KALEIDOSKOP 365 HARI: PERJALANAN SANG JURNALIS – DI MANA KAMERA MENANGKAP WARNA LUKA DAN KEBAHAGIAAN, DAN IDEALISME BERTUMBUH LEBIH KUAT

KALEIDOSKOP 365 HARI: PERJALANAN SANG JURNALIS – DI MANA KAMERA MENANGKAP WARNA LUKA DAN KEBAHAGIAAN, DAN IDEALISME BERTUMBUH LEBIH KUAT

Spread the love

Klikberita.net Hari ke-365 tahun 2025. Jam 06.30 WIB. Mentari pagi menyinar langsung melalui celah jendela kamar sewaan Alfian (32) di Gang Cibuntu, Kota Bogor – sinarnya menyentuh layar laptopnya yang masih menyala, menampilkan halaman website Suara Tanah Air yang telah melewati badai setahun. Dia berdiri, memegang kamera mirrorless baru (tipe Sony A6600) dengan erat – tali kameranya masih baru, berwarna hitam matte – dan memutar kaleidoskop kecil yang dia beli di Pasar Anyar Bogor pada awal tahun. Setiap putaran, pola warna baru muncul: hitam yang tak lagi gelap seperti malam tanpa bulan, putih yang lebih terang seperti salju pagi, merah yang membara seperti bara api, biru yang penuh harapan seperti langit setelah hujan. Begitulah perjalanannya: bukan cuma berputar, tapi berkembang – dengan detail yang terukir dalam ingatan dan kamera.

Jam 14.15 WIB. Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Udara panas dan lembab. Alfian berdiri di tepi trotoar, di antara ratusan warga yang mengadakan demonstrasi terhadap kebijakan pengalokasian anggaran daerah. Dia menunduk, mencatat setiap kata dengan pena pulpen hitam di buku catatan spiral putihnya: “Warga mengeluhkan proyek jalan yang terhenti selama 6 bulan, dana Rp 5 miliar tak jelas ke mana…” Matanya tetap tegas, fokus ke pucuk mikrofon yang dia pegang di tangan kiri. Tiba-tiba, seorang pria berbadan besar, mengenakan baju hitam tanpa tulisan, mendekatinya dengan cepat. “Apa yang kamu tulis?” teriaknya dengan suara kasar. Sebelum Alfian sempat menjawab, tangan pria itu memegang tangannya dengan kekuatan yang menyakitkan, merenggut kamera lama (Canon EOS 70D) yang tergantung di lehernya, dan melemparkannya ke aspal yang basah karena hujan tadi. “Bruk!” Suara lensa yang pecah terdengar jelas. Alfian melihat kamera itu tergeletak, lensa 18-135mm-nya pecah menjadi dua bagian, layar LCDnya retak. Tapi dia tidak menangis – dia hanya menggenggam buku catatannya dengan lebih erat, memasukkannya ke dalam tas ransel hitamnya. “Jika mereka mau merusak alat, berarti cerita ini penting. Saya tidak akan berhenti.” Dia berjalan pulang dengan kaki yang lemah, naik angkot Transjakarta rute 13 ke Gambir, lalu bis ke Bogor – sepanjang jalan, dia memikirkan kata-kata yang akan dia tulis tanpa kamera. Pola hitam yang menyelimuti, malah membuat dia lebih tegas.

Jam 09.00 WIB. Laporan berjudul “Bendungan Terlantar, Warga Desa Curug Hilang Akses Air Bersih – Di Mana Rp 3,2 Miliar Anggaran?” akhirnya terbit di website Suara Tanah Air. Alfian menekan tombol “Publish” dengan tangan yang sedikit gemetar – laporan itu adalah hasil penelitian 3 minggu: dia mengunjungi Desa Curug, Kabupaten Bogor, sebanyak 4 kali, wawancara 17 warga, 3 petugas desa, dan mendapatkan salinan dokumen anggaran yang rahasia. Hanya dalam 3 jam, artikel itu dibagikan 10.247 kali di WhatsApp dan Facebook. Jam 14.30 WIB, dia menerima pesan WA dari Bu Siti, seorang warga desa berusia 45 tahun: “Pak Alfian, terima kasih. Hari ini, kepala desa sudah mengadakan rapat bersama Dinas Pekerjaan Umum. Mereka bilang akan menyelidiki lagi!” Seminggu kemudian, tanggal Mei 22, Alfian kembali ke Desa Curug. Jam 10.15 WIB, seorang nenek berusia 70 tahun, nenek Siti, mendekatinya dengan berjalan perlahan, memegang tangannya: “Pak, hari ini kita dapat air bersih dari sumur baru yang dibuka. Semua karena kamu yang berani memberitakan.” Saat itu, cahaya matahari menyinari permukaan air sumur – sinarnya putih dan bersih, menyentuh wajah nenek Siti yang tersenyum. Alfian mengambil kamera teman (yang dipinjam) dan menangkap momen itu. Dia menyadari: berita bukan cuma untuk memberitakan, tapi untuk membuat perubahan yang nyata.

Jam 22.15 WIB. Telepon HP Alfian berdering – nomornya Budi, jurnalis podcast independen “Suara Rakyat”. Suara Budi terasa gemetar: “Alfian, aku baru saja dapet pesan WA dari nomor tidak dikenal. Dia bilang, ‘jika laporan tentang mafia tanah itu terus, kamu tahu apa yang akan terjadi’.” Alfian langsung bangkit dari kasur, menghubungi ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bogor, Pak Rudi, dan laporan ke Polsek Cibinong. Hari berikutnya, Juli 24, dia mengajak teman-teman jurnalis independen – sekitar 20 orang – berkumpul di Kedai Kopi “Kopi Hitam” di Jalan Siliwangi. Mereka membahas langkah-langkah perlindungan untuk Budi, membuat poster #BelaJurnalisIndependen, dan mengatur aksi damai. Hari Juli 27, jam 10.00 WIB, mereka berkumpul di Lapangan Banteng, Jakarta, membawa spanduk bertuliskan “Jurnalis Bukan Sasaran”. Ratusan warga bergabung, dan acara itu diliput oleh beberapa media nasional. Dalam seminggu, pemerintah mengeluarkan pernyataan untuk melindungi jurnalis, dan polisi mulai menyelidiki pengirim pesan ancaman. Saat mereka berkumpul lagi di Kedai Kopi, menangis bersama tapi tertawa juga saat makan kue basah, Alfian merasakan panas merah semangat solidaritas: kita tidak bisa menang sendirian, tapi bersama-sama, kita bisa menggerakkan dunia.

Jam 16.45 WIB. Alfian membuka email dari penyedia hosting (Niagahoster) – subjeknya: “Peringatan Pembayaran Hosting Domain SuaraTanahAir.com – Deadline 3 Hari Lagi”. Dia mengecek rekening bank BCA-nya: saldo hanya Rp 350.250. Hati dia berdebar kencang – website itu adalah rumah untuk semua laporan setahun, lebih dari 200 artikel dan 50 video. Tapi kali ini, Alfian tidak panik. Dia segera membuat postingan di Instagram @SuaraTanahAir_Indo: “Teman-teman, kita butuh Rp 4.750.000 untuk memperpanjang hosting. Mari buat program ‘Adopsi Domain’ – setiap yang mendukung, nama kamu akan tercantum di halaman ‘Penyokong Idealisme’. Setiap nominal, kecil atau besar, berarti banyak!” Dia juga menambahkan link donasi via OVO dan GoPay. Hasilnya mengejutkan: dalam 12 jam, donasi sudah mencapai Rp 3.575.000. Jam 08.30 WIB keesokan harinya, dia menerima notifikasi OVO dari seorang pengusaha kecil bernama Pak Anton: “Donasi Rp 1.000.000 – Pak Alfian, saya pernah dibantu laporanmu tentang masalah tanah di Cileungsi. Sekarang giliranku membantu kamu bertahan.” Alfian segera membayar hosting, dan halaman “Penyokong Idealisme” segera dibuat – ada 47 nama yang tercantum. Pola biru harapan muncul bukan cuma sebagai penyelamat, tapi sebagai model baru yang berkelanjutan.

Jam 07.15 WIB. Mentari sudah terbit sepenuhnya, sinarnya menyinari setiap sudut kamar sewaan. Alfian duduk di bangku di depan jendela, meletakkan kaleidoskop di punggung tangan dan kamera di pangkuan. Dia melihat ke luar – pohon beringin di halaman depan bergoyang lemah, burung kicau dengan suara yang merdu, dan segerombolan anak-anak berjalan menuju sekolah dengan tas yang tergeletak di punggung.

Dia memutar kaleidoskop sekali lagi. Pola warna yang muncul adalah campuran semua yang dia alami: hitam dari Maret, putih dari Mei, merah dari Juli, biru dari November – semuanya saling menyilang, membentuk pola yang lebih indah dan kompleks dari sebelumnya. Dia menyadari: hidup bukanlah tentang menghindari warna hitam, tapi tentang membuatnya menjadi bagian dari pola yang lebih besar – pola yang penuh makna.

“Selama 365 hari, saya berpikir bahwa keberanian berarti tidak takut. Tapi sekarang saya tahu: keberanian berarti takut, tapi tetap melangkah. Saya berpikir bahwa keberhasilan berarti memiliki banyak uang dan alat. Tapi sekarang saya tahu: keberhasilan berarti melihat nenek Siti tersenyum karena mendapatkan air bersih, melihat Budi aman karena solidaritas teman, melihat website tetap hidup karena dukungan publik.”

Dia mengangkat kamera, mengarahkan ke matahari yang sudah terbit tinggi, dan menekan tombol jepret – sinar matahari tercermin di lensa, membentuk lingkaran cahaya yang indah. “Kaleidoskop ini akan terus berputar besok, dan hari esoknya. Setiap putaran akan membawa warna baru – mungkin luka, mungkin bahagia – tapi saya tidak akan lagi takut. Karena setiap warna adalah bagian dari perjalanan, dan setiap perjalanan adalah bagian dari cerita yang saya butuhkan untuk berbagi.”

Dia berdiri, mengambil tas ransel dan kamera, dan menuju pintu. Jalan ke Kantor Pos Bogor – tempat dia akan meliput cerita baru tentang bantuan buku untuk anak-anak desa – sudah menunggu. Dan di sana, di jalan itu, matahari akan terus menyinari setiap langkahnya, menciptakan pola baru yang siap untuk ditangkap.

 

By Romo Kefas