Jurnalis Kristen di Persimpangan Zaman: Antara Kebenaran, Nurani, dan Panggilan Ilahi

Jurnalis Kristen di Persimpangan Zaman: Antara Kebenaran, Nurani, dan Panggilan Ilahi

Spread the love

Jurnalis Kristen di Persimpangan Zaman: Antara Kebenaran, Nurani, dan Panggilan Ilahi

Bogor – Di tengah derasnya arus informasi, tekanan viralitas, dan polarisasi opini publik, jurnalisme tidak lagi sekadar soal siapa tercepat memberitakan. Ia menjadi soal siapa yang paling setia menjaga kebenaran.

Bagi jurnalis Kristen, profesi ini bukan hanya pekerjaan intelektual—melainkan panggilan moral dan spiritual.

“Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
— Yohanes 8:32

Kebenaran dalam iman Kristen bukan sekadar akurasi data, tetapi kesetiaan pada terang Allah dalam setiap keputusan redaksional.

Tekanan algoritma dan budaya klik sering menggoda media untuk memilih sensasi dibanding substansi. Namun firman Tuhan menegaskan:

“Bibir yang benar dikenan TUHAN, tetapi orang yang berlaku curang menjadi kekejian bagi-Nya.”
— Amsal 12:22

Integritas bukan pilihan tambahan; ia adalah inti dari jurnalisme itu sendiri.

Filsuf besar mengingatkan bahwa keunggulan bukan tindakan sesaat, melainkan kebiasaan. Maka jurnalis Kristen membangun kebiasaan verifikasi, kebiasaan adil, kebiasaan jujur—bukan hanya ketika diawasi, tetapi juga ketika tak ada yang melihat.

Netralitas sering disalahartikan sebagai sikap tanpa pendirian. Padahal Alkitab berkata:

“Belalah hak orang lemah dan anak yatim, tegakkanlah keadilan bagi orang sengsara dan orang miskin!”
— Mazmur 82:3

Artinya, ketika berhadapan dengan ketidakadilan, diam bukanlah kebajikan.

Pemikir etika modern menyatakan bahwa tindakan moral harus dapat dijadikan hukum universal. Jika manipulasi dijadikan standar, maka manipulasi akan menjadi norma. Tetapi jika kejujuran ditegakkan, maka kepercayaan publik akan bertumbuh.

Jurnalis Kristen tidak dipanggil untuk netral terhadap kebohongan. Ia dipanggil untuk adil dan bertanggung jawab.

Kebenaran dalam kekristenan tidak dilepaskan dari kasih.

“Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih…”
— Efesus 4:15

Kasih bukan berarti melembutkan fakta.
Kasih berarti menjaga martabat manusia, bahkan ketika mengkritik kesalahannya.

Tokoh reformasi pernah berkata, “Here I stand, I can do no other.” Itu adalah pernyataan hati nurani. Demikian pula jurnalis Kristen—ia berdiri bukan karena ingin sensasi, tetapi karena tidak bisa mengkhianati kebenaran.

Alkitab mengingatkan:

“Hendaklah setiap orang cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah.”
— Yakobus 1:19

Dalam ruang redaksi, keputusan cepat sering diperlukan. Namun hikmat menuntut kehati-hatian. Filsuf politik mengingatkan bahwa kebohongan publik yang terus-menerus dapat merusak fondasi realitas bersama.

Karena itu, jurnalis Kristen bukan sekadar menyampaikan informasi. Ia menjaga agar realitas tidak dipelintir.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
— Kolose 3:23

Ayat ini memberi makna terdalam bagi profesi jurnalistik. Setiap tulisan bukan hanya untuk publik, tetapi juga dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Jurnalis Kristen dipanggil untuk:

  • Jujur dalam data
  • Adil dalam framing
  • Rendah hati dalam opini
  • Tegas dalam membela kebenaran

Ia tidak sekadar membentuk opini publik, tetapi membangun kesadaran moral masyarakat.

Di zaman ketika informasi bisa direkayasa dan opini bisa dimobilisasi, jurnalis Kristen berdiri sebagai penjaga nurani publik. Ia sadar bahwa setiap kata memiliki konsekuensi—bukan hanya sosial, tetapi juga spiritual.

Kebenaran mungkin tidak selalu viral.
Integritas mungkin tidak selalu populer.
Namun kesetiaan selalu bernilai kekal.

Karena pada akhirnya, jurnalis Kristen tidak hanya menulis untuk sejarah.
Ia menulis di hadapan Tuhan.


Oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Jurnalis Senior Pewarna Indonesia