Di Balik Layar Berita: Biaya, Sunyi, dan Teguran untuk Nurani

Di Balik Layar Berita: Biaya, Sunyi, dan Teguran untuk Nurani

Spread the love

Di Balik Layar Berita: Biaya, Sunyi, dan Teguran untuk Nurani

Bogor – Di tengah derasnya arus informasi digital, ketika berita muncul tanpa henti di layar ponsel kita, ada satu kenyataan yang jarang disadari: jurnalis media online independen bekerja dalam sunyi, membayar dengan tenaga dan uang pribadi, lalu sering kali dilupakan begitu saja.

Mereka tidak memiliki gaji tetap. Tidak ada tunjangan. Tidak ada jaminan sosial. Bahkan untuk menaikkan berita ke portal mereka sendiri, mereka harus mengeluarkan biaya: domain, hosting, server, listrik, paket data, transportasi liputan, hingga perawatan perangkat kerja.

Setiap kali tombol “publish” ditekan, bukan hanya berita yang naik—biaya juga ikut berjalan.

Banyak orang membaca berita secara gratis tanpa pernah membayangkan proses di baliknya. Ada kuota internet yang dibeli dari uang terakhir. Ada perjalanan liputan yang dibiayai sendiri. Ada malam-malam panjang menyusun kalimat agar tetap berimbang dan tidak melanggar etika.

Ironisnya, berita bisa viral, dibaca ribuan orang, dibagikan ke berbagai grup—tetapi pemasukan belum tentu ada. Iklan tidak selalu tersedia. Donasi tidak menentu. Honor, jika ada, bisa cair entah kapan.

Artinya sederhana:
Mereka bukan hanya bekerja tanpa kepastian penghasilan.
Mereka membayar agar kebenaran tetap memiliki ruang.

Dalam proses peliputan, jurnalis sering diminta untuk “memahami kondisi narasumber.” Memahami situasi hukum. Memahami tekanan psikologis. Memahami kepentingan tertentu.

Dan jurnalis melakukannya. Mereka menjaga etika. Mengonfirmasi sebelum tayang. Menghindari fitnah. Menulis secara profesional dan berimbang.

Namun tidak semua narasumber mau memahami tugas jurnalistik itu sendiri.

Ada yang mendesak agar cepat tayang. Ada yang terus menanyakan kapan berita dipublikasikan. Ada yang menggunakan media untuk membela diri, menyerang pihak lain, atau memperbaiki citra.

Tetapi setelah berita naik?

Sunyi.

Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada apresiasi. Tidak ada empati terhadap biaya, tenaga, dan risiko yang ditanggung jurnalis. Seolah media hanyalah alat gratis yang bisa digunakan kapan saja tanpa tanggung jawab.

Lebih menyakitkan lagi, ada yang menggunakan jasa media—meminta ruang, meminta sorotan, meminta pemberitaan—tetapi ketika berbicara soal biaya operasional atau dukungan, tiba-tiba lupa bahwa media juga hidup dari sistem yang harus berjalan.

Jurnalis independen bukan mesin publikasi. Mereka bukan alat pencitraan instan. Mereka bukan pekerja tanpa nilai yang bisa dipanggil saat dibutuhkan lalu diabaikan setelah selesai.

Setiap berita adalah hasil kerja intelektual. Ada riset. Ada verifikasi. Ada risiko hukum. Ada tanggung jawab moral.

Dan ketika seseorang menggunakan media untuk kepentingannya sendiri tetapi tidak memiliki empati, tidak punya kesadaran untuk menghargai proses, bahkan tidak memiliki nurani untuk mengapresiasi—itu bukan sekadar soal uang.

Itu soal etika.

Soal menghargai kerja orang lain.

Soal memahami bahwa media independen juga harus membayar server, listrik, dan kebutuhan hidup.

Artikel ini bukan untuk menyerang siapa pun. Tetapi untuk mengingatkan:
Jika Anda menggunakan jasa media, milikilah empati.
Jika Anda meminta diberitakan, pahamilah prosesnya.
Jika Anda merasa terbantu oleh publikasi, hargailah kerja di baliknya.

Karena tanpa dukungan dan kesadaran bersama, media independen akan perlahan mati—bukan karena tidak punya keberanian, tetapi karena kehabisan biaya dan tenaga.

Jurnalis mungkin tetap menulis karena panggilan nurani.
Tetapi nurani juga seharusnya hidup di pihak yang menggunakan mereka.

Di balik setiap berita yang Anda baca, ada seseorang yang mengorbankan kepastian hidupnya agar suara itu sampai kepada publik.

Dan menghargai itu bukan soal besar kecilnya angka.
Itu soal otak yang berpikir dan hati yang masih memiliki rasa.

(Red)