Jurnalis Kristen di Tengah Badai Informasi: Ketika Nurani Dipertaruhkan dan Kebenaran Tidak Lagi Populer
Bogor – Di era ketika kebohongan dapat viral lebih cepat daripada kebenaran, profesi jurnalis sedang berdiri di tepi jurang krisis moral. Dunia informasi hari ini bukan lagi sekadar ruang penyampaian fakta, melainkan arena pertarungan kepentingan, manipulasi opini, dan perdagangan persepsi publik. Media tidak jarang berubah menjadi panggung propaganda, sementara kebenaran dipaksa bernegosiasi dengan rating, klik, dan kepentingan ekonomi.
Di tengah kekacauan itu, jurnalis Kristen menghadapi pergumulan yang jauh lebih berat daripada sekadar tuntutan profesionalisme. Mereka sedang mempertaruhkan nurani. Mereka sedang diuji apakah masih mau berdiri di pihak terang ketika dunia memilih berjalan bersama bayang-bayang.
Jurnalisme bukan sekadar pekerjaan menyusun kata. Jurnalisme adalah pertaruhan moral. Ketika berita diproduksi tanpa integritas, sesungguhnya yang runtuh bukan hanya kepercayaan publik, tetapi fondasi demokrasi itu sendiri.
Realitas media modern menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Informasi tidak lagi selalu diukur berdasarkan kebenaran, tetapi berdasarkan nilai jual. Sensasi lebih dihargai daripada substansi. Konflik lebih disukai daripada rekonsiliasi. Kebisingan opini sering dianggap lebih menarik daripada kejernihan fakta.
Di titik inilah jurnalis Kristen tidak boleh larut dalam arus pragmatisme. Mereka dipanggil untuk menjadi penyeimbang ketika media berubah menjadi pasar kepentingan. Mereka harus berani menolak jurnalisme instan yang mengorbankan akurasi demi kecepatan.
Kebenaran tidak pernah lahir dari tergesa-gesa. Kebenaran lahir dari keberanian menolak manipulasi.
Salah satu krisis terbesar dunia pers bukan hanya datang dari luar, tetapi justru dari dalam ruang redaksi itu sendiri. Media sering kali terjebak dalam tarik-menarik kepentingan pemilik modal, pengaruh politik, hingga tekanan kekuasaan.
Banyak jurnalis akhirnya dipaksa memilih antara idealisme atau keamanan karier. Tidak sedikit yang menyerah. Tidak sedikit yang memilih diam. Tidak sedikit pula yang secara perlahan menggadaikan nurani demi kenyamanan.
Di sinilah jurnalis Kristen menghadapi panggilan iman yang paling keras. Mereka dipanggil bukan untuk menjadi pemberontak, tetapi menjadi penjaga moral publik. Mereka dipanggil bukan untuk melawan kekuasaan secara emosional, tetapi untuk mengingatkan kekuasaan dengan keberanian etis.
Sejarah membuktikan, demokrasi tidak runtuh karena kekuasaan yang kuat, tetapi karena suara kebenaran yang memilih bungkam.
Indonesia sedang menghadapi fenomena polarisasi sosial yang semakin tajam. Media sering kali justru memperkeruh keadaan dengan pemberitaan yang provokatif, bias, dan memecah belah masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, jurnalis Kristen memiliki tanggung jawab moral yang tidak ringan. Mereka harus menjadi penjaga persatuan, bukan penjual konflik. Mereka harus mampu menyampaikan fakta tanpa memperuncing kebencian.
Jurnalisme yang berlandaskan iman bukan sekadar menyampaikan realitas, tetapi menghadirkan perspektif yang membangun rekonsiliasi sosial.
Salah satu ancaman terbesar dunia pers modern adalah hilangnya dimensi spiritual dalam praktik jurnalistik. Profesi ini semakin dipandang sebagai pekerjaan teknis, bukan panggilan moral.
Tanpa spiritualitas, jurnalisme mudah berubah menjadi alat manipulasi. Tanpa kedalaman iman, jurnalis mudah terjebak dalam kompromi etika.
Jurnalis Kristen seharusnya membawa dimensi spiritual dalam setiap karya jurnalistiknya. Mereka tidak hanya menulis berita, tetapi menulis dengan tanggung jawab kepada Tuhan, masyarakat, dan sejarah.
Solidaritas Insan Pers: Benteng Terakhir Marwah Profesi
Profesi jurnalis tidak akan bertahan jika setiap individu berjalan sendiri. Kesolidan antar jurnalis menjadi benteng terakhir dalam menjaga integritas profesi.
Ketika satu jurnalis dikriminalisasi karena mempertahankan kebenaran, maka seluruh komunitas pers harus berdiri bersama. Jika jurnalis saling menjatuhkan, profesi ini akan hancur dari dalam.
Komunitas seperti Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas spiritual dan profesional. Pewarna tidak hanya menjadi wadah organisasi, tetapi menjadi ruang pembinaan moral bagi jurnalis Kristen.
Dunia digital melahirkan generasi jurnalis yang cepat, tetapi belum tentu mendalam. Banyak yang mahir teknologi, tetapi miskin refleksi etika. Banyak yang piawai membuat konten, tetapi kurang memahami tanggung jawab moral profesi.
Jika regenerasi jurnalis tidak dibangun dengan fondasi karakter, maka masa depan pers akan dipenuhi oleh pekerja media tanpa nurani.
Jurnalis senior Kristen memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi mentor, menanamkan nilai integritas, dan menjaga api idealisme tetap menyala dalam generasi baru.
Dalam tradisi iman, nabi selalu hadir di tengah krisis moral masyarakat. Nabi bukan sekadar penyampai pesan, tetapi penjaga suara kebenaran ketika semua orang memilih diam.
Hari ini, jurnalis Kristen memiliki peran kenabian dalam demokrasi modern. Mereka dipanggil untuk bersuara ketika keadilan diabaikan. Mereka dipanggil untuk membela kaum lemah yang sering tidak memiliki ruang bicara.
Peran kenabian jurnalis bukan berarti menjadi agitator, melainkan menjadi penjaga nurani bangsa.
Profesi jurnalis bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah panggilan sejarah. Dalam dunia yang semakin bising oleh manipulasi informasi, jurnalis Kristen harus tetap menjadi suara yang jernih.
Jurnalis Kristen harus netral dalam ruang publik, tetapi tegas dalam nurani. Mereka harus berani menjaga demokrasi dari ancaman manipulasi informasi. Mereka harus berdiri sebagai penjaga kebhinekaan dan pelayan kebenaran.
Karena ketika jurnalis kehilangan integritas, bangsa kehilangan arah. Namun ketika jurnalis tetap berdiri di pihak kebenaran, harapan peradaban masih memiliki masa depan.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
Jurnalis Senior Pewarna Indonesia
Pemimpin Redaksi PelitaNusantara.com
Rohaniawan Sinode GPIAI

