Kabupaten Tangerang – Warga Mekar Baru berduka, bukan hanya karena kehilangan salah satu anggota keluarga, tetapi juga karena dugaan ketidakpedulian Camat Iman Bahlawi. Sang Camat dituding “tutup mata” saat warganya, almarhumah Ibu Sarah, membutuhkan bantuan ambulans puskesmas. Ironisnya, di tengah situasi darurat, birokrasi SOP justru menjadi penghalang utama.
Keluarga almarhumah, yang berjuang membawa jenazah dari Waliwis ke Cibareng, Mekar Baru, harus menghadapi kenyataan pahit. Permohonan ambulans diduga dipersulit oleh pihak puskesmas dengan alasan SOP yang tidak fleksibel. Lebih menyakitkan, Camat Mekar Baru seolah lepas tangan, menambah pilu keluarga yang tengah berduka.
“Kami sangat kecewa dengan sikap Camat,” ungkap Samu, warga Mekar Baru dengan nada geram. “Seharusnya beliau lebih peka terhadap kesulitan warganya, apalagi ini keadaan darurat! Apakah SOP lebih penting daripada nyawa dan rasa kemanusiaan?”
Absennya Camat saat pemakaman semakin memperkuat citra negatif di mata warga. “Boro-boro hadir, mengucapkan belasungkawa saja tidak,” keluh seorang warga, mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap pemimpin wilayahnya.
Tindakan Camat Mekar Baru ini memicu pertanyaan besar: Apakah pejabat publik lebih mengutamakan prosedur ketat daripada kebutuhan mendesak warganya? Di mana empati dan rasa солидарность seorang pemimpin saat rakyatnya tengah dirundung duka?
Tokoh masyarakat dan perwakilan warga kini menuntut klarifikasi tegas dari Camat Iman Bahlawi. Mereka mendesak agar sang Camat segera memberikan penjelasan terbuka dan mengambil langkah konkret untuk memperbaiki citranya yang tercoreng.
Hingga saat ini, pihak Camat Mekar Baru masih bungkam. Masyarakat Mekar Baru menunggu, berharap ada itikad baik dan perubahan nyata dari pemimpin yang seharusnya menjadi pelayan rakyat, bukan sekadar penguasa yang bersembunyi di balik tembok birokrasi.
Redaksi

