FPN Sebut Agresi ke Venezuela Bukti Nyata Watak Imperialisme AS

FPN Sebut Agresi ke Venezuela Bukti Nyata Watak Imperialisme AS

Spread the love

Jakarta — Free Palestine Network (FPN) menilai agresi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela sebagai cerminan paling gamblang dari watak imperialisme global yang selama ini ditutupi jargon demokrasi dan hak asasi manusia. Organisasi tersebut menegaskan bahwa tindakan AS tidak hanya mengancam kedaulatan Venezuela, tetapi juga mencederai tatanan hukum internasional.

Sekretaris Jenderal FPN, Furqan AMC, menyatakan bahwa serangan militer AS ke Venezuela bukan peristiwa insidental, melainkan bagian dari pola panjang intervensi yang terus berulang di berbagai belahan dunia.

“Apa yang terjadi di Venezuela hari ini menegaskan kembali bahwa agresi adalah metode baku kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Negara dihancurkan, rakyat menjadi korban, dan sumber daya dijarah,” ujar Furqan dalam rilis media FPN, Sabtu (3/1/2026).

“Induk Terorisme Global”

FPN secara terbuka menyebut Amerika Serikat sebagai induk terorisme global, merujuk pada sejarah panjang intervensi militer dan operasi rahasia yang berdampak luas terhadap kemanusiaan.

“Jejak kekerasan AS dapat ditelusuri dari Amerika Latin, Afrika, hingga Timur Tengah. Chile, Guatemala, Kongo, Libya, Irak, Suriah, Palestina—semuanya memiliki luka sejarah akibat intervensi AS,” tegas Furqan.

Menurut FPN, sejak Perang Dunia II, kebijakan agresif AS—baik melalui invasi langsung, kudeta politik, maupun perang proksi—telah menyebabkan puluhan juta korban jiwa dan mengguncang stabilitas lebih dari tiga lusin negara.

Dinilai Langgar Hukum Internasional

FPN menilai agresi AS ke Venezuela sebagai pelanggaran serius terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya prinsip penghormatan terhadap kedaulatan dan larangan penggunaan kekuatan secara sepihak.

“Ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Kedaulatan Venezuela diinjak-injak, dan dunia seolah dipaksa menerima logika kekuatan,” kata Furqan.

Puluhan Korban dan Klaim Pengambilalihan

Dalam rilisnya, FPN menyebut sedikitnya 40 orang tewas dalam operasi militer pasukan elite AS ke Venezuela pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026. Korban dilaporkan berasal dari unsur militer dan warga sipil.

FPN juga menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang diklaim menyampaikan rencana pengambilalihan kendali Venezuela, termasuk cadangan minyaknya yang besar. Pernyataan tersebut, menurut FPN, memperjelas bahwa agresi bermotif ekonomi dan penjajahan modern.

Seruan Solidaritas Global

FPN menyatakan solidaritas penuh kepada rakyat Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro, serta menyerukan komunitas internasional untuk tidak tinggal diam.

“Jika dunia terus bungkam, maka agresi semacam ini akan terus berulang. Venezuela hari ini, negara lain besok,” ujar Furqan.

Sebagai bentuk sikap politik dan kemanusiaan, FPN menyatakan akan menggelar aksi solidaritas di berbagai kota di Indonesia dalam waktu dekat.

Jurnalis: Romo Kefas