Bogor – Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang terus bergerak, kita seringkali lupa bahwa kebebasan dan keadilan bukanlah hadiah yang diberikan secara cuma-cuma. Mereka adalah hasil dari perjuangan panjang, dari darah dan keringat, dari air mata dan pengorbanan. Janapada Cakra, sebagai konsep politik baru, mengajak kita untuk memahami bahwa kekuatan bangsa tidak bersumber dari gedung-gedung megah atau kursi kekuasaan, melainkan dari lingkaran kesadaran kolektif rakyat itu sendiri.
Seperti yang dikatakan dalam Bhagavad Gita, “Karmanye vadhikaraste Ma Phaleshu kadacana” yang berarti “Kamu memiliki hak untuk melakukan tindakan, tetapi tidak untuk hasilnya”. Ini mengingatkan kita bahwa perjuangan untuk kebebasan dan keadilan bukanlah tentang hasil akhir, melainkan tentang proses dan tindakan yang kita lakukan. Prinsip ini sejalan dengan pepatah Jawa, *”Urip Iku Urup”*, yang berarti hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain.
Ricuh di depan Gedung DPR RI pada tanggal 25 Agustus 2025, yang berakhir dengan kericuhan dan dua demonstran terluka, bukanlah sekadar letupan emosional massa, melainkan gelombang kesadaran baru yang mulai berwujud sebagai gerakan politik moral. Istilah Janapada Cakra kini menjadi bendera baru yang berkibar di tengah bara perlawanan rakyat, memanggil setiap jiwa untuk bangkit dan menuntut hak-hak yang telah lama dirampas.
Krisis legitimasi DPR yang terjadi saat ini merupakan gejala krisis politik yang lebih dalam. DPR telah kehilangan fungsi hakikinya sebagai penyalur aspirasi rakyat. Rakyat berteriak, tetapi suara itu dipantulkan kembali oleh tembok tinggi dan kaca gelap. Maka rakyat memutuskan untuk tidak lagi berdiri di luar pagar. Mereka masuk, mereka merangsek, karena di situlah letak pusat keputusan yang seharusnya mereka kuasai. Prinsip “Biso ngadeg dhéwé, ora mung ngandelaké wong liya” atau bisa berdiri sendiri, tidak hanya mengandalkan orang lain, relevan dengan semangat Janapada Cakra yang mendorong rakyat untuk mandiri dan proaktif dalam memperjuangkan hak-hak mereka.
Janapada Cakra adalah jawaban atas krisis legitimasi ini. Ia adalah panggilan moral, panggilan sejarah. Dalam lingkaran ini, rakyat tidak lagi diminta menunggu, tetapi dituntut untuk bertindak. Gedung DPR boleh runtuh, kursi-kursi kekuasaan boleh dibalik, tetapi Janapada Cakra tidak akan pernah padam. Ia adalah api yang menyala di hati setiap orang yang menolak diperlakukan sebagai objek.
Dengan lahirnya Janapada Cakra, kericuhan di DPR RI pada tanggal 25 Agustus 2025 dibaca ulang sebagai momentum kebangkitan. Bukan sekadar protes, melainkan kelahiran kesadaran politik baru. Gelombang rakyat yang sebelumnya tercerai-berai kini menemukan simbol penyatu. Janapada Cakra bukan sekadar wacana, melainkan alat baca dan alat perjuangan. Ia mengajarkan bahwa demokrasi tidak hidup di dalam kertas konstitusi saja, melainkan di dalam keberanian rakyat menjaga kedaulatan mereka.
Peristiwa penting lainnya yang memperkuat semangat Janapada Cakra adalah pembunuhan Affan Kurniawan pada tanggal 28 Agustus 2025, seorang pengemudi ojek daring yang meninggal dunia setelah ditabrak dan dilindas oleh kendaraan taktis milik Brimob dalam sebuah kerusuhan di Jakarta. Peristiwa ini memicu unjuk rasa yang lebih besar di berbagai tempat di Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 2025, Affan Kurniawan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat, sementara Moh Umar Amirudin, pengemudi ojek daring lain yang terluka dalam insiden serupa, masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pelni, Palmerah, Jakarta Barat.
Janapada Cakra bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah perjalanan panjang. Ia adalah proses pembelajaran, proses perjuangan, dan proses pembebasan. Dalam perjalanan ini, rakyat akan menemukan dirinya sendiri, menemukan kekuatan dan kelemahannya, dan menemukan jalan menuju kebebasan dan keadilan. Dengan Janapada Cakra, rakyat Indonesia akan terus berjuang untuk mendapatkan hak-hak mereka, untuk menjaga kedaulatan mereka, dan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Dalam pusaran waktu yang terus bergerak, Janapada Cakra akan menjadi api yang membakar jiwa rakyat, mengingatkan mereka bahwa kebebasan dan keadilan bukanlah hadiah yang diberikan secara cuma-cuma, melainkan hasil dari perjuangan panjang dan pengorbanan. Dengan Janapada Cakra, rakyat Indonesia akan terus maju, terus berjuang, dan terus menciptakan sejarah baru bagi bangsa mereka.
Janapada Cakra juga mengajarkan kita pentingnya membangun kesadaran kolektif di tengah masyarakat. Dengan memahami bahwa kekuatan bangsa bersumber dari lingkaran kesadaran kolektif rakyat itu sendiri, kita dapat bersama-sama memperjuangkan hak-hak kita dan menciptakan perubahan yang lebih baik.
Dalam konteks ini, Janapada Cakra menjadi simbol penting dalam menjaga kedaulatan rakyat. Ia mengingatkan kita bahwa demokrasi tidak hanya hidup di dalam kertas konstitusi, tetapi juga di dalam keberanian rakyat untuk menjaga kedaulatan mereka.
Perjuangan rakyat Indonesia belum berakhir. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi, masih banyak hak-hak yang harus diperjuangkan. Namun, dengan Janapada Cakra sebagai simbol perlawanan dan harapan baru, kita yakin bahwa rakyat Indonesia akan terus maju dan mencapai tujuan mereka.
Janapada Cakra bukan hanya sebuah konsep politik, tetapi juga sebuah warisan untuk generasi mendatang. Ia akan menjadi simbol perlawanan dan harapan baru bagi rakyat Indonesia, mengingatkan mereka akan pentingnya memperjuangkan hak-hak mereka dan menjaga kedaulatan mereka.
Dengan demikian, Janapada Cakra akan terus menjadi api yang membakar jiwa rakyat, mengingatkan mereka akan pentingnya perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai kebebasan dan keadilan. Ia akan menjadi warisan abadi bagi rakyat Indonesia, simbol perlawanan dan harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.
Oleh Romo Kefas Jurnalis Pewarna Indonesia