K U A S A Y E S U S B E S A R
Kelemahan adalah keterbatasan yang kita warisi atau kita alami sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa hidup yang sering kali berada di luar kuasa kita untuk menolaknya. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna—baik secara fisik, emosional, maupun intelektual. Karena itulah, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk bermegah atau membanggakan diri seolah-olah hidup ini sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Ketika kita menyadari bahwa kita memiliki banyak kelemahan, seharusnya hal itu tidak membuat kita takut atau pesimis. Sebab pada hakikatnya, setiap manusia memiliki kelemahan masing-masing. Kelemahan bukanlah pengecualian, melainkan bagian dari keberadaan manusia itu sendiri.
Mungkin saat ini kita merasa sedang berada dalam fase kelemahan—merasa tidak berdaya, terbatas, bahkan rapuh. Namun ada satu hal penting yang perlu kita perhatikan: kelemahan bukanlah masalah utama. Yang jauh lebih menentukan adalah apa yang kita lakukan ketika kita sadar bahwa kelemahan itu ada dalam diri kita.
Ada kalanya Tuhan justru mengizinkan kelemahan hadir dalam hidup kita, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membentuk. Di dalam kelemahan itu, Tuhan mengajar kita tentang kerendahan hati, ketergantungan, dan iman yang sejati. Lebih dari itu, melalui kelemahan manusia, Tuhan hendak menyatakan kuasa-Nya yang tidak terbatas.
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
(2 Korintus 12:9)
Tuhan tidak pernah berkenan kepada orang yang merasa dirinya paling pintar, paling kuat, dan paling mampu dengan kekuatan sendiri. Sebaliknya, Tuhan berkenan kepada mereka yang menyadari keterbatasannya, mengakui ketidakberdayaannya, dan datang kepada-Nya dengan hati yang hancur dan rendah. Sebab walaupun kita dibatasi oleh kelemahan, Tuhan tidak pernah dibatasi oleh keterbatasan kita.
“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.”
(2 Korintus 4:7)
Ketika kita mengizinkan Tuhan bekerja melalui kelemahan kita, Ia tidak hanya menolong, tetapi juga membentuk. Kita adalah bejana tanah liat, dan Tuhan adalah Sang Penjunan yang berdaulat. Ia tahu kapan harus membentuk, menghancurkan, dan membentuk kembali hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya yang terbaik.
“Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”
(Yeremia 18:4)
Selamat beraktivitas di akhir pekan, dalam perkenan-Nya.
STAY in GOD. Jaga kesehatan, tetap semangat dan antusias. Kiranya Tuhan Yesus melimpahkan rahmat-Nya senantiasa kepada kita semua.
Selamat menikmati divine breakthrough, divine solution, divine resolution, dan divine fission.
Abah Daniel

