Ia, Perempuan yang Tidak Pernah Mundur

Ia, Perempuan yang Tidak Pernah Mundur

Spread the love

Ia, Perempuan yang Tidak Pernah Mundur

Klikberita.net Jika orang lain melihat perempuan di foto itu, mungkin mereka hanya melihat senyum yang tenang. Mereka mungkin melihat sosok yang hangat, bersahaja, dan tampak damai. Tetapi bagiku, perempuan itu adalah kisah panjang yang dipenuhi badai, doa, dan cinta yang menolak menyerah.

Hidup kami tidak dimulai dengan kemewahan. Kami memulai semuanya dengan keberanian yang bahkan belum kami pahami sepenuhnya. Dua orang yang hanya tahu satu hal: berjalan bersama terasa lebih mungkin daripada berjalan sendiri.

Di Bogor, kami membangun rumah kami. Rumah yang dulu sering dipenuhi suara langkah kecil anak kami. Tuhan hanya mempercayakan satu anak kepada kami, dan justru karena itulah kami menjaganya seperti menjaga seluruh dunia kami.

Ia membesarkan anak kami dengan ketelatenan yang nyaris tak pernah terlihat. Aku bekerja, mengejar stabilitas hidup, berusaha menjadi pria yang kuat. Sementara ia, tanpa banyak kata, menjaga semuanya tetap utuh. Ia bukan hanya ibu bagi anak kami… ia adalah penjaga keseimbangan hidup kami.

Waktu berjalan seperti kereta yang tidak pernah berhenti. Anak kami tumbuh, meninggalkan masa kecilnya, lalu berdiri sebagai mahasiswa semester enam di kampus ternama di Bandung. Setiap kali ia pulang ke Bogor, rumah kami hidup kembali. Setiap kali ia kembali ke Bandung, rumah kami terasa sunyi… tetapi justru di situlah kami belajar bahwa cinta juga bisa tumbuh dalam keheningan.

Lalu hidup tiba‑tiba berubah arah.

Hari itu datang tanpa aba‑aba. Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu yang tidak terlihat. Nafasku terpotong. Dunia berputar terlalu cepat lalu tiba‑tiba terasa jauh. Aku mendengar suara orang panik, langkah kaki tergesa… lalu semuanya perlahan tenggelam dalam gelap.

Serangan jantung.

Aku berdiri di ambang kesadaran. Hampir koma. Hidup terasa seperti tali yang perlahan terlepas dari genggaman.

Ketika dokter mengatakan aku harus menjalani operasi pemasangan ring jantung, aku melihat perubahan yang tak bisa disembunyikan di mata istriku. Ia tetap tersenyum. Tetap berbicara dengan suara tenang. Tetapi aku tahu… di dalam dirinya ada badai yang sama besarnya dengan yang sedang menghantam tubuhku.

Hari operasi itu seperti adegan yang berjalan lambat.

Lorong rumah sakit terasa panjang, dingin, dan terlalu terang. Brankar yang membawaku bergerak pelan, seolah memberi waktu untuk pikiranku memutar ulang seluruh hidupku. Rumah kami. Anak kami. Dan perempuan yang selalu berjalan di sampingku.

Ketika brankar berhenti di depan pintu ruang operasi, aku menoleh.

Ia berdiri di sana.

Sendiri. Tegak. Diam.

Tidak ada tangisan. Tidak ada kepanikan. Hanya tatapan yang begitu kuat hingga mampu menenangkan ketakutan yang hampir merobohkanku.

Tangannya saling menggenggam erat. Aku tahu ia sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh.

Aku ingin mengatakan banyak hal.
Aku ingin meminta maaf.
Aku ingin berterima kasih.
Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya lebih dari yang pernah kuucapkan.

Namun waktu tidak memberi ruang.

Aku hanya menggenggam tangannya sesaat. Genggaman singkat… tetapi terasa seperti seluruh perjalanan hidup kami dirangkum di dalamnya.

Ia mengangguk pelan.

Tatapannya berkata:

“Aku menunggumu pulang.”

Pintu ruang operasi tertutup.

Di dalam ruangan dingin itu, ketika kesadaranku mulai memudar, wajahnya justru muncul semakin jelas. Wajah yang selama ini kupandang setiap hari, tetapi baru kusadari betapa ia adalah alasan aku ingin terus hidup.

Operasi berlangsung panjang. Dunia terasa hilang tanpa waktu.

Ketika aku membuka mata kembali, semuanya terasa asing… tetapi satu hal tetap sama.

Ia masih ada di sana.

Matanya lelah. Wajahnya menyimpan kecemasan yang belum sepenuhnya hilang. Tetapi senyumnya tetap ada. Senyum yang berusaha mengatakan bahwa aku telah kembali.

Di belakangnya, anak kami berdiri. Anak yang dulu berlari di ruang tamu rumah kami di Bogor… kini berdiri dewasa, mencoba terlihat kuat untuk ayahnya.

Di saat itulah aku memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikirkan:

Cinta bukan tentang siapa yang membuat hidup terasa mudah.

Cinta adalah tentang siapa yang tetap bertahan… ketika hidup hampir runtuh.

Sejak hari itu, aku melihat perempuan di foto itu dengan cara yang berbeda. Aku melihat garis‑garis waktu di wajahnya sebagai catatan perjuangan. Aku melihat rambut yang mulai berubah sebagai bukti perjalanan yang ia lalui bersamaku.

Dan anehnya… aku jatuh cinta lagi.

Lebih dalam.
Lebih sadar.
Lebih takut kehilangannya.

Kini, setiap kali aku melangkah masuk ke rumah kami di Bogor dan melihat ia duduk menungguku, aku tahu satu hal:

Aku tidak hanya pulang ke rumah.
Aku pulang ke alasan mengapa aku bertahan hidup.

Karena bagiku, perempuan dalam foto itu bukan hanya istriku.

Ia adalah penjaga kehidupan.
Ia adalah doa yang tidak pernah berhenti.
Ia adalah alasan jantungku memilih terus berdetak… bahkan setelah hampir berhenti.