Merayakan Tahun Baru di Aceh Jadi Bukti Nyata: Pancasila Hidup, Rakyat Jadi Prioritas
JAKARTA,02 Januari 2026 – Suara gembira anak-anak Aceh bergema di udara serambi Mekah saat mereka bertepuk tangan menyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Tak hanya membawa senyum dan hadiah, sang Presiden datang dengan pesan dalam yang menyentuh hati – bahwa Pancasila bukan sekadar tulisan di buku pelajaran, melainkan nilai hidup yang harus menghidupi setiap langkah bangsa Indonesia. Inilah momen yang membuat Organisasi Kebangsaan Setya Kita Pancasila (SKP) memberikan penghargaan spesial: gelar “Bapak Pancasila Garuda Sakti Nusantara”, sebagai pengakuan atas kepemimpinan yang dulu berdiri di garis depan perjuangan, kini membawa rakyat dan budaya Nusantara sebagai prioritas utama.
Bayangkan saja – seorang Presiden yang dulu dikenal sebagai sosok pejuang yang siap membela tanah air dengan segala cara, kini dengan lembut memegang tangan anak-anak kecil sambil belajar gerakan tari saman. Itulah yang dilihat Ketua Umum SKP Andreas Sumual saat menyaksikan perayaan Tahun Baru di Aceh.
“Kita mengenal beliau dari masa-masa di mana beliau berdiri di depan untuk melindungi negara. Kini, beliau menunjukkan bahwa kepemimpinan Pancasila juga tentang kepekaan terhadap rakyat dan cinta pada budaya kita. Saat beliau mengikuti irama tari saman – yang setiap gerakannya menceritakan semangat gotong royong dan persatuan – itu bukan sekadar hiburan. Itu adalah pernyataan bahwa setiap budaya di Nusantara layak untuk dihargai dan dilestarikan,” ujar Andreas dengan mata yang bersinar semangat.
Ia menambahkan bahwa pilihan Aceh bukanlah kebetulan. “Aceh adalah bukti bahwa semangat bela negara tumbuh dari akar sejarah yang dalam. Di sinilah rakyat berjuang gigih untuk tanah air, di sinilah nilai-nilai religiusitas dan persatuan menyatu dalam bingkai NKRI. Dengan memilih merayakan di sini, Presiden menunjukkan bahwa beliau tidak pernah melupakan jejak perjuangan rakyat dan ingin anak-anak tahu bahwa mereka adalah penjaga masa depan bangsa,” jelasnya dengan nada penuh penghormatan.
Saat Presiden Prabowo mengenakan kain songket Aceh yang diberikan oleh salah seorang anak-anak dan berdansa bersama mereka, Humas SKP Sandy Tumiwa, SH merasa terharu melihat bagaimana momen itu menyemai benih cinta tanah air di hati generasi muda.
“Bayangkan anak-anak kecil itu nanti – mereka akan selalu mengingat bahwa Presiden mereka pernah belajar budaya mereka, pernah tertawa bersama mereka. Itulah cara paling indah untuk menanamkan rasa bangga akan identitas diri. Cinta tanah air tidak harus diajarkan dengan cara yang berat – cukup dengan menunjukkan bahwa setiap daerah di Indonesia punya keunikan yang membuat bangsa kita lebih kaya,” paparnya dengan semangat yang menular.
Sandy juga mengungkapkan bahwa dampak dari momen itu sudah terasa di seluruh tanah air. “Banyak orang tua yang kini mulai mengajak anak-anak mereka belajar seni tradisional daerah masing-masing. Mereka melihat bahwa Presiden kita menghargai budaya lokal, jadi mengapa tidak kita juga? Ini adalah cara paling kuat untuk menjaga persatuan – dengan menghargai perbedaan dan bangga bersama sebagai anak-anak Indonesia,” tambahnya dengan senyum bangga.
Sebagai sosok yang hidup dan bernapas dengan budaya Nusantara, Pembina SKP, Sultan Sepuh Cirebon KGSS Png Heru Rusyamsi, SPSI, MH melihat dalam Presiden Prabowo sosok pemimpin yang benar-benar memahami bahwa budaya adalah jiwa bangsa.
“Garuda sebagai simbol negara kita melambangkan kebebasan dan kekuatan – seperti Presiden yang selalu berjuang untuk kemerdekaan dan martabat bangsa. Kata ‘Sakti Nusantara’ melambangkan kekuatan spiritual yang menghubungkan kita semua melalui budaya dan adat istiadat. Saya melihat bagaimana Presiden memperhatikan detail budaya Aceh – dari cara berpakaian hingga cara bersalaman – itu menunjukkan bahwa beliau sungguh menghargai warisan leluhur kita,” ujar Sultan Heru dengan nada penuh kebanggaan budaya.
Ia juga mengungkapkan bahwa penghargaan ini datang dari hati nurani seluruh unsur adat dan kebangsaan. “Kita dari berbagai daerah, dengan budaya yang berbeda-beda, sepakat bahwa Presiden Prabowo adalah sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, menghargai kearifan lokal, dan selalu siap membela negara. Gelar ini adalah bentuk apresiasi kita untuk beliau yang telah menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah tentang melayani rakyat dan menjaga identitas bangsa,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Tak berhenti hanya pada penghargaan, SKP juga mengumumkan langkah konkrit untuk menguatkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air di seluruh Indonesia.
“Kita akan meluncurkan program ‘Pancasila untuk Generasi Muda’ yang akan menjangkau ribuan sekolah di seluruh pelosok negeri. Program ini tidak hanya mengajarkan nilai-nilai Pancasila secara teoritis, tetapi juga melalui praktik nyata – seperti mengajar tari tradisional, membuat kerajinan lokal, dan bercerita tentang sejarah perjuangan daerah masing-masing,” ucap perwakilan SKP dengan semangat membara.
Selain itu, SKP juga akan menggelar Festival Budaya Nusantara yang menghubungkan berbagai daerah untuk menunjukkan kekayaan budaya Indonesia. “Kita ingin anak-anak dari Jawa bisa melihat keindahan tarian saman Aceh, anak-anak dari Aceh bisa belajar membuat wayang kulit Jawa. Begitulah cara kita membangun persatuan yang sebenarnya – dengan saling menghargai dan belajar satu sama lain,” tambahnya.
Momen kebersamaan Presiden dengan anak-anak Aceh bukan hanya menjadi kenangan manis, tetapi juga batu loncatan untuk membangun Indonesia yang lebih kuat – negeri yang tangguh dalam pertahanan, kaya dalam budaya, dan penuh dengan semangat cinta tanah air yang menghubungkan setiap anak bangsa dari Sabang hingga Merauke.
Setya Kita Pancasila
Bergerak dalam Nyata, Menjaga Jati Diri Bangsa
Jurnalis Romo Kefas

