Trans Beken dan Curhatan Bocah Bekasi: Macet Masih Ada, Harapan Jangan Ikutan Mandek

Trans Beken dan Curhatan Bocah Bekasi: Macet Masih Ada, Harapan Jangan Ikutan Mandek

Spread the love

Trans Beken dan Curhatan Bocah Bekasi: Macet Masih Ada, Harapan Jangan Ikutan Mandek

Oleh: Bocah Bekasi Utara

Bekasi – Orang Bekasi itu bukan tidak sabaran. Justru terlalu sabar. Cuma kadang kesabaran warga Bekasi suka diuji sama dua hal: hujan dan macet. Kalau dua-duanya datang barengan, itu sudah paket lengkap ujian hidup.

Sekarang lagi ramai Trans Beken. Bus baru, jalur baru, harapan baru. Warga Bekasi tentu senang. Tapi orang Bekasi juga realistis. Karena macet di kota ini bukan cerita lama yang tinggal kenangan, tapi masih kejadian sampai sekarang.


Macet Bekasi Itu Masih Realita, Bukan Nostalgia

Kalau ada yang bilang macet Bekasi sudah jauh berkurang, mungkin dia lewat jam subuh atau kebetulan jalannya lagi kosong.

Faktanya, beberapa titik masih jadi langganan uji kesabaran harian.

Kalau pagi hujan turun sedikit saja, biasanya langsung terasa:

Jalan Perjuangan
Namanya sudah cocok dengan nasib warga. Mau ke mana pun lewat sini, butuh perjuangan fisik dan mental. Lampu merahnya sering bikin orang mikir ulang soal pilihan hidup.

Simpang Sumber Arta arah Harapan Indah
Ini simpang yang terkenal. Kendaraan menumpuk bukan cuma karena volume, tapi karena semua merasa paling buru-buru.

Bulak Kapal
Ini ikon. Banyak warga Bekasi sepakat, kalau belum pernah terjebak di Bulak Kapal, berarti belum sah tinggal di Bekasi.

Arah Kaliabang – Pondok Ungu – Perwira
Jalur favorit pekerja. Setiap pagi sudah hafal polanya, tapi tetap saja kena.

Flyover Kranji arah Bekasi Barat
Kalau sudah merayap di sini, biasanya pesan ke kantor sudah siap dengan kalimat standar: masih di jalan.

Sampai hari ini, titik-titik itu masih padat di jam sibuk. Belum hilang. Belum sepenuhnya terurai.


Budaya Orang Bekasi: Mendukung, Tapi Tidak Lupa Mengingatkan

Budaya orang Bekasi itu ceplas-ceplos. Kalau ada program baru, pasti didukung. Tapi selalu ada kalimat pengaman:

“Yang penting jangan cuma launching, abis itu ilang.”

Bukan nyinyir. Itu pengalaman.

Warga Bekasi sudah berkali-kali melihat program bagus di awal, tapi perlahan menghilang ketika perhatian publik pindah. Maka Trans Beken sekarang bukan cuma harapan, tapi juga ujian konsistensi.


Transportasi Itu Soal Harga Diri Kota

Mayoritas warga Bekasi adalah pekerja. Banyak yang berangkat sebelum matahari muncul, pulang saat badan sudah kalah sama lelah.

Transportasi publik yang baik bukan soal gaya, tapi soal hidup:

  • Waktu tempuh berkurang
  • Stres berkurang
  • Produktivitas naik
  • Waktu bersama keluarga bertambah

Orang Bekasi tidak menuntut muluk-muluk. Tidak perlu bus mewah. Yang diminta sederhana: datang tepat waktu, jalurnya jelas, konsisten jalan, dan tidak berhenti di tengah jalan.


Satir Khas Orang Bekasi

Kalau Trans Beken nanti konsisten, warga Bekasi akan bangga. Tapi kalau sampai mandek, komentar warga biasanya singkat tapi pedas:

“Bekasi mah kuat. Kuat nunggu program yang kadang ikut macet juga.”


Harapan Bocah Bekasi

Trans Beken adalah peluang. Bukan cuma soal bus, tapi soal masa depan kota. Kota yang menghargai waktu warganya adalah kota yang paham arti kehidupan.

Macet mungkin belum bisa hilang sepenuhnya. Tapi kalau transportasi publik berjalan serius, warga Bekasi pasti perlahan mengubah cara hidupnya.

Karena bagi orang Bekasi, harapan itu sederhana: berangkat tidak ribet, pulang tidak emosi, hidup tidak habis di jalan.

Kalau itu bisa terwujud, warga Bekasi akan bilang dengan nada santai tapi penuh makna:

“Ya sudah… sekarang Bekasi mulai bener.”