Kebenaran yang Tak Gratis: Tentang Martabat Profesi di Tengah Budaya Serba Instan

Kebenaran yang Tak Gratis: Tentang Martabat Profesi di Tengah Budaya Serba Instan

Spread the love

Oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Di tengah derasnya arus digital, kita terbiasa hidup dalam kecepatan. Informasi hadir dalam hitungan detik. Berita berseliweran tanpa henti. Semua terasa mudah, cepat, dan seolah tanpa harga.

Namun ada satu hal yang sering luput dari kesadaran kita: kecepatan tidak pernah menghapus nilai. Ia hanya menyamarkannya.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Bukan untuk menegur dengan nada tinggi. Tetapi untuk melihat persoalan media independen dari sisi yang lebih tenang—sebagai persoalan martabat profesi di tengah budaya serba instan.

Kita hidup dalam budaya yang memanjakan persepsi bahwa hampir segala sesuatu bisa diperoleh tanpa biaya langsung. Media sosial gratis. Aplikasi gratis. Konten gratis. Maka tanpa sadar, kita membawa logika yang sama pada jurnalisme.

Padahal jurnalisme bukan sekadar konten. Ia adalah kerja intelektual yang menuntut verifikasi, tanggung jawab, dan keberanian.

Media independen berdiri di tengah arus ini. Mereka harus menjaga integritas di saat sistem mendorong kecepatan. Mereka harus mempertahankan kualitas di saat algoritma mengutamakan sensasi.

Ilusi “gratis” sering kali membuat kita lupa bahwa setiap berita memiliki proses dan biaya yang nyata.

Dalam banyak kasus, media independen tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan ekonomi, tetapi juga risiko sosial dan hukum. Satu kesalahan kecil bisa berujung pada tekanan besar. Satu pemberitaan bisa memicu reaksi keras.

Namun di balik semua itu, mereka tetap menjalankan fungsi kontrol sosial.

Bukan karena keuntungan besar.
Bukan karena fasilitas mewah.
Tetapi karena ada kesadaran bahwa ruang publik membutuhkan penjaga.

Dan penjaga ruang publik bekerja dengan tanggung jawab yang tidak ringan.

Versi viral sering kali menempatkan media sebagai pihak yang terluka dan publik sebagai pihak yang kurang peduli. Namun jika kita melihat lebih luas, persoalannya bukan semata hubungan dua pihak.

Ini tentang bagaimana masyarakat menilai profesionalisme.

Apakah kerja berpikir, menulis, dan memverifikasi kita anggap setara dengan pekerjaan lain yang jelas nilainya?
Apakah kita menempatkan informasi sebagai kebutuhan fundamental, atau sekadar hiburan digital?

Jika profesionalisme dihargai, maka dukungan akan mengikuti.
Jika nilai diakui, maka keberlanjutan akan terjaga.

Ekosistem digital saat ini memang tidak sepenuhnya seimbang. Platform besar menguasai distribusi dan keuntungan. Media kecil sering harus berjuang lebih keras untuk bertahan.

Namun justru di situlah letak maknanya.

Media independen menjadi simbol bahwa kualitas tidak selalu bergantung pada skala. Bahwa integritas tidak selalu lahir dari kelimpahan. Bahwa ketahanan moral sering tumbuh dalam keterbatasan.

Tulisan ini bukan ajakan untuk marah, melainkan ajakan untuk merenung.

Jika kita ingin ruang publik yang sehat, maka kita perlu membangun budaya yang menghargai proses. Menghargai verifikasi. Menghargai profesionalisme.

Kebenaran memang tidak gratis.
Namun ia menjadi mahal bukan karena angka—melainkan karena tanggung jawab yang menyertainya.

Dan ketika kita mulai melihat media independen sebagai bagian dari martabat ruang publik, bukan sekadar penyedia konten, di situlah kedewasaan sosial mulai tumbuh.

Karena pada akhirnya, kualitas informasi yang kita konsumsi akan menentukan kualitas keputusan yang kita ambil sebagai masyarakat.