“Jika Berita Ini Viral, Seseorang Bisa Hancur…” — Pergumulan Sunyi Seorang Jurnalis Kristen

“Jika Berita Ini Viral, Seseorang Bisa Hancur…” — Pergumulan Sunyi Seorang Jurnalis Kristen

Spread the love

“Jika Berita Ini Viral, Seseorang Bisa Hancur…” — Pergumulan Sunyi Seorang Jurnalis Kristen

Jakarta – “Kalau berita ini naik sekarang, pasti viral.”

Kalimat itu terdengar biasa di ruang redaksi. Tetapi malam itu, bagi seorang jurnalis, kalimat itu terasa seperti palu yang memukul hatinya sendiri.

Di layar laptopnya, sebuah berita siap dipublikasikan. Data sudah terkumpul. Narasumber sudah diwawancarai. Redaksi menunggu. Media sosial sudah ramai membicarakan isu yang sama.

Namun ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan.

Ia belum sepenuhnya yakin berita itu benar.

Ia tahu, jika berita itu dipublikasikan, nama seseorang bisa hancur. Reputasi keluarga bisa runtuh. Bahkan kehidupan seseorang bisa berubah selamanya.

Tetapi jika ia menunda, ia bisa dianggap lambat. Ia bisa kehilangan momentum. Ia bisa kehilangan kepercayaan redaksi.

Dan di titik itulah, jurnalis tidak sedang menulis berita. Ia sedang berperang dengan nuraninya sendiri.

Hari ini, dunia media berubah drastis. Informasi menyebar dalam hitungan detik. Berita tidak lagi hanya dinilai dari kebenarannya, tetapi dari seberapa cepat dan seberapa viral ia menyebar.

Banyak media berlomba menjadi yang pertama, bukan yang paling benar.

Namun publik sering lupa, di balik setiap berita ada manusia. Ada keluarga. Ada masa depan yang bisa hancur hanya karena satu narasi yang keliru.

Alkitab mengingatkan dengan sederhana namun tajam:

“Buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain.”
(Efesus 4:25)

Bagi jurnalis Kristen, ayat ini bukan sekadar pengajaran rohani. Ini adalah keputusan hidup yang harus diambil setiap hari.

Ada jurnalis yang pernah meliput bencana alam. Ia melihat seorang ibu memeluk anaknya di antara puing rumah yang hancur. Kamera merekam. Wartawan mewawancarai. Gambar disiarkan berulang-ulang.

Berita itu menjadi trending topic.

Tetapi tidak banyak yang tahu, setelah siaran selesai, ibu itu masih duduk di tempat yang sama, masih menangis, masih kehilangan segalanya.

Di momen seperti itu, jurnalis sering bertanya dalam hati: apakah ia sedang membantu masyarakat, atau justru memanfaatkan penderitaan mereka?

Alkitab berkata:

“Menangislah dengan orang yang menangis.”
(Roma 12:15)

Jurnalisme yang kehilangan empati bukan hanya kehilangan hati. Ia kehilangan alasan keberadaannya.

Jika dahulu jurnalis melawan sensor dan tekanan kekuasaan, hari ini mereka menghadapi musuh yang jauh lebih rumit: teknologi.

Artificial Intelligence dapat menciptakan video palsu. Deepfake dapat membuat kebohongan terlihat nyata. Informasi palsu dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi kebenaran.

Publik sering tidak sadar bahwa mereka sedang menonton kebohongan yang tampak meyakinkan.

Dalam situasi ini, jurnalis Kristen menghadapi pilihan besar: mengikuti arus viralitas, atau mempertahankan integritas.

Seorang jurnalis pernah menulis kisah seorang ayah yang bekerja sebagai buruh harian. Tidak ada pejabat yang peduli. Tidak ada media besar yang meliput. Hanya satu tulisan sederhana tentang perjuangan seorang ayah menghidupi keluarganya.

Berita itu tidak viral. Tidak trending. Tetapi bagi keluarga itu, berita tersebut menjadi satu-satunya pengakuan bahwa mereka tidak dilupakan.

Alkitab menegaskan:

“Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana.”
(Amsal 31:8)

Di sinilah jurnalisme menemukan maknanya. Bukan sekadar menyampaikan berita, tetapi menghadirkan keadilan.

Banyak jurnalis terlihat tegar di lapangan. Mereka berdiri di tengah konflik. Mereka meliput tragedi. Mereka mewawancarai korban.

Namun jarang ada yang tahu, mereka sering membawa pulang luka yang tidak terlihat.

Ada jurnalis yang menulis berita tentang kematian, lalu pulang menatap keluarganya dengan mata yang masih menyimpan kesedihan. Ada jurnalis yang harus terlihat profesional, padahal hatinya sedang hancur melihat penderitaan yang ia liput.

Jurnalisme bukan hanya pekerjaan. Ia adalah perjalanan batin.

Dalam pergumulan itulah, Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia hadir sebagai ruang penguatan moral dan spiritual. Pewarna Indonesia menjadi tempat wartawan Kristen saling menguatkan, saling mengingatkan, dan saling menjaga agar tidak kehilangan arah panggilan.

Di komunitas ini, wartawan belajar bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi. Jurnalisme adalah pelayanan kemanusiaan.

Kembali ke ruang redaksi malam itu.

Jurnalis itu akhirnya membuat keputusan. Ia menutup laptopnya. Ia menunda publikasi berita. Ia memilih memeriksa ulang fakta. Ia memilih kebenaran, meskipun berisiko kehilangan viralitas.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penghargaan. Tetapi di dalam hatinya, ia tahu ia telah menjaga sesuatu yang jauh lebih penting: nuraninya.

Yesus pernah berkata:

“Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
(Yohanes 8:32)

Menjadi jurnalis Kristen berarti berjalan di jalan sunyi. Jalan yang penuh tekanan, penuh dilema, dan sering kali tidak terlihat publik. Namun justru di jalan sunyi itulah masa depan jurnalisme ditentukan.

Karena bangsa yang kehilangan pers yang jujur, perlahan akan kehilangan arah kebenarannya.

Dan selama masih ada jurnalis yang berani memilih kebenaran daripada viralitas, harapan bagi bangsa ini akan tetap hidup.


Penulis:

Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
Jurnalis Senior Pewarna Indonesia
Pemimpin Redaksi PelitaNusantara.com
Rohaniawan Sinode GPIAI