teologis: “Engkau bersaksi tentang diri-Mu sendiri, kesaksian-Mu tidak sah.”
(Yoh. 8:13)

Di sinilah persoalan utama muncul: manusia berdosa selalu ingin menjadi hakim atas kebenaran Allah.

Ketika Logika Menghakimi Terang

Orang Farisi bukan orang bodoh. Mereka ahli Taurat, pemelihara hukum, dan penjaga moral publik. Namun justru di situlah letak bahayanya: pengetahuan tanpa kerendahan hati membuat manusia merasa berhak mengadili Allah.

Yesus menegaskan bahwa terang tidak membutuhkan legitimasi dari kegelapan. Terang cukup menjadi terang.
Masalahnya bukan pada kurangnya bukti, tetapi pada ketidakmampuan manusia berdosa untuk melihat.

“Penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama-sama dengan Dia yang mengutus Aku.”
(Yohanes 8:16)

Ini menyingkapkan kebenaran penting: iman bukan hasil pengamatan netral, melainkan respons terhadap penyataan Allah. Tanpa anugerah, manusia akan selalu salah menilai terang.

Sebuah Perumpamaan Kehidupan

Bayangkan seseorang yang lahir buta. Ia menuntut bukti warna matahari. Semua deskripsi ilmiah tidak akan membuatnya melihat terang, sampai matanya disembuhkan. Demikian pula iman: masalahnya bukan kurangnya argumen, tetapi rusaknya penglihatan rohani.

Yesus tidak datang untuk sekadar menjelaskan terang, tetapi menjadi terang itu sendiri.

Iman yang Menyerah, Bukan Iman yang Mengendalikan

Keraguan sering muncul bukan karena Tuhan tidak setia, tetapi karena kita ingin Tuhan bekerja sesuai skema kita. Kita percaya selama doa dijawab, selama hidup masuk akal, selama penderitaan bisa dijelaskan.

Namun iman sejati diuji justru ketika:

  • doa belum dijawab,
  • jalan terasa gelap,
  • dan logika tidak lagi cukup.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
(Ibrani 11:1)

Yesus, Sang Terang Dunia, tidak menjanjikan hidup tanpa kegelapan, tetapi penyertaan di tengah kegelapan.

Penutup Renungan

Meragukan firman Tuhan bukan hal baru. Yang berbahaya adalah menjadikan keraguan sebagai standar kebenaran. Terang tidak tunduk pada penilaian manusia; manusialah yang dipanggil untuk berjalan dalam terang.

Hari ini, pertanyaannya bukan: Apakah firman Tuhan bisa dibuktikan?
melainkan: Apakah kita bersedia tunduk pada terang, meski itu menyingkapkan dosa, kesombongan, dan keterbatasan kita?

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
(Mazmur 119:105)

Berjalanlah dalam terang, bukan karena segalanya jelas, tetapi karena Dia setia menuntun langkah orang yang percaya.

Tuhan memberkati.

✍️ Ev. Kefas Hervin Devananda, S.Th., M.Pd.K